Capt Bobby R Mamahit, Bahagia Saat Taruna Diwisuda

FigurRabu, 1 Agustus 2012
Bobby R Mamahit

JAKARTA (Berita Trans) – Meniti karier dari level palin bawah, kini menjadi salah satu pejabat eselon satu di Kementerian Perhungan yang memiliki prestasi dan kinerja bagus. Tidak aneh bila pria kelahiran Jakarta 56 tahun lalu itu memiliki karier yang moncer.

Dialah Capt Bobby R Mamahit, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perhubungan. Di tangan dinginnya inilah kualitas SDM kementerian yang mengurusi sektor transportasi tersebut ditempa untuk menjadi yang terbaik.

Ia sadar bahwa salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan suatu bangsa adalah kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya, yang mampu menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta memiliki keterampilan, keahlian, dan sikap profesional dibidangnya.

Berdasarkan kenyataan itulah Bobby berupaya sekuat tenaga agar BPSDM Perhubungan selalu dapat menghasilkan lulusan yang prima, profesional, dan beretika. BPSDM juga melakukan terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan mutu lulusan, termasuk menyelenggarakan pendidikan berbasis kompetensi dan berorientasi pada upaya untuk menciptakan lulusan yang unggul secara nasional maupun internasional di bidangnya masing-masing.

“Saya paling bahagia bila menyaksikan para taruna dan taruni lembaga pendidikan BPSDM Perhubungan diwisuda,” ujar alumni Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) tahun 1979 ini.

Menurutnya, peranan transportasi sangat strategis dan sebagai urat nadi dan tulang punggung perekonomian, baik untuk tingkat nasional maupun global. Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya bidang transportasi melaju sangat pesat seiring dengan semakin kompleksnya tantangan yang harus dihadapi. Makanya ia sadar betul bahwa perwira-periwa lulusan lembaga pendidikan BPSDM harus memiliki kualitas dan kualifikasi yang mampu menjawab berbagai tantangan global tersebut.

“Hal yang paling penting, para lulusan lembaga pendidikan BPSDM Perhubungan mampu menghadapi dan beradaptasi dengan berbagai perkembangan serta dampak pengaruh yang timbul, sehingga mampu bersaing dengan bangsa lain,” ujar penerima penghargaan Satya Lencana Karyasatya 20 Tahun dan Satya Lencana Wirakarya inil.

Selama dua tahun mengemban tugas menjadi nakhoda BPSDM Perhubungan, ia mengaku masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tantangan di BPSDM ternyata tidak semudah yang diperkirakan. Sebab, berawal dari BPSDM inilah wajah transportasi nasional akan terlihat.

“Memang yang menjadi karyawan Kementerian Perhubungan tidak semuanya hasil didikan lembaga-lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan BPSDM. Tetapi BPSDM turut memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas seluruh insan perhubungan,” kata lulusan Lemhanas/PPRA XL I 2008 ini.

Dalam proses mencetak SDM Perhubungan yanag berkualitas pun tantangannya tidak mudah, terutama untuk mencapai target-target lulusan yang sesuai dengan kebutuhan. Hingga saat ini BPSDM masih sering kewalahan untuk memenuhi pasar tenaga kerja sektor perhubungan, khususnya para pelaut dan penerbang.
Sektor laut misalnya, saat ini, BPSDM Perhubungan dan sekolah-sekolah pelayaran milik swasta mampu mencetak sekitar 1.000 perwira pelaut. Padahal, hingga tahun 2014 mendatang kebutuhan terhadap perwira pelaut diperkirakan sekitar 18 ribu orang. Itu berarti potensi pasar perwira pelaut mencapai lima kali lipat di atas kemampuan BPSDM dan lembaga swasta.

“Kebutuhan penerbang pun sangat tinggi. Jumlahnya mencapai 1800 penerbang. Sementara kemampuan kita baru mampu menghasilkan lulusan sekitar 300 penerbang saja per tahun,” ujar ayah dari tiga putra dan putri ini.
Tantangan yang paling sulit diraskan oleh Bobby adalah dalam hal menyediakan tenaga-tenaga instruktur, terutama instruktur penerbang. Para pilot dan nakhoda biasanya lebih memilih bekerja di perusahaan swasta, bahkan perusahaan asing ketimbang menjadi instruktur.

“Tapi kita tidak bisa menyalahkan dan memaksa mereka juga. Penghasilan mereka bekerja di perusahaan swasta, apalagi perusahaan asing jauh lebih tinggi ketimbang hanya menjadi instruktur,” katanya.
Meskipun demikian, Bobby tidak patah semangat. Tekad untuk menyediakan SDM sektor transportasi yang berkualitas dan berdaya saing tinggi tetap menjadi tujuan utamanya, termasuk dalam memenuhi dari sisi kuantitas lulusannya. Bahkan BPSDM Perhubungan pun memiliki kewajiban untuk turut menciptakan insan perhubungan yang memilik nasionalisme dan semangat kebangsaan yang tinggi.

“Kami harus mampu menciptakan lulusan yang tidak hanya memiliki kualitas tinggi, tetapi juga memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Di manapun mereka bekerja,” ujar pria yang mulai berkarir di kapal tanker PT Pertamina ini.

Makanya Bobby selalu bersemangat ketika dia menjadi inspektur upacara pelantikan kelulusan taruna dan taruni BPSDM Perhubungan. Pasalnya, disamping rasa bangga yang merasuk ke dalam sanubarinya, ia pun bahagia melihat mereka berhasil melewati gemblengan lembaga-lembaga pendidikan BPSDM Perhubungan yang menerapkan sistem pendidikan yang sangat ketat.

“Hal itu dibuktikan dengan rata-rata 100 persen lulusan lembaga pendidikan BPSDM Perhubungan diserap oleh pasar kerja. Alumni-alumni BPSDM mampu mewarnai lingkungan kerjanya secara positif. Bahkan tidak sedikit yang telah memiliki jabatan tinggi di perusahaan atau tempat kerjanya,” ujar Bobby. (Aliy)