Angkasa Pura 2

Kredit Motor Mudah, Supir Angkot Resah

OtomotifRabu, 24 Oktober 2012
Angkot 2

JAKARTA (Berita Trans) – Mudahnya persyaratan pengajuan kredit dan murahnya angsuran sepeda motor baru, menjadi alasan masyarakat yang kini mulai meninggalkan transportasi umum seperti Angkutan Kota (Agkot).

Semakin berkurangnya penumpang, pendapatan supir Angkotpun menurun drastis. Jika di Tahun 2000 mereka bisa mendapat Rp150.000 per hari, di tahun 2012 hanya Rp30.000 per hari.

Waktu menunjukkan pukul empat sore, teriknya matahari masih terasa di permukaan kulit. Iwan (57), sudah dua puluh tahun menjadi supir Angkot T26 jurusan Kali Malang-Rawa Mangun.

Warga Bintara, Jakarta Timur ini mengaku pendapatannya kian berkurang. Sambil menghitung lembaran demi lembaran uang lusuh pecahan seribu, ia mengisahkan suka dukanya menjadi supir.

“Kita mah kalo ojek, busway gak ada pengaruh sama setoran. Nah, sekarang kan udah banyak yang ngredit motor. Daripada duit abis buat ongkos, mending buat ngambil motor.” ucap Iwan.

Dengan menyetor uang muka mulai dari Rp500.000, menyerahkan fotokopi KTP dan Kartu Keluarga (KK), kreditor sudah mendapatkan 1 unit sepeda motor baru. Angsuran mulai dari Rp1 jutaan perbulan, tidak memberatkan mereka yang berpenghasilan lebih dari Rp1,5 juta perbulan.

HARGA TERMURAH
Banyak perusahaan leasing yang berlomba menawarkan kredit motor dengan harga termurah. Serta memberikan hadiah dan diskon untuk pembelian motor tertentu. Cara ini mampu menarik minat calon pembeli, dan terbukti kini sepeda motor terbanyak digunakan di Jakarta.

Jika jumlah pengguna motor semakin bertambah, dan Angkot mulai ditinggalkan bagaimana nasib supir beserta keluarganya. Iwan yang memiliki enam anak mengaku resah dengan keadaan ini. Dengan pendapatan pas-pasan ia harus mencukupi kebutuhan keluarga.

“Kalo dulu 150.000 kan udah gede banget, cukup banget dah buat hidup. Tapi sekarang Rp30.000 ya harus dicukup-cukupin.” ucap Iwan sambil tersenyum.

Iwan menyimpan sedikit harapan. Angkotnya harus tetap jalan, bukan ia seorang yang bergantung pada angkot. Masih ada puluhan supir lainnya yang bernasib sama dengannya. “Kalo bisa sih pembelian sepeda motor harus dibatasin pemerintah, biar kita bisa tetep narik,” kata Iwan.

Pemerintah harus bisa mengajak masyarakat tetap menggunakan Angkot sebagai transportasi umum, seperti yang dilakukan Gubernur Jakarta yang baru menjabat selama dua pekan Joko Widodo. Gubernur gencar membenahi transportasi sebagai solusi mengatasi kemacetan di wilayah utama.

Peningkatan fasilitas, seperti tempat pemberhentian (halte), peremajaan armada, penertiban supir yang tidak memiliki SIM dan sering ugal-ugalan di jalan. Memberikan kenyamanan dan keamanan bagi penumpang yang ingin diberikan agar transportasi umum efektif digunakan.
(Fildzah Salimi/mahasiswa Universitas Bhayangkara, Bekasi)

loading...
Terbaru
Terpopuler
Terkomentari