Angkasa Pura 2

PT PANN Sediakan Rp1,3 Triliun untuk Pengadaan Armada

DermagaRabu, 25 April 2012
pt-pann

PT Pengembangan Armada Niaga Nasional atau PANN, perusahaan yang didirikan khusus untuk membiayai kapal tahun ini mengalokasikan dana sebesar Rp1,3 triliun guna mendukung program pengadaan armada.

Direktur Kepatuhan dan Managemen Risiko PT PANN Salman mengatakan, dana sebesar itu diharapkan dapat terserap untuk program kegiatan peremajaan armada serta menambah kapasitas ruang muat kapal niaga nasional.

Dia menjelaskan perseroannya berkomitmen kuat untuk membiayai program pengadaan kapal niaga yang diajukan perusahaan pelayaran. “Setiap tahun kami selalu mengalokasikan dana kredit hingga Rp1 triliun lebih,” katanya, kemarin.

Menurutnya peluang pembiayaan di sektor pengadaan kapal masih menjanjikan mengingat terus bertumbuhnya muatan laut domestik serta muatan ekspor dan impor yang kini sudah mendekati angka 1 miliar ton per tahun.

Di sektor angkutan domestik, katanya, kapal niaga nasional sudah mengangkut barang antaupulau atau pelabuhan hingga 100%, tetapi kapal-kapal tersebut perlu dukungan pembiayaan untuk digantikan dengan armada berusia yang lebih muda.

Adapun di sektor angkutan ekspor dan impor atau beyond cabotage, kapal berbendera Merah Putih baru mengangkut 9% dari total potensi muatan yang tiap tahun rata-rata mencapai 550 juta ton.

Salman mengungkapkan perseroannya mengincar pembiayaan kapal yang dioperasikan untuk kegiatan angkutan ekspor dan impor guna memangkas hilangnya potensi penerimaan negara melalui ongkos angkut.

PT PANN tahun ini akan membiayai pengadaan 6 unit kapal PT ASDP Indonesia Ferry senilai Rp600 miliar untuk dioperasikan di lintas penyeberangan Merak—Bakauheni, Bojoe—Kolaka, Ketapang—Gilimanuk, Padangbai—Lembar dan Nias—Sibolga.

Sebelumnya, Indonesia National Shipowners Association (INSA) memperkirakan sedikitnya 75% dari sekitar 11.000 unit kapal niaga nasional sudah berusia di atas 20 tahun sehingga perlu dilakukan program peremajaan.

Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto mengatakan kapal berbendera nasional tersebut sudah saatnya dibarukan agar terjadi peningkatan daya saing yang pada akhirnya dapat menciptakan alat angkut yang lebih murah dan efisien.

Dia memperkirakan sekitar 8.250 unit atau 75% dari total armada niaga nasional kini sudah memasuki usia yang perlu diremajakan. “Peremajaan kapal memerlukan dukungan pembiayaan yang tidak sedikit,” katanya.

Carmelita menjelaskan dana yang dibutuhkan untuk mendukung program peremajaan itu mencapai US$16,5 miliar dengan asumsi kebutuhan dana per kapal rata-rata US$2 juta. “Tetapi kebutuhan dana tersebut bisa lebih besar dari proyeksi.”

Kucurkan CSR
Dalam perkembangan lain, PT PANN menyiapkan Rp257 miliar untuk mensukseskan program pemerintah menanam 1 miliar pohon dengan melaksanakan program bina lingkungan tahun anggaran 2011 melalui penanaman 41.650 batang pohon.

Salman menjelaskan terjadinya tren penurunan luas lahan hutan serta meningkatnya lahan kritis di Pulau Jawa yang mengarah kepada terjadinya ketidakseimbangan ekosistem berpotensi memicu bencana alam.

Oleh karena itu, katanya, pemerintah meluncurkan program penanaman 1 miliar pohon untuk melawan dampak penurunan kawasan hutan di Indonesia akibat tingginya kerusakan kawasan hutan.
“Dalam rangka memasyarakatkan budaya membangun kembali hutan rakyat di pulau Jawa, PT PANN ikut berpartisipasi dalam program penanaman 1 miliar pohon dengan menyalurkan program bina lingkungan,” katanya.

Dia mengungkapkan eksploitasi hutan dan lahan secara massif pada satu decade terakhir telah menyisakan kerusakan lingkungan yang tidak bisa dianggap remeh karena saat ini terdapat 29,9 juta ha lahan di seluruh Indonesia dalam kondisi kritis.

Salman mengatakan selama ini PT PANN berkomitmen untuk melaksanakan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) guna mendorong kegiatan perekonomian masyarakat serta pemerataan pembangunan melalui perluasan lapangan pekerjaan.

Khusus selama 2011, PT PANN telah menyalurkan dana PKBL Rp638 juta sehingga selama ini, perseroan telah mengucurkan dana corporate social responsilibity atau CSR tidak kurang dari Rp16,9 miliar selama 1989 hingga 2011. (ffw)

loading...