Angkasa Pura 2

Indonesia-Australia Kerjasama Keamanan Perbatasan

DermagaSelasa, 4 September 2012
Basarnas

Pemerintah Republik Indonesia dan Australia mengukuhkan kerjasama keamanan laut, termasuk operasi penyelamatan kemanusiaan di kawasan perbatasan. Kerjasama kedua negara itu didasari pada ketentuan internasional Search and Rescue (SAR).

Kerjasama itu ditandai dengan penandatangan kesepakatan kedua negara yang masing-masing diwakili Menteri Perhubungan EE Mangindaan dan Menteri Transportasi Australia Anthonny Albanasse di Jakarta, Selasa (4/9).
Kesepakatan itu diantaranya soal pertukaran pegawai, bantuan dibidang teknologi untuk mengadopsi kemampuan masing-masing negara.

Menhub mengatakan, banyak yang bisa diambil dari kerjasama itu dan Indonesia berkepentingan untuk terus merapatkan diri, terutama dalam bidang SAR untuk kemanusiaan, yang didasarkan kepada kesepakatan internasional.

“Australia membutuhkan kita, kita juga memmbutuhkan. Makanya kerjasama ini terus dilakukan. Pokoknya, untuk kemanusia kita terus dukung,” kata Mangindaan.

Kerjasama di bidang kemanusiaan itu, kata Mangindaan telah dirintis cukup lama. Tahun 2008 sudah ada kerjasama serupa dan pertemuan, kemarin itu adalah lanjutan dari pertemuan bilateral pada Juli 2012, terkait dengan SAR yang di dalamnya ada enam point kesepakatan yang aka ditindak lanjuti pada pertemuan berikutnya.

“Kan ada enam poin yang disepakati dan itu terus ditindaklanjuti. Dengan kerjasama ini akan banyak kemudahan, khususnya ketika kita menghadapi masalah kemanusiaan,” kata Mangindaan.

Disebutkan, nantinya pesawat-pesawat Australia yang menjalankan misi kemanusiaan dapat diberikan kemudahan mengudara dan mendarat di wilayah hukum Indonesia. Pembentukan forum SAR rutin untuk saling infornasi dan praktek secara intrnasional diantaranya memfasilitasi perizinan (diplomatic clearence) terhadap pesawat kemanusiaan Australia ketika melaksanakan operasi SAR bersama Indonesia.

“Kegiatan ini dilakukan melalui paket kerjasama, yang telah berjalan dengan baik selama 5 tahun terakir,” kata Mangindan.

Albanasse menjelaskan lewat kerjasama itu nantinya semua, informasi dan komunikasi terus dilakukan. Diantaranya soal deteksi kapal-kapal nelayan dan kapal pengungsi.

“Untuk mmendeteksi itu, kita punya satelit yang cukup canggih dan itu bisa dimanfaatkan mendeteksi kapal,” kata Albanasse.

Indonesia dan Australia juga terus meningkatkan kerja sama dalam penanganan masalah keamanan laut, terutama terkait “people smuggling” (imigran gelap) karena selama ini wilayah perairan Indonesia selalu menjadi jalur para pencari suaka yang berlayar menuju Australia.

Pembicaraan bilateral RI-Australia digelar sejak Senin (3/9) hingga Rabu (5/9) di Jakarta. Dari Australia ada tiga menteri yakni Menteri Pertahanan Stephen Francis Smith, Menteri Infrastruktur dan Transportasi Anthony Albanese, dan Menteri Material Pertahanan, Dalam Negeri dan Hukum Jason Dean Clare. Sementara dari Indonesia, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perhubungan EE Mangindaan, dan Menristek Gusti Muhammad Hatta. (aliy)

loading...
Terbaru
Terpopuler
Terkomentari