Angkasa Pura 2

Tanah Labil Menghadang Jalur Ganda KA Semarang – Surabaya

EmplasemenJumat, 13 April 2012
Tundjung-Inderawan

Banyak kendala fisik terkait pembangunan rel ganda (double track) Surabaya-Bojonegoro-Semarang. Kendala itu diantaranya soal kontur tanah yang labil, terutama di wilayah Jawa-Timur.

Kendala fisik pembangunan rel sepanjang 190 kilometer dengan dana Rp 4,6 triliun itu dikemukakan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Tundjung Inderawan ketika meninjau kawasan Stasiun Tawang, Semarang, Kamis (12/4).

“Banyak titik rawan. Namun kita harus mencari dan memformulasikan solusinya sehingga seluruh pekerjaan tidak terganggu dan bisa tepat waktu,” tuturnya.

Dia menjelaskan sejumlah titik rawan itu ternyata lebih banyak dijumpai di wilayah timur ketimbang di wilayah barat yang tanahnya relatif lebih stabil. Titik rawan paling parah itu terdapat di jalur Surabaya – Bojonegoro.

“Ini karena tanah labil dengan pengaruh tingginya kandungan air yang jaraknya bisa antara 60 sampai 70 km. Jadi banyak permukaan air yang tinggi,” katanya.

“Jika rel ganda ini sudah jadi, nanti akan memerlukan maintainance lebih sering daripada di track yang stabil, karena dalam hitungan bulan, pun rel akan bisa bergeser atau bergelombang,” sambung Tundjung Inderawan.

Dirjen Perkeretaapian dan jajarannya memantau langsung untuk mengetahui sejauh mana kesiapan di lapangan. Peninjauan lapangan ini terkait dengan proses awal pembangunan fisik rel ganda, dari Surabaya-Pekalongan. Dirjen dan rombongan melakukan inspeksi lapangan dengan menggunakan kereta api khusus.(Adjie Pribadi).

loading...