Proyek Rel Ganda Pantura Bikin Warga Laba Berganda

EmplasemenJumat, 10 Agustus 2012
aw1

BREBES (Berita Trans) - Warga Desa Bulak Paren, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menjadi sumringah. Lingkungan tempat tinggal mereka menjadi tak kumuh lagi. Tertata rapi, lebih bergengsi dan bahkan mereka menyebut menjadi sekelas kompleks mewah Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang.

Di rawa-rawa yang berada di muka permukiman mereka sudah terhapus menjadi jalan beton selebar tiga meter. Di pinggir jalan tersebut terdapat tembok memanjang dengan arsitektur model kraton. Agar drainase tetap terselenggara dengan baik maka dibangun selokan parmanen selebar satu meter.

“Kami amat bersyukur karena pemerintah memperhatikan kepentingan dan kebutuhan kami,” ujar Suwarto saat bersama ratusan warga lainnya dan kepala desa Haryono berdialog dengan Dirjen Perkeretaapian Tundjung Inderawan di RT 03 RW 04 desa tersebut.

Dia menyebut desa sudah menjadi sekelas kompleks BSD. Bisa jadi pernyataan itu berlebihan, tetapi ungkapan itu menjadi representasi betapa bahagianya warga karena adanya proyek pembangunan rel kereta api ganda (double track) jalur pantai utara (pantura) Jawa antara Cirebon-Surabaya. Proyek itu membebaskan sebagain lahan mereka, terutama di sisi selatan jalur kereta.

“Kami juga bangga desa kami kedatangan jenderal. Baru kali ini ada jenderal datang,” cetus Suwarto disambut tawa Tundjung dan rombongan. Pria itu rupanya salah pemahaman soal jabatan direktur jenderal (dirjen), yang disamakan dengan pangkat di kepolisian atau militer.

KAYA MENDADAK
Kepala desa Haryono mengemukakan warganya, yang sebagian di antaranya berdagang Kaki-5 di kawasan Jabodetabek, termasuk BSD, merasa status sosial lebih baik setelah permukiman mereka tak lagi kumuh. Hampir setiap sore mereka berjalan-jalan santai di jalan baru. Melalui jalan itu, warga mendapat ruang publik untuk bersosialisasi dan membangun kebudayaannya sendiri.

Tak sekadar status sosial, kepala desa mengungkapkan level ekonomi warga ikut terangkat, bahkan banyak mendadak jadi orang kaya baru. “Itu karena harga tanah menjadi naik hampir tiga kali lipat setelah adanya proyek. Belum lagi banyak warga kami dilibatkan untuk bekerja di proyek,” jelasnya.

Tak seperti pertemuan pejabat dan warga yang memang sudah disetting sebelumnya, dialog itu tampak diwarnai aksi-aksi spontan. Warga berebut mencium tangan Dirjen Tundjung Inderawan, juga bergantian minta dipotret dengan pejabat eselon I tersebut.

PARTISIPASI WARGA
Kepada Harian Terbit, Tundjung menjelaskan proyek double track memang direncanakan dan didesain tak hanya melulu soal membangun prasarana perkeretaapian untuk meningkatkan kapasitas jalan, tetapi juga diorientasikan sebagai salah satu upaya pemerintah membantu warga di lokasi sekitar proyek.

Salah satu formulanya adalah menggelar proyek padat karya. “Dalam konteks ini, kami memberi semacam syarat bagi kontraktor untuk sanggup melibatkan sebanyak mungkin tenaga kerja lokal atau warga setempat,” jelasnya.

Selain itu, warga juga dilibatkan sebagai train watcher. Mereka bekerja mengamankan kereta yang lewat di lokasi proyek. “Ada ribuan tenaga train watcher sepanjang koridor Cirebon – Surabaya. Alhamdulillah, ternyata karena ada train watcher, pekerjaan proyek menjadi lebih lancar,” ungkapnya.