Angkasa Pura 2

Koasi Bikin Semrawut di Tambun

KoridorSabtu, 2 Juni 2012
nindya1

Bekasi (Berita Trans) – Macet arus lalu lintas sekitar Pasar Tambun dan perlintasan kereta di samping Stasiun Tambun, Kabupaten Bekasi, menjadi pemandangan sehari-hari. armada angkot ngetem dan menyerobot sembarangan. Pengendara mesti stres melintas di sana.

Berita Trans memantau kemacetan yang terjadi nyaris terjadi setiap hari, sejak siang hingga malam, tersebut disebabkan oleh prilaku pengemudi angkutan perkotaan (angkot) Koperasi Angkutan Bekasi (Koasi). Sebagian besar pengemudi masih berusia muda. Sopir remaja itu menghentikan dan mengetem Koasi di badan jalan.

Belum lagi ketika pintu perlintasan kereta tertutup maka banyak angkot Koasi menyerebot jalur. Begitu pintu perlintasan terbuka maka terjadi kesemrawutan di atas rel. Kemacaten bertambah parah bila ada kendaraan besar, seperti truk atau bus, melintas.

Jumlah kendaraan Koasi yang melintas di jalur tersebut juga menjadi penyumbang besar kemacetan dan kesemrawutan arus lalu lintas. Dari Terminal Bekasi ke arah Tambun terdapat enam trayek Koasi yakni 16, 16c, 16B Graha, 16B Villa, 16A, dan 16B Taman Raya. Mereka harus berebut penumpang di kawasan pasar dan stasiun kereta.

“Kesel juga sih kalo pada ngetem, saya harus jalan ngejar koasi terdepan. Apa lagi ada beberapa supir yang bawa mobil ugal – ugalan. Main seruduk di rel kereta. Kayaknya nyawa nggak berharga banget. Sopirnya masih anak-anak sih,” keluh Pipit, penumpang Koasi, kepada Berita Trans, kemarin.

Memang beberapa supir koasi masih terbilang muda. Mereka mengendarai mobil dengan ugal – ugalan. Asalkan dapat banyak penumpang. Sebagian dari mereka, ada anak yang putus sekolah. Beberapa supir juga memakai jasa kenek. Kenek bertugas meneriakkan arah tujuan koasi tersebut. Saat koasi penuh, kenek akan menerima uang dari sang supir.

Dalam sehari, Koasi disewakan dengan harga Rp 70.000 – Rp 100.000. Supir memiliki target perhari, belum lagi uang bensin dan nafkah untuk keluarga. “Irit paling dapet Rp 30.000 klo penuh,” keluh Anggi, sopir Koasi. Koasi beroperasi hingga malam hari sekitar jam 9 malam.

BIKIN STRES
Sejumlah pengemudi kendaraan pribadi mengaku stres bila melewati perlintasan KA Tambun. “Mestinya setiap hari Pak Polisi bisa mengatur sepanjang hari. Jangan dibiarkan saja kesemrawutan ini. Karena, selain bikin stres, juga bisa membahayakan keselamatan,” ujar wihatma, pengendara Honda Jazz warga Kompleks Mangun Jaya Indah i, Tambun Selatan.
(Hasianidya L. Tobing, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara, Bekasi).