Angkasa Pura 2

Tiga Bulan, Double Track Semarang-Bojonegoro Selesai 21%

EmplasemenKamis, 9 Agustus 2012
Tundjung Semarang 1

SEMARANG (Berita Trans) – Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Tundjung Inderawan memberikan apresiasi yang cukup tinggi kepada satuan kerja (satker) proyek pembangunan double track koridor Semarang-Bojonegoro sepanjang 189 km. Pasalnya hanya dalam masa kerja tiga bulan, pembangunan fisik double track Semarang-Bojonegoro telah mencapai 21%.

“Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan masyarakat yang tinggal di sekitar rel kereta api, termasuk dukungan dari pemerintahan setempat,” kata Tundjung Inderawan saat meninjau lokasi pembangunan double track koridor Semarang-Bojonegoro, Rabu kemarin.

Menurut Tundjung, meskipun soal pembebasan tanah belum selesai semua, tetapi hingga sekarang relatif tidak ada masalah. Masyarakat bahkan sangat mendukung program double track.

“Tahun ini insya allah (pembebasan lahan, red) akan selesai,” ujar Tundjung yang didampingi Direktur Prasarana Perkeretaapian Ditjen Perkeretaapian Kemenhub Arief Heriyanto.

Kepala Satker rel ganda Semarang-Bojonegoro Hendy Siswanto mengatakan, pihaknya telah mendapatkan dukungan warga dari 132 desa di delapan kabupaten. “Kami telah mendapatkan ribuan tanda tangan warga yang tinggal di sekitar jalan rel dari 132 desa di delapan kabupaten sebagai bentuk dukungan dibangunnya double track,” kata Hendy.

Menurut Hendy, luas lahan yang dibebaskan untuk jalur ganda Semarang-Bojonegoro sepanjang 189 kilometer adalah 32 hektare, dan lahan yang ditertibkan 19 hektare. Sedangkan besarnya uang ganti untuk bangunan permanen sekitar Rp300.000 per meter persegi dan bangunan semi permanen sekitar Rp250.000 per meter persegi.

Teknologi Bambu
Pada kesempatan itu, Dirjen Perkeretaapian Tundjung Inderawan juga mengungkapkan bahwa ada beberapa bagian lahan yang terkena proyek double track Semarang-Bojonegoro yang labil dan relatif lembek sehingga rawan terjadinya pergerakan.

“Terutama di wilayah Kali Banger, Kelurahan Kemijen yang berlokasi sekitar satu kilometer dari Stasiun Tawang. Kondisi lahannya teridiri dari rawa-rawa,” ujar Tundjung.

Untuk menyiasati permasalahan tersebut, lanjut Tundjung, pihaknya memanfaatkan rekayasa teknis konstruksi matras bambu untuk pengerasan tanah hasil temuan prof Dr Ir Masrur Irsyam, Phd dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sejumlah pekerja sedang memasang cerucuk bambu di kali Banger.

Tundjung menjelaskan, teknologi bambu tersebut berupa tiga batang bambu yang diikat menjadi satu dan dijadikan sebagai tiang pancang pada setiap interval satu meter. Kemudian yang berfungsi sebagai dindingnya menggunakan anyaman bambu yang dilapis sebanyak lima lembar.

“Penggunaan konstruksi bambu ini adalah yang ke tiga kalinya setelah di Kalimantan dan Sulawesi, Di Kalimantan malah berada di tengah pantai,” kata Tundjung.

Hari Rabu (8/8), terlihat beberapa pekerja masih terkonsentrasi di jembatan Kali Banger, Kemijen. Namun di areal perairan, sudah tidak ada lagi pekerjaan, menyusul sepanjang 1,5 kilometer areal sudah rata dengan tanah.

Menurut Tunjung, disamping banyak tanah yang labil dan lembek, jalur Semarang-Bojonegoro ini rata-rata didominasi dengan lahan yang jauh dari pemukiman penduduk. Akibatnya, Satker harus membuat akses jalan kerja yang melewati lahan milik penduduk. Sehingga konsekuensinya jalan milik warga tersebut mengalami sedikit kerusakan sebagai akibat sering dilewati oleh kendaraan alat-alat berat. Konsekuensinya, ketika proyek ini selesai, jalan masyarakat itu harus dikembali ke kondisi semula.

“Untuk itu kami berharap mendapat dukungan dari pemerintahan setempat. Termasuk dukungan dari Kementerian Pekerjaan Umum atau dinas terkait, khususnya untuk perbaikan jalan provinsi dan kabupaten,” kata Tunjung. (Aliy)

loading...