Angkasa Pura 2

Pesona Gunung Tangkuban Parahu

DestinasiSenin, 9 April 2012
Gunung Tangkuban Parahu

Di Jawa Barat, khususnya di perbatasan Kabupten Subang dan Kabupaten Bandung terdapat tempat rekreasi yang sangat indah dan telah menjadi andalan pariwisata tatar Sunda, yaitu Tangkuban Parahu. Dinamakan Tangkuban Parahu atau perahu dalam bahasa Indonesia, karena bentuknya bila dilihat dari kejauhan menyerupai kapal atau perahu yang terbalik.

Nama Tangkuban Parahu sendiri tidak bisa dipisahkan dengan sebuah legenda tanah Sunda yang sangat terkenal, yaitu Sangkuriang. Kono, gunung ini akibat oleh kesaktian Sangkuriang yang gagal meyelesaikan tugasnya dalam membuat perahu dalam waktu semalam sebagai syarat menikahi Dayang Sumbi yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri. Karena begitu kesalnya tidak dapat menyelesaikan pembuatan perahu tersebut, akhirnya Sangkuriang menendang perahu yang belum jadi tersebut hingga mental dan jatuh terbalik. Mitos ini sudah menjadi dongeng turun-temurun di masyarakat.

Pesona gunung Tangkuban Perahu ini begitu mengagumkan. Selain pemandangan alamnya yang masih asri kehijauan. Gunung Tangkuban Parahu memiliki belasan kawah yang masih aktif dan mengepulkan asap berbau belerang. Selain itu, gunung ini salah satu gunung merapi terbesar di tanah pasundan.

Meskipun obyek wisata ini penuh diselimuti mitos, namun sentuhan ilmiahpun tidak ditinggalkan. Wisata alam ini hasil pembentukan gunung api dengan aktivitas berupa kawah, gejala mata air panas dan endapan belerang. Gunung ini sudah tidak aktif sejak letusan 1969. Hingga sekarang pun Gunung Tangkuban Parahu masih dinyatakan sebagai gunung merapi yang masih aktif. Meskipun demikian, para pengunjung tidak perlu kuatir Gunung Tangkuban Parahu akan meletus.

Di kawasan gunung yang memiliki ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut inilah belasan kawah yang bisa memanjakan pandangan mata kita. Salah satu kawah yang terbesar dan ramai dikunjungi wisatawan adalah Kawah Ratu. Posisinya persis di puncak Gunung Tangkuban Parahu.

Total keseluruhan kawah di kawasan ini mencapai 13 buah. Setiap kawah diberi nama unik di antaranya Kawah Domas dan Kawah Upas yang berada di dekat kawah utamanya yaitu Kawah Ratu. Bagai induk kawah-kawah kecil di sekitarnya, Kawah Ratu merupakan kawah terbesar di kawasan ini.

Kawah lainnnya adalah Kawah Badak, Kawah Jarian, Kawah Siluman, Kawah Ecoma, dan Kawah Jurig alias Kawah Hantu. Kawah-kawah lain sudah lenyap tertutup kawah yang terbentuk kemudian.

Menikmati pemandangan Kawah Ratu, laksana melihat mangkuk raksasa yang sangat besar dan dalam. Saat cuaca cerah, lekukan tanah pada dinding kawah demikian juga dasar kawah dapat terlihat cukup jelas sehingga mampu menyajikan pemandangan panoramic yang spektakuler. Kemegahan kawah yang begitu luas dan dalam, setidaknya mampu memaksa pengunjung untuk sejenak terdiam dan takjub akan kebesaran hasil karya Tuhan.

Puas menikmati Kawah Ratu, pengunjung bisa turun mengarah ke arah Kawah Domas. Jaraknya sekitar 1,2 kilometer dari Kawah Ratu. Tapi kita tidak perlu khawatir tersesat karena bisa menyewa jasa pemandu perjalanan dengan biaya antara Rp25 ribu – Rp50 ribu. Tergantung hasil tawar-menawar. Di sepanjang jalan menuju Kawah Domas, kita akan banyak ditawari telur mentah oleh pedagang. Telur ini bisa direbus di Kawah Domas.

Meskipun perjalanan ke Kawah Domas melelahkan, karena harus berjalan kaki, tetapi dijamin sesampainya di lokasi Anda bisa tertakjub-takjub melihat pemandangan dan kawah gunung dari dekat. Bahkan kita bisa merebus telur di kawah itu. Kita pun bisa merasakan langsung panasnya kawah.

Anda juga jagan melawatkan untuk mampir ke Kawah Upas, kawah terbesar kedua setelah Kawah Ratu. Jaraknya hampir sama dengan jarak antara Kawah Ratu dengan Kawah Domas. Kawah Upas memiliki dasar kawah yang dangkal dan datar, dengan pepohonan liar tampak banyak tumbuh di salah satu sisi dasar kawah. Pemandangan yang disajikan Kawah Upas ini memang cenderung “biasa-biasa” saja, namun dimungkinkan untuk menikmati pemandangan Kawah Ratu dari sisi yang berbeda, mengingat bibir Kawah Ratu dan Kawah Upas menyatu dalam bentuk satu jalur pendakian, dengan Kawah Ratu pada sisi kiri dan Kawah Upas pada sisi kanan.

Cinderamata

Setelah puas mengunjungi berbagai kawah, Anda bisa berkeliling ke kios-kios yanag menjual berbagai cinderamata. Kios-kios ini menawarkan beraneka kerajinan tangan Jawa Barat, seperti kaus, boneka, syal, serbuk belerang, bandrek instan, topi, kalung, gelang, alat musik angklung, dan lainnya. Tidak usah takut harganya kemahalan karena Anda diberi kebebasan penuh untuk menawar barang-barang yang mau dibeli. Jadi keahlian tawar-menawar mutlak diperlukan agar kantong tidak kebobolan.

Bila perut mulai minta di isi, tak perlu cemas. Selain warung-warung makanan dan minuman, di sini juga banyak para pedagang makanan dan minuman instan berkeliaran menjajakan kepada pengunjung yang ditemui.

Fasiltas umum seperti toilet dan tempat ibadah (mushala) juga tersedia di lokasi ini, demikian juga pusat informasi wisata yang siap memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan oleh wisatawan seputar wisata di Bandung, Subang, dan sekitarnya secara gratis.

Akses menuju Gunung Tangkuban Parahu bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum, termasuk bus. Jika Anda ingin backpacker-an atau menumpang kendaraan umum, dari kota Bandung pilih jurusan Terminal Ledeng. Kemudian oper ke jurusan Pasar Lembang. Nah, dari Pasar Lembang disambung angkot ke Desa Cikole. Biaya angkutan rata-rata Rp15.000-Rp30.000 per orang.

Bila Anda ingin datang dari arah Subang, dari Jakarta atau Terminal Kampung Rambutan naik bus dan turun di Terminal Subang dengan biaya sekitar Rp20.000. Dari terminal Subang cukup naik kendaraan jenis angkot satu kali yang mengarah ke Lembang, dan turun di Desa Cikole dengan ongkos sekitar Rp5.000 – Rp10.000. Sedangkan harga tiket masuk ke kawasan Tangkuban Perahu sekitar Rp8.000 per orang, belum termasuk asuransi, tiket kendaraan (mobil/motor). Nah, bagi yang penasaran, silakan mencoba. (*)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari