Angkasa Pura 2

Kisah 30 Jam Terjebak Macet Mudik Lebaran

KoridorMinggu, 26 Agustus 2012
Pantura Macaet 1

JAKARTA (Berita Trans) – Mudik lebaran hari raya idul fitri 2012/1433 H kali ini diwarnai oleh peristiwa kemacetan yang sangat luar biasa di sepanjang jalur pantai utara (pantura), khususnya mulai ruas tol Cikampek, Karawang hingga Pamanukan, Subang, Jawa Barat. Bahkan pada puncak mudik yang terjadi pada Sabtu (18/8) lalu, pemudik dari Jakarta butuh sekitar 30 jam untuk sampai ke Pamanukan, Subang, Jawa Barat. Padahal pada hari normal Jakarta – Pamanukan hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 2,5 jam saja.

“Macetnya parah banget. Perasaan lebaran tahun kemarin enggak gini-gini amet. Masa dari Cibinong (Bogor, red) ke Pamanukan sampe 30 jam. Malah di daerah Cikampek sempat gak bergerak nyaris dua jam,” kata H Widodo, warga Bojong Gede, Bogor yang mudik ke daerah Klaten, Jawa tengah.

Dia bersama keluarga berangkat dari Bogor setelah shalat Jumat, sekitar pukul 14:00, tetapi baru bisa melewati Pamanukan pada hari Sabtu, menjelang pukul enam sore. Itu berarti dia menghabiskan waktu nyaris 28 jam untuk jarak yang tidak sampai 200 km tersebut.

Kemacetan yang paling parah menurutnya sejak dari menjelang pintu tol utama Cikarang. Terus merayap cenderung macet hingga KM 50 dan benar-benar berhenti sejak di KM 60-an.

“Kenapa (macet, red) bisa separah kemarin itu. Dulu-dulu gak terlalu. Ampir saja saya gak bisa shalat ied di kampung,” gerutu H Widodo.

Pengamat transportasi Hendrowiyono mengatakan, kemacetan jalur pantura pada musim angkutan lebaran tahun ini memang bisa dikategorikan sangat luar biasa. Penyebab utamanya tentu saja karena volume kendaraan yang melebihi kapasitas jalan. Selain itu, kata dia, pengaturan dari pihak kepolisianpun tidak optimal, termasuk lemahnya law enforcement di lapangan.

“Kalau saya perhatikan, kemacetan itu terjadi selain karena memang jumlah kendaraan yang berpuluh kali lipat dari kapasitas jalan, tetapi juga pengaturan dari pihak kepolisian kurang tegas,” kata Hendro.

Menurutnya, salah satu penyumbang kemacetan di jalur pantura adalah para pedagang dadakan yang membangun kios-kios di kiri dan kanan sepanjang jalan pantura. Bahkan tidak sedikit dari para pedagang itu menempatkan barang daganganya hingga memakan badan jalan.

“Sayangnya, pada saat-saat seperti itu, law enforcment dari pihak kepolisian kurang. Polisi tidak bisa mengambil sikap tegas untuk melarang mereka berjualan hingga ke pinggir jalan. Bahkan polisi justru cenderung menjadi fasilitator bagi para pedagang-pedang itu,” kata Hendro.

Padahal menurut Hendro, ulah para pedagang seperti itu jelas-jelas merupakan salah satu pelanggaran lalu lintas yang mestinya ditindak tegas. “Termasuk juga terhadap para pengguna kendaraan bermotor yang melanggar, khususnya pengendara sepeda motor. Sudah jelas dalam aturannya bahwa penumpang sepeda motor tidak boleh lebih dari dua orang, tetapi polisi tetap membiarkan sepeda motor yang ditumpangi oleh tiga sampai empat orang,” tegasnya.

Makanya menurut Hendro tidak aneh bila jumlah angka kecelakaan dan yang meninggal dunia pada musim angkutan lebaran kali ini sangat tinggi. Sesuai undang-undang, penegakan hukum lalu lintas itu adalah kewenangan kepolisian.

“Jadi mestinya polisi harus berani menindak tegas para pelanggar hukum lalu lintas, kapan pun dan pada saat kondisi apapun. Jangan karena alasan saat musim lebaran, terus polisi bersikap kompromistis kepada para pelanggar lalu lintas itu,” kata Hendro.

Senada dengan Hendro, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan, penanganan angkutan mudik lebaran tahun ini yang dilakukan oleh kepolisian, khususnya polantas lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya. Strategi polantas yang melakukan pagar betis di daerah-daerah rawan seperti pada tahun-tahun lalu, tahun ini tidak dilakukan.

“Memang Polri membuat satu cek poin di Bekasi-Karawang, tetapi itu ternyata tidak banyak membantu,” kata Neta.

Pengaturan lalu lintas juga kacau, terutama yang terjadi pada ruas tol Cikampek yang mengarah ke arah jalan pantura. Kendaraan yang keluar dari pintu tol Kopo, Cikampek tidak langsung diarahkan ke simpang Jomin, tetapi terlebih dahulu malah diarahkan melalui jalan arteri yang melewati pasar Cikampek. Padahal, polisi semestinya tahu kalau melewati pasar Cikampek itu kemungkinan terjadinya macet semakin besar. Apalagi tidak jauh dari pasar Cikampek juga ada stasiun kereta api dan perlintasan sebidang yang mengarah ke Bandung.

Selain itu, jalan anteri Cikampek juga merupakan jalan utama pantura dari arah Karawang yang nota bene jalur yang akan dilalui bus-bus AKAP yang keluar dari pintu tol Dawuan dan jalur utama para pemudik yang menggunakan sepeda motor.

“Dengan pengaturan semacam itu, makanya tidak aneh bila terjadi kemacetan hingga puluhan jam,” kata Neta.

Selain itu, kata dia, Polri tidak mengajak instansi lain dalam hal mengurangi kepadatan arus mudik yang melalui jalur pantura. Padahal, seharusnya polri bisa mengajak serta TNI, baik TNI AD, TNI AU, maupun TNI AL untuk turut serta mengurangi kepadatan di pantura.

“TNI kan bisa mengerahkan secara maksimal armada-armada yang mereka miliki seperti kapal KRI ataupun pesawat hercules. Bus dan truk milik TNI angkatan darat juga banyak yang bisa dioptimalkan untuk mengangkut para pemudik,” ujarnya.

Menurut Neta, dengan berkurangnya kepadatan jumlah pemudik yang melewati jalur pantura, maka kemungkinan terjadinya kecelakaan pun bisa ditekan. Sebab, bagaimana pun kecelakaan juga turut menyumbang terjadinya kemacetan di jalan raya.

“Ke depan, polri jangan egois. Perlu meminta bantuan kepada instansi lain, terutama TNI untuk bersama-sama mengurangi kepadatan arus mudik yang melewati jalur pantura,” tuturnya. (aliy/aww)

loading...