Sekilas Sejarah Sekolah Tinggi Transportasi Darat

SDMJumat, 15 Juni 2012
taruna sttd1

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pimpinan menengah di bidang lalu lintas jalan (calon Verkeers Inspecteur) pada tahun 1951 didirikan Akademi Lalu Lintas (ALL) dan diresmikan tanggal 8 September 1951 oleh Presiden Pertama Republik Indonesia (Ir. Soekarno).

Namun akademi ini hanya berhasil meluluskan satu angkatan (17 orang), yang sebagian besar lulusannya berhasil menduduki jabatan tinggi di Pemerintahan, khususnya di dalam sub sektor Perhubungan Darat (Nazar Nurdin, eks-Dirjen Perhubungan Darat adalah salah satu alumni ALL). Sejak tahun 1953 lembaga ini hanya melaksanakan pendidikan teknis setingkat diploma I dan diploma II untuk beberapa angkatan serta kursus-kursus singkat lainnya sampai dengan tahun 1964.

Memperhatikan kondisi transportasi darat yang kian berkembang dibutuhkan SDM Perhubungan Darat yang trampil dan profesional, sebagai kader pimpinan menengah Perhubungan Darat. Perkembangan teknologi transportasi jalan dan pertumbuhan kegiatan perekonomian masyarakat yang menyebabkan kompleksitas permasalahan lalu lintas dan angkutan jalan melahirkan gagasan untuk menghidupkan kembali akademi ini.

Atas prakarsa Ir Giri S. Hadihardjono, MSME (Dirjen Perhubungan Darat waktu itu), Herjan Kenasin, SE (Kapusdiklat Perhubungan Darat), dan Drs. Muchtarudin Siregar (Bappenas), diusulkan untuk menghidupkan kembali Akademi Lalu Lintas. Pada tanggal 5 Desember 1980 ALL dihidupkan kembali dengan nama BPL Ahli LLAJR yang menyelenggarakan Program Diploma III Ahli Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para lulusannya, khususnya tentang multimoda angkutan darat, melalui Keputusan Mendikbud No. 002/0/1991 tanggal 9 Januari 1991, BPL Ahli LLAJR menyelenggarakan Program Diploma IV Transportasi Darat.

Melalui pendanaan BLN, Program Studi Diploma III Ahli LLAJ dan Diploma IV Transportasi Darat dibangun dan selama 13 tahun (tigabelas tahun) ditumbuhkembangkan bekerjasama dengan UCL (University College London), sejak tahun 1980 sampai dengan 1993.

Lahirnya Undang-undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1990 setelah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah ini Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi, serta Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.686/U/1991 tentang Pedoman Pendirian Perguruan Tinggi, maka keberadaan Balai Diklat Ahli LLAJR tersebut diperlukan alih status dalam bentuk Perguruan Tinggi (Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut atau Universitas).

Pengalihstatusan tersebut baru terealisasi tahun 2000 melalui Keppres No. 41 Tahun 2000 Balai Diklat Ahli LLAJR dialihstatuskan menjadi Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) dengan mengistegrasikan Program Studi Diploma II Pengujian Kendaraan Bermotor di Tegal dan Program Studi Diploma III LLASDP di Palembang menjadi bagian Program Studi dari STTD Bekasi.

KERETA API
Atas inisiatif Dirjen Perhubungan Darat dan Kepala Badan Diklat Perhubungan pada tahun 2003 diselenggarakan Program Diploma III Perkeretaapian sebagai bentuk menghidupkan kembali Diploma III Ahli Teknik Kereta Api.

Dari awal pendiriannya sampai dengan saat ini keberadaan Program Studi di bawah STTD tersebut merupakan fenomena, dan secara bertahap meningkatkan kinerja sub sektor Perhubungan Darat di tingkat Pusat dan Daerah. Kebutuhan akan tenaga trampil yang dihasilkan STTD demikian besar, terbukti dari permintaan daerah baik secara tertulis melalui surat maupun lisan, serta formasi kepegawaian untuk lulusan STTD dari daerah dengan jumlah yang cukup tinggi.(aw).