Angkasa Pura 2

2030, Kecelakaan Lalu Lintas Bakal Jadi Pembunuh Kelima di Dunia

KoridorMinggu, 23 September 2012
Kecelakaan 1a

JAKARTA (Berita Trans) – Tahun 2030, kecelakaan lalu lintas diperkirakan bakal menjadi penyebab angka kematian nomor lima dunia. Kepadatan kendaraan serta perilaku berkendara selama ini menjadi penyebab utama tingginya kecelakaan di Indonesia.

Korps Lalu Lintas Polri mencatat, sejak Januari hingga Juli 2012 sudah 15.612 orang tewas di jalan raya. Ratusan miliar rupiah kerugian diderita dari 69.435 kecelakaan yang terjadi. Jumlah kecelakaan meningkat drastis saat musim mudik lebaran 2012/1433 H kemarin.

Menurut Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Pol Pudji Hartanto, Polri selama ini tak henti-hentinya menyosialisasikan pentingnya disiplin di jalan raya. Pasalnya, kesadaran berlalu lintas harus terus ditumbuhkan dalam diri setiap pengguna jalan.

“Kesadaran berlalu lintas harus berasal dari diri sendiri yang dijadikan kebiasaan,” kata Pudji di sela-sela peringatan Hari Ulang Tahun Lalu Lintas Bhayangkara ke-57 di Jakarta, Minggu (23/9).

Faktor kelalaian manusia selama ini menduduki posisi puncak pemicu kecelakaan lalu lintas. Tingginya akan kematian akibat kecelakaan ini membuat badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization) menjadikan lalu lintas sebagai masalah kesehatan.

Tahun 2011, negara-negara anggota PBB mencanangkan program Decade of Action for Road Safety 2010-2020 (DoA). Dengan program ini ditargetkan tahun 2020 angka korban tewas akibat kecelakaan di jalan raya turun hingga 50 persen.

Karena itu, Pudji mengajak seluruh masyarakat ikut berpartisipasi dalam program keselamatan diri di jalan. Sosilasasi mulai dilancarkan hingga menjadikan anak-anak menjadi sasaran edukasi.

“Ini tidak bisa dilakukan Polri sendiri tapi semua pemangku kebijakan yang lain terutama masyakat,” kata Pudji.

Polri sendiri menurut Pudji akan terus menjalankan upaya preemtif berupa pendidikan, imbauan, dan sosialisasi tentang keselamatan berkendara. Selain itu upaya pencegahan dengan menjalankan patroli, pengawalan, penjagaan serta pengaturan lalu lintas.

Tindakan represif berupat tindakan tegas juga akan dilakukan sebagai langkah terakhir. Bentuknya berupa tilang dan teguran pada pelanggar lalu lintas.

Hingga pertengahan tahun lalu tercatat sudah 3,62 juta tindakan berupa tilang dan teguran diberlakukan oleh petugas atas pelanggaran lalu lintas yang terjadi. (aliy)