Angkasa Pura 2

Konflik Lalu Lintas Sering Terjadi

KoridorJumat, 20 April 2012
pedestrian thamrin

Hasil survey di lapangan dan simulasi menunjukkan bahwa koridor-koridor utama di wilayah Jabodetabek yang menampung pergerakan komuter, memiliki kinerja di bawah standar ideal yang disyaratkan, terutama pada lokasi-lokasi yang mendekati DKI Jakarta, seperti Jalan Kali Malang, Jalan Raya Bogor, dan lain-lain.

“Penyebab utama dari kinerja yang rendah ini adalah defisiensi dan konflik lalu lintas pada koridor-koridor tersebut serta masih bercampurnya pergerakan regional dengan pergerakan yang menuju pusat aktifitas di wilayah DKI Jakarta,” kata Dirjen Perhubungan Darat Suroyo Alimoeso kepada beritatrans.com, Jumat.

Pada jam sibuk pagi, dia mengemukakan kemacetan yang dialami oleh koridor-koridor tersebut diakibatkan oleh kondisi bottleneck pada simpang-simpang utama, khususnya yang berada di dekat perbatasan wilayah Botadebek dengan DKI Jakarta.

Permasalahan di ruas-ruas tol Jabodetabek lebih disebabkan bottleneck pada awal jalan tol lingkar dalam untuk ruas tol jagorawi dan cikampek sebagai akibat adanya kebijakan 3 in 1 dan seimpang tol tomang untuk ruas tol tangerang.

PEDESTARIAN
Beberapa hal lain yang cukup berpengaruh pada sistem jalan, Suroyo mengutarakan adalah kurang disiplinnya masyarakat dalam memanfaatkan fasilias jalan. Fungsi trotoar dan jembatan penyeberangan sebagai fasilitas bagi pejalan kaki banyak disalahgunakan oleh oknum masyarakat untuk berniaga.

Kurang memadainya fasilitas bagi pedestarian juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap konflik pergerakan lalu lintas kendaraan dan orang pada lokasi khususnya di pusat kota.

“Karena dalam konstalasi tata ruang nasional, DKI Jakarta masih merupakan kota inti untuk lingkup Jabodetabek (PKN) maka konsekuensi logisnya hampir seluruh koridor utama di DKI jakarta sudah sangat bermasalah yang diindikasikan melalui VCR>0,85 dan kecepatan perjalanan <15km/jam,” jelas dirjen.

Selain dari besarnya beban volume lalu lintas, pengaruh dari jumlah kendaraan roda dua rata-rata mengambil porsi lebih 70% hampir disemua koridor. Selain itu juga akibat tingginya porsi kendaraan roda dua, kelompok pejalan kaki menjadi lebih rentan terhadap terjadinya kecelakaan, terutama pada saat harus menyeberang jalan. (Ali S)