Angkasa Pura 2

Tommy Soetomo Sosok Cerdas & Salih Di PT Angkasa Pura I

FigurSenin, 9 April 2012
Tommy-Soetomo

Menyandang nama Tommy bisa dibilang keren sekaligus ngetop. Setidaknya ada nama Tommy Soeharto dan Tommy Winata, yang tergolong konglomerat. Di PT Angkasa Pura I, ada Tommy Soetomo, yang saat ini menjabat sebagai direktur utama (dirut).

Dia menjabat di posisi puncak di BUMN pengelola bandara tersebut sejak 23 Juli 2010. Sebelumnya kelahiran Cimahi, Bandung, Jawa Barat, tahun 1960, ini menjabat sebagai direktur keuangan PT Angkasa Pura II.

Begitu menjabat sebagai dirut, salah satu pekerjaan besarnya adalah menyatukan kembali keretakan di tubuh manajemen. Beritatrans.com mencatat, dia berhasil mengharmonisasikan lagi hubungan di internal manajemen dan antara manajemen dengan serikat pekerja.

Prestasi lainnya adalah, dia cerdas dengan menggeber investasi pengembangan bandara dengan bertujuan terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengguna jasa. Dalam konteks pelayanan, dia mencanangkan parameter penilaian customer satisfaction index (CSI).

Skala CSI dari 1 (tidak memuaskan) hingga 5 (memuaskan). Untuk tahun ini, penilaian CSI ini dilakukan oleh auditor independen yakni airport council international (ACI) dan LP3ES. Sebelumnya auditor adalah Indonesia National Air Carriers Association (Inaca).

Tahun lalu, pencapaiannya 3,57. “Ini masih jauh dari memuaskan. Tahun 2012, kami mencanangkan 2 bandara utama kami, yakni Makassar, Surabay dan Denpasar, akan dirating CSI-nya,” ungkap Tommy

Dengan investasi antara lain dapat mendorong CSI. “Kalau CSI-nya bagus maka duit yang datang semakin banyak, begitu juga keuntungan perusahaan makin besar. Ini memang orientasinya kepada pelayanan. Jangan gara-gara ingin laba gede tapi investasi ditahan, pelayanan jadi korban,” ujar pria yang dikenal pegawai PT Angkasa Pura I sebagai sosok yang alim ini, kemarin.

Dia mengemukakan laba bisa segera digenjot selain bisa melalui permainan angka, juga melalui usaha tidak berbuat apa-apa untuk meningkatkan pelayanan kepada pengguna jasa. “Stagnan aja. Nggak usah ada investasi untuk memperbaiki. Maka tidak ada belanja modal.(ffw)

Artikel Berikutnya →
loading...