Angkasa Pura 2

Polri Mesti Cegah Jalan Raya Menjadi The Killing Fields

KoridorSelasa, 28 Agustus 2012
kecelakaan pemudik

JAKARTA – Jalan raya kembali mempertegas posisi sebagai The Killing Fields. Mudik Lebaran yang mestinya menjadi fasilitator rakyat bersilaturahmi Idul Fitri, justru merupakan bencana dan semacam mesin pembunuh massal. Setiap tahun angkanya sangat besar.

Hanya 16 hari saja selama penyelenggaraan angkutan Lebaran tahun 2012 saja, sebanyak 908 orang kehilangan nyawa. Data ini diungkapkan Kepala Biro Penmas Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar dalam jumpa pers di Gedung Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (27/8/2012).

Dia mengutarakan korban meninggal dunia tersebut akibat 5.233 kasus kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan tersebut ada persentase kenaikan per hari sebanyak 6 persen dan korban meninggal 15 persen jika dibanding 2011 di periode yang sama.

Selain menyebabkan korban tewas, kecelakaan juga mengakibatkan 1.505 orang luka berat serta 5.139 luka ringan. Musibah itu menimbulkan kerugian materil diperkirakan sebesar Rp 11.815.475.012.

Sepeda motor menempati urutan teratas dalam kecelakaan tersebut yakni sebanyak 5.634 unit. Sedangkan kendaraan pribadi sebanyak 1.188 unit, 276 bus, dan 658 mobil barang dan 13 kendaraan khusus serta 101 kendaraan tidak bermotor. Kelalaian manusia (human factor) menjadi faktor dominan penyebab kecelakaan tersebut.

“Kalau kita melihat peristiwa kecelakaan lalu lintas, memang ada persentasi kenaikan. Rata-rata per hari ada kenaikan 6 persen, meninggal dunia 15 persen jika dibandingkan data 2011,” jelas Boy.

Tahun lalu, Mabes polri melansir soal angka kecelakaan lalu lintas selama Operasi Ketupat (23 Agustus-4 September) menyebutkan jumlah 4.006 kasus atau naik 33,08 % dibandingkan tahun 2010 berjumlah 3.010 kasus.

Mabes Polri melansir bahwa Human Error (kesalahan manusia) merupakan faktor yang paling utama penyebab terjadinya kecelakaan pada mudik lebaran 2011. Sehingga, angka kecelakaan pada musim mudik tahun ini naik 30 persen dibanding tahun lalu.
Data kepolisian soal angka kecelakaan lalu lintas selama Operasi Ketupat (23 Agustus-4 September) menyebutkan jumlah 4.006 kasus atau naik 33,08 %. Sementara, pada tahun 2010 hanya 3.010 kasus.

“Rata-rata kecelakaan itu perorangan, kendaraan dipacu berkecepatan tinggi dalam kondisi pengemudi lelah melewati tikungan. Kebanyakan, akibat Human Error,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Anton Bahrul Alam di Mabes Polri, Senin (6/8/2011).

Meski angka kecelakaan meningkat, dia mengungkapkan jumlah korban tewas untuk mudik tahun 2011 relatif turun. Pada 2011, ada 661 orang tewas, turun 11 persen dibanding tahun lalu, yakni sebanyak 746 orang.

Namun, jumlah korban yang mengalami luka-luka mengalami kenaikan. Dari data yang ada, angka korban luka berat naik 155 orang atau 15,91 %. Pada 2010, sebanyak 974 orang dan 2011 sebanyak 1.129 orang. Luka ringan naik 902 atau 46,90 % pada 2010 sebanyak 1.923 dan 2011 sebanyak 2.825.

Bila melihat data korban meninggal dunia selama mudik Lebaran tahun 2012, dapat diketahui rata-rata 57 orang tewas sia-sia setiap hari. Sedangkan tahun 2011, 41 pemudik wafat setiap hari. Tahun 2010, 60 orang meninggal dunia.

AKSI KONKRET
Tingginya angka kecelakaan mudik Lebaran setiap tahun semestinya menjadi bagian dari kebijakan pemerintah untuk memformulasikan langkah-langkah efektif untuk mencegah dan menangani kecelakaan lalu lintas. Tak sekadar aksi-aksi seremoni, tetapi aksi konkret sehingga kecelakaan dapat seminimal mungkin walau tak mungkin sampai posisi nol.

Formulasi itu tak hanya berlaku untuk periode angkutan Lebaran tetapi dapat diaplikasikan sepanjang hari hingga langit runtuh. Kita mesti bahu-membahu untuk memformulasi dan menerapkan program pencegahan kecelakaan lalu lintas.

Lengah sedikit saja untuk memprfomulasikan dan menerapkannya maka akan semakin banyak rakyat Indonesia yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Korban tewas ini bila diakumulasi jauh lebih besar ketimbang akumulasi korban meninggal dunia selama perang dunia I dan II.

Data jumlah kecelakaan yang dilansir Mabes Polri menunjuk¬kan, sepanjang 2011 lalu terjadi 106.129 kecelakaan lalu. Muisbah ini mengakibatkan 30.629 orang tewas, 35.787 orang luka berat dan 107.281 orang luka ringan. Jum¬lah ini naik 2,27 persen dibanding tahun 2010. Sedangkan kerugian material mencapai Rp 278,4 miliar.

DISASTER MANAGEMENT
Jelas bahwa kecelakaan lalu lintas juga menyebabkan kerugian materil berupa harta benda maupun kerugian materi lainnya. Dari kompleksitas kerugian yang ditimbulkan serta dampaknya maka kecelakaan lalu lintas dapat dikategorikan sebagai salah satu sumber bencana (disaster) yang perlu dianalisa secara komprehensif oleh pihak kepolisian sebagai motor penyelenggaraan fungsi lalu lintas di Indonesia.

Kenapa mesti Polri? Karena pada ayat 3 Pasal 226 Undang-Undang (UU) No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, tertulis jelas bahwa Penyusunan program pencegahan Kecelakaan Lalu Lintas dilakukan oleh forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di bawah koordinasi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Selain itu, UU No 2 tahun 2002 tentang Polri mewajibkan polisi untuk melindungi dan mengayomi masyarakat, termasuk di dalam aktivitasnya di jalan.

3 LANGKAH
Dalam konteks kecelakaan lalu lintas sebagai salah satu sumber disaster (bencana) maka diperlukan metoda analisa berdasarkan perspektif Disaster Management ,yang merupakan pengembangan dari Disasterology (salah satu cabang ilmu pengetahuan tentang bencana).

Bila berbasis konsep teori Disaster Management, yang diintroduksi Prof. Drs. Rusdibjono, Eko, Pem , MA dalam pada pidato pengukuhan Guru Besar IIP pada tanggal 29 Mei 1995, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam 3 bagian yang perlu dibahas dalam memformulasikan pencegahan kecelakaan lalu lintas.

Pertama, faktor-faktor mendasar yang mempengaruhi meningkatnya kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Kedua, mengapa penerapan kebijakan publik yang bersifat inovatif oleh Polri, namun belum menunjukkan sistem kerja dan hasil yang bersifat efektif dan permanen.

Ketiga, bagaimana langkah-langkah alternatif atau strategi yang perlu segera dilakukan pemerintah dalam hal ini Polri sebagai fungsi utama pelaksana manajemen lalu lintas dalam menanggulangi peningkatan kecelakaan lalu lintas sebagai salah satu sumber disaster.(agus w).

loading...