Angkasa Pura 2

Jin Akhirnya Rela Kerajaannya Tergusur Jalur Ganda KA

EmplasemenSenin, 8 Oktober 2012
watu longok1-edit

PEKALONGAN – Tak hanya urusan fisik, proyek jalur ganda kereta di ruas Cirebon – Surabaya juga mesti berhadapan dengan persoalan ghaib. Tentu saja tak terlihat mata, tetapi nyata terasa.

Urusan mistik itu kental dirasakan saat mengerjakan proyek Km 46 + 400 sampai dengan Km 53 + 500 atau antara Plebuan – Krengseng di lintas Pekalongan – Semarang, Jawa Tengah.

Proyek, yang dilaksanakan oleh kontraktor PT Asta Perdana bekerja sama dengan PT Adhi Karya, tersebut mesti merekonsialisasi tambak, sawah, dan delapan bukit dengan posisi berbatasan langsung dengan Pantai Utara Jawa.

Perbukitan dengan tanah berbatu itu. Masyarakat setempat menamai masing-masing perbukitan itu. Bukan tempat sembarangan bila dilihat dari perspektif mistik. Watu Longok dianggap sebagai tempat keramat.

Menurut Bambang Indriyanto, direktur PT Asta Perdana, bukit Randu Gumbolo merupakan istana jin antara lain Ilulu dan Banaspati. Posisinya di Km53.00 sampai Stasiun Pelabuhan.

Kemudian bukit Pesangrahan (KM 52.500), yang dipercaya masyarakat sebagai istirahat tempat Nyi Lanjar (penguasa pantai laut utara jawa. Nyi lanjar sering menampakkan diri di wilayah tersebut.

Juga ada Watu Panyung dan Sumur Maung di KM 49.400, yang dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para tokoh jin, dan oleh sejumlah warga dipergunakan untuk memohon permintaan rezeki. Juga ada Watu Gantung Anoman di KM 49, yang menurut kepercayaan orang stempat merupakan lokasi pertapaan tokoh pewayangan Anoman.

Selain itu, Bukit Sendang Balai kembang di KM 47.400, yang dipercaya sebagai petilasan Syeh Gluput dalam melakukan penyebaran islampertama di wilayah tersebut.Makam Syeh Gluput terletak diatas Bukit Sendang Balai Kambang.

Mata air balai kambang yang dipercaya bisa membuat awet muda dan dapat memudahkan urusan rezeki serta jodoh. Secara kasta mata di daerah tersebut, termasuk di sepanjang Alas Roban, banyak terdapat banyak berbagai macam binatang ular.

Ada juga makam Ki Bagus Banteng dan Ki Brontok di KM 47.900, yang dipercaya sebagai tokoh babat Alas Roban. Ziarah ke lokasi ini dipercaya akan memudahkan segala urusan.

Terakhir, bukit Watu Longok, yang dipercaya sebagai tempat berlabuhnya Syeh Maulana Magribi, seorang penyebar agama Islam di tanah Jawa, sebelum era Wali songo.

Masyarakat setempat percaya bukit ini sebagai tempat berkumpulnya para jin yang digambarkan dalam tokoh-tokoh pewayangan (penunggu Alas Roban). Watu Longok juga dipercaya sebagai tempat bagi telik sandi Mataram untuk melihat musuh yang datang dari arah laut (dibuktikan dengan bekas tapal kuda yang masih menempel pada bebatuan di Watu Longok.

3 ORANG WAFAT
Membabat bukit dan tempat keramat tersebut, Bambang mengutarakan ternyata mesti berhadapan dengan kenyataan meninggal tiga pekerja dalam waktu berdekatan. Di antara mereka adalah operator traktor dan buldoser.
“Belum lagi, sering kali alat-alat berat mati mesinnya. Masyarakat sekitar dan pekerja bilang, pekerjaan proyek diganggu jin.

Karenanya, saya meminta bantuan Kiai Dimyat dan Habib Lutfi. Beliau-beliau itu banyak merekomendasikan berbagai langkah yang bisa dilakukan, seperti tahlilan atau syukuran di lokasi. Alhamdulillah, setelah syukuran atau tahlilan, pekerjaan jadi lancar,” ujarnya.

Bahkan traktor atau buldoser tidak bisa mencapai lokasi karena terhalang bukit sehingga pekerjaan dihentikan pada siang hari, Bambang mengemukakan paginya alat berat itu sudah pindah ke lokasi yang dituju.

“Kalau pekerjaan manusia itu tak mungkin. Makanya setelah digelar tahlilan, jin bukan cuma tidak mengganggu lagi setelah kerajaannya digusur, tetapi juga ikut membantu. Bukit-bukit bisa cepat rata dengan tanah,” ungkapnya.(agus wahyudin).

← Artikel Sebelumnya
Artikel Berikutnya →
loading...