Angkasa Pura 2

Dirjen Hubdat, Suroyo Alimoeso: Angkutan Umum Jabotabek Harus Terintegrasi

KoridorKamis, 22 November 2012
Suroyo

JAKARTA (beritatrans.com) – Pelayanan angkutan umum di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) harus terintegrasi dan berdasarkan satu kesatuan sistem transportasi. Hal ini untuk meningkatkan minat masyarakat menggunakan transportasi umum. Sehingga dengan demikian, kemacetan di jalan raya bisa dikurangi.

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Dirjen Hubdat Kemenhub) Suroyo Alimoeso kepada beritatrans.com di Jakarta, hari ini.

Suroyo mengatakan, Program Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB) yang baru-baru ini diluncurkan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta adalah salah satu cara untuk mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Meskipun demikian, keberadaan APTB harus juga melihat angkutan umum yang telah ada sebelumnya, sehingga tidak terjadi tumpang tindih.

“Prinsipnya, angkutan perbatasan itu semestinya lebih kepada untuk menjemput penumpang di lokasi-lokasi yang jauh dari jangkauan angkutan umum,” kata Suroyo.

Ia mencontohkan, angkutan perbatasan mengangkut penumpang dari terminal-terminal kecil di perumahan-perumahan diangkut ke terminal atau setasiun terdekat untuk melanjutkan perjalanan ke kantor atau lokasi tujuan lainnya.

“Terpenting, ada jaminan kesediaan armada dan waktu pemberangkatan yang pasti. Misalnya headway antar kendaraan dilakukan antara 5 hingga 10 menit, tergantung pada jam sibuk atau tidak,” tuturnya.

Menanggapi kondisi panjang dan lebar jalan di Jabotabek yang cenderung stagnan dan tidak bertambah, Soeroyo mengaku tidak khawatir. Asalkan ada keberpihakan pemerintah daerah terhadap angkutan umum.

“Jalan sepanjang dan selebar berapa pun selama pemerintah daerah lebih mementingkan kendaraan pribadi, tetap saja orang enggan menggunakan angkutan umum dan jalan raya tetap macet,” katanya.

Makanya Suroyo cenderung kurang setuju mengurangi kemacetan dengan cara membangun jalan raya, termasuk jalan tol. Ia lebih setuju membangun sarana dan prasarana transportasi yang bersifat massal, seperti MRT berbasis jalan rel.

“Logikanya sederhana saja, dengan menambah luas dan panjang jalan raya, sama artinya dengan menyediakan kenyamanan kepada para pemilik kendaraan pribadi. Lebih parah lagi, dengan bertambahnya luas dan panjang jalan, mereka yang biasanya hanya mengeluarkan satu mobil pribadi, bisa menjadi dua dan tiga mobil pribadi yang dikeluarkan. Akibatnya, jalanan tetap macet,” tegasnya.

Suroyo mengakui, membangun angkutan berbasis jalan rel tidak murah, bahkan bisa dikatakan sangat mahal. Tetapi demi kepentingan masyarakat umum dan kemajuan bangsa, mestinya sebesar apapun biaya yang dikeluarkan tidak menjadi soal. Sebab, dampak ke depannya akan luar biasa, baik dari sisi ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan.

“Dan dampak yang paling terasa nantinya adalah timbulnya efisiensi dan efektifitas bertransportasi karena masyarakat lebih senang menggunakan angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi,” tuturnya. (aliy)

loading...
Terbaru
Terpopuler
Terkomentari