Angkasa Pura 2

Air Asia: Akuisisi Batavia Masih Butuh Banyak Waktu

KokpitSenin, 15 Oktober 2012
Batavia 1

JAKARTA (Berita Trans) – Proses akuisisi maskapai penerbangan Batavia Air oleh AirAsia masih memerlukan yang waktu dan usaha yang lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini akibat berbagai perbedaan budaya dari ke dua perusahaan tersebut.

“Dari awal kami tahu bahwa ini tidak akan menjadi transaksi yang mudah. Akan tetapi, kami mendapat pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga terutama dalam hal mengembangkan usaha kami di Indonesia,” kata CEO Grup AirAsia, Tony Fernandes, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (15/10).

Meskipun demikian, AirAsia mengaku tetap akan melanjutkan kerjasama dengan Batavia Air dan mengembangkan usahanya di Indonesia, termasuk rencana penawaran saham perdananya ke publik atau initial public offering (IPO).

“Kami berpikir, waktunya (akuisisi, red) mungkin kurang tepat karena dapat menimbulkan banyak risiko serta dapat mempengaruhi para pemegang saham kami,” katanya.

Setelah melakukan studi dan proses diskusi yang panjang, menurut Tony Fernandes, berbagai perbedaan budaya dari kedua perusahaan telah menimbulkan perubahan pada persetujuan awal.

Managing Director Batavia Air Alice Tansari mengatakan, semua pihak telah bekerja dengan keras untuk mewujudkan transaksi ini.

“Namun, yang paling utama untuk ke dua maskapai penerbangan adalah terus menyediakan layanan dan pilihan yang terbaik untuk para pengguna jasa transportasi udara di Indonesia, dan perjanjian kerja sama kami akan dapat mendukung hal tersebut,” kata Alice Tansari.

Menurutnya, perjanjian baru antara pihak-pihak terkait telah disusun ulang dan akan lebih memfokuskan pada kerja sama di dalam penanganan operasional di darat, distribusi, dan sistem inventaris.

Sebelumnya, maskapai penerbangan AirAsia, melalui AirAsia Berhad dan PT Fersindo Nusaperkasa, pemegang saham mayoritas PT Indonesia AirAsia, mengumumkan kepada media bahwa mereka akan mengakuisisi Batavia Air dengan nilai pembelian US$80 juta. (aliy)

loading...