Angkasa Pura 2

Lakukan Kuasi Reorganisasi, Nilai Nominal Saham Garuda Turun

KokpitKamis, 28 Juni 2012
RUPS Garuda

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA), Kamis (28/6), menyetujui Kuasi Reorganisasi perusahaan. Dengan demikian, nilai nominal saham BUMN penerbangan ini turun dari semula Rp500,00 menjadi Rp459,00.

“Setelah kuasi reorganisasi efektif berjalan, kata Emir, struktur permodalan Garuda dari semula sebesar Rp15 triliun berkurang menjadi sebesar Rp13,770 triliun. Sedangkan modal ditempatkan dan modal disetor dari semula Rp11,320 triliun menjadi Rp10,392 triliun,” kata Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dalam keterangan pers usai RUPSLB di Cengkareng, Banten, Kamis (29/6).

Menurut Emir, langkah kuasi reorganisasi perusahaan itu dalam rangka memperbaiki struktur ekuitas perusahaan, mempermudah pencarian dana untuk ekspansi usaha. Kuasi reorganisasi juga agar memungkinkan perusahaan membukukan saldo laba positif dan dapat membagi dividen.

“Juga untuk meningkatkan minat investor terhadap saham Garuda sehingga likuiditas perdagangan saham GIAA meningkat,” kata Emir.

RUPSLB itu juga memutuskan untuk meningkatkan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu dengan menambah saham seri B pemerintah sebanyak 12,07 juta saham dengan nilai US$611.341 atau senilai Rp5,5 miliar. Dengan penambahan saham seri B ini kepemilikan saham pemerintah di Garuda Indonesia bertambah 0,05 persen menjadi sekitar 69,14%. Sedangkan sisa saham yang sekiar 31% dikuasai oleh masyarakat.

Agenda RUPSLB lainnya adalah menyetujui pengangkatan Feter F Gontha sebagai komisari independen Garuda. Dengan masuknya pengusaha terkenal itu masuk ke jajaran komisaris, maka susunan dewan komisari Garuda saat ini adalah Komisaris Utama: Bambang Susantono Komisaris: Bambang Wahyudi Komisaris: Sonatha Halim Yusuf Komisaris: Wendy Arietang Yazid Komisaris Independen: Betti S Alisjahbana Komisaris Independen: Peter F Gontha.

Peter Gontha dikenal salah satu pengusaha nasional yang mendirikan Plaza Indonesia Realty (The Grand Hyatt Jakarta), Bali Intercontinental Resort, Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), Surya Citra Televisi (SCTV), PT Chandra Asri Indonesia, PT Tri Polyta Indonesia, Firstmedia, serta Indovision.

ATR-72
Pada kesempatan itu juga kembali bahwa perusahaannya tetap berencana membeli sekitar 50 pesawat ATR-72 dan Q-400. Pesawat berbaling-baling itu rencananya akan digunakan untuk melayani rute-rute pendek dan sulit di tanah air.

“Realisasinya paling cepat semester pertama tahun depan,” katanya.

Emir menepis anggapan bahwa rencana Garuda itu akan berdampak pada kebangkrutan PT Merpati Nusantara, sesama BUMN yang selama ini telah melayani rute-rute pendek. Ia mengaku rencana tersebut tidak lain sebagai pelaksanaan amanat pemegang saham yang telah disepakati dalam RUPS.

“Sekarang Garuda kan perusahaan terbuka, saham pemerintah cuma 69 persen. Sedangkan sisanya yang sekitar 31 persen milik masyarakat,” katanya.

Terkait denan rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia, dan T Angkasa Citra Sarana Catering Services (ACS), Emir menaku telah menunjuk PT Mandiri Sekuritas (Mansek) sebagai konsultan keuangan.

“Mereka yang akan menilai apakah sudah saatnya melakukan IPO atau belum. Kalau sudah, kapan? Satu tahun atau dua tahun lagi? dan berapa persen yang bisa kita lepas ke pasar,” kata Emir. (ali)

loading...