Angkasa Pura 2

Presiden SBY Pimpin Ground Breaking Pengembangan Bandara Soekarno – Hatta

BandaraThursday, 2 August 2012

JAKARTA (Berita Trans) —PT Angkasa Pura II (Persero) secara resmi akan memulai program pengembangan Bandara Soekarno-Hatta menjadi sebuah kawasan ”Aerotropolis”. Proses ground breaking sebagai tanda dimulainya pekerjaan fisik proyek tersebut dilakukan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis, 2 Agustus 2012.

Upaya untuk meningkatkan kapasitas bandara Soekarno-Hatta menjadi 62 juta pergerakan per tahun tersebut ditargetkan dapat terealisasi pada akhir 2014. Dalam acara yang juga dihadiri Wakil Presiden Boediono beserta sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II tersebut,Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko menjelaskan, pengembangan Bandara Soekarno-Hatta merupakan jawaban dari isu keterbatasan kapasitas yang terjadi.

Dengan daya tampung sebesar 22 juta pergerakan penumpang per tahun, Bandara Soekarno-Hatta melayani 51,5 juta pergerakan pada tahun 2011. Besarnya angka pergerakan penumpang tersebut menempatkan Bandara Soekarno-Hatta pada peringkat ke-12 dalam daftar bandara tersibuk di dunia versi Airport Council International (ACI).

Tri S Sunoko menegaskan, prosesi ground breaking menjadi momentum yang sangat penting bagi PT Angkasa Pura II, karena rencana pengembangan terhadap Bandara Soekarno-Hatta menjadi bandara internasional berkelas dunia yang dibanggakan tidak hanya menjadi cita-cita Angkasa Pura II.

”Akan tetapi menjadi harapan semua masyarakat dan bangsa Indonesia. Dengan pengembangan ini, kami berharap Bandara Soekarno-Hatta dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sesuai Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI),” paparnya.

Dijelaskan pula oleh Tri Sunoko, sebelum dilakukannya prosesi ground breaking ini, Angkasa Pura II telah melakukan sejumlah pekerjaan-pekerjaan pendahuluan. Antara lain melakukan pelebaran akses jalan utama P1 dan P2, melakukan perluasan apron dan membuat high speed rapid exittaxyway untuk meningkatkan kapasitas pergerakan pesawat.

Selain itu, menambah kapasitas boarding lounge di Terminal 1 dan 2, serta meningkatkan kapasitas parkir kendaraan pengantar dan penjemput di Terminal 1 dan 2. Selain itu, juga telah memulai pekerjaan pembangunan Main Power Station (MPS) baru berkapasitas 20MV, memulai pekerjaan penambahan tangki pengolahan air berkapasitas 4000 m³, serta melakukan penambahan-penambahan fasilitas pelayanan lain.

Untuk mempercepat proses pembangunan hingga mencapai kapasitas ultimate bandara sebesar 62 juta pergerakan penumpang per tahun, menurut Tri Sunoko, perseroan akan menerapkan pola design and bulid atau rancang dan bangun. ”Jadi, kami tidak akan menunggu desain rinci dari grand design selesai terlebih dahulu lalu baru mulai membangun. Tetapi akan membuat desain rincinya per modulasi, supaya bisa dikerjakan lebih cepat,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, grand design ataurencana induk baru Bandara Soekarno-Hatta telah mendapatkan persetujuan pemerintah dalamrapat yang dipimpin Wakil Presiden Boediono pada tanggal 24 Oktober 2010. Pada saat itu, Wapres Boediono juga menegaskan bahwa program revitalisasi Bandara Soekarno-Hatta ditetapkan sebagai prioritas nasional yang harus didukung oleh semua pihak.

Berbekal persetujuan tersebut, sebagai upaya tindak lanjut, Angkasa Pura II langsung membuat desain teknis rinci atau detail engineering design (DED). Semenjak turunnya persetujuan tersebut, manajemen BUMN tersebut terus bekerja secara marathon sambil terus mengupayakan untuk mempertahankan kualitas pelayanan di Bandara Soekarno-Hatta.

“Alhamdulillah, ground breaking bisa kita lakukan di tahun 2012 ini, seperti yang kami targetkan sebelumnya. Pada tahap awal ini, kita akan memulai pembangunan ini dengan meningkatkan kapasitas Terminal 3 dari saat ini 4 juta penumpang menjadi 25 juta penumpang,” papar Tri Sunoko.

AGENDA BESAR
Berkaitan dengan grand design Bandara Soekarno-Hatta, terdapat lima agenda besar yang akan menjadi fokus Angkasa Pura II dalam melakukan tahapan pengembangan. Fokus pertama adalah optimalisasi runway untuk meningkatkan kapasitas pergerakan pesawatpada landasan pacu 1 dan 2.

Selanjutnya, fokus kedua adalah melakukan pengembangan Terminal 3 serta merevitalisasi Terminal 1 dan 2 untuk menambah kapasitas pergerakan penumpang. Fokus ketiga adalah melakukan pembangunan terminal kargo baru (Cargo Village), dan fokus keempat adalah melakukan pengembangan fasilitas penunjang (aksesibilitas dan fasilitas lain seperti area bisnis dan komersial).

Kemudian, fokus yang kelima adalah membangun integrated building, yaitu bangunan penghubung antara T1 dan T2 yang multifungsi dan berkonsep one stop service. Integrated building tidak hanya sekadar menjadi bangunan penghubung, tetapi merupakan bangunan yang sarat dengan berbagai macam fasilitas pelayanan untuk pengguna jasa.

Sejumlah fasilitas yang berada dalam bangunan tersebut antara lain stasiun kereta api, moda transportasi antar-terminal tak berawak (people mover system), terminal bus, mal, hotel, area parkir, dan lain sebagainya.

OPTIMALISASI RUNWAY
Terkait optimalisasi landasan pacu (runway), Tri Sunoko menambahkan, upaya yang dilakukan adalah melakukan rekonfigurasi runway 1 dan 2 dengan menambah sejumlah taxiwayserta memperluas kapasitas area parkir pesawat (apron) dari 125 pesawat menjadi 174 pesawat. Sejalan dengan itu dilakukan pula program redistribusi slot time maskapai agar tidak menumpuk pada jam-jam tertentu, yang dibarengi dengan penambahan jam operasi hingga tengah malam pada sejumlah bandara tujuan.

Saat ini, pergerakan pesawat di Soekarno-Hatta telah mencapai rata-rata sebanyak 52 pergerakan per jam. Dengan mengoptimalisasikan kedua runway yang ada, kapasitas pergerakan pesawat dapat ditingkatkan hingga 62 pergerakan per jam. Optimalisasi landasan pacu ini adalah sebagai upaya mencapai ketercukupan daya tampung bandara sebesar 62 juta penumpang per tahun yang ditargetkan dapat tercapai pada 2014.

Kemudian, setelah kapasitas ultimate 62 juta penumpang per tahun telah tercapai, Angkasa Pura II juga akan merencanakan pembangunan landasan pacu ketiga berikut terminal keempat yang dialokasikan di sisi utara bandara. Pada awalnya, pembangunan runway ketiga dan terminal keempat adalah sebuah opsi. Tetapi dengan melihat tren pertumbuhan yang terjadi saat ini, maka pembangunan runway ketiga dan terminal keempat menjadi sebuah keharusan.

”Dengan tambahan runway dan terminal yang baru, daya tampung Bandara Soekarno-Hatta akan memiliki kemampuan untuk melayani hingga 87 juta pergerakan penumpang per tahun dan 234 pergerakan pesawat per jam. Upaya-upaya awal telah kami lakukan, antara lain melakukan pembebasan lahan secara bertahap sesuai kebutuhan hingga mencapai 830 hektare,” ungkap Tri Sunoko.

Pengembangan Terminal 3 dari kapasitas empat juta pergerakan menjadi 25 juta pergerakan per tahun akan disusul dengan revitalisasi Terminal 1 dan Terminal 2. Terminal 1 yang saat ini berkapasitas sembilan juta pergerakan per tahun, akan dikembangkan hingga 18 juta pergerakan per tahun.

Sedangkan kapasitas Terminal 2 akan dikembangkan dari sembilan juta pergerakan menjadi 19 juta pergerakan per tahun. ”Pengembangan Terminal 3 harus dilakukan lebih dulu agar operasional penerbangan yang ada sekarang tidak terganggu. Karena nantinya sebelum T1 dan T2 dikembangkan, seluruh kegiatan operasionalnya akan dialihkan ke Terminal 3,” jelas Tri Sunoko.(aw).