Angkasa Pura 2

Pro-Kontra MRT Layang

Rubrik Iskandar AbubakarJumat, 30 November 2012
Iskandar Abubakar 1

Setiap kebijaksanaan besar pasti akan ada pro dan kontranya, kalau semua dituruti maka pekerjaan ini tidak akan mulai-mulai dan semakin lama pula kita akan mempunyai MRT. Padahal kita sama-sama mengetahui cepat atau lambat bahkan sebenarnya sudah sangat terlambat kita harus mempunyai rail based mass transport untuk mengatasi kebutuhan angkutan Jakarta.

Idealnya solusi yang dapat diberikan adalah membuat underground secara keseluruhan seluruh MRT, namun biayanya akan meningkat lebih dari 100 persen (biaya elevated dibanding dengan bawah tanah kurang lebih 1 babding 2,2 kali). Sebagai informasi tambahan yang bisa disampaikan Singapura pada saat pertama sekali membangun MRT kurang dari 30 persen dari lintasan yang dibangun dibawah tanah, termasuk sebagian dari lintas-lintas baru masih dibangun dengan konstruksi layang.

Dampak Positif Pembangunan MRT
Kekawatiran masyarakat disana terutama bahwa dibawah jalur akan menjadi kumuh karena mereka bercermin pada kasus jalur layang kereta api antara Manggarai dengan Kota, yang pada gilirannya harga properti mereka turun. Tetapi kita harus melihat lebih jauh kenapa itu menjadi kumuh? Hal ini terjadi karena lintasan KA melalui lintasan eksklusip KA berbeda dengan lintasan di Fatmawati yang dibawahnya merupakan jalan hidup sehingga tidak akan mungkin muncul tempat tinggal ilegal dibawah jalan layang MRT seperti halnya yang terjadi di bawah jalan layang antara Cawang – Tanjung Priok.

Satu tambahan menarik lainnya yang akan diperoleh bagi warga yang bertempat tinggal di sekitar lintasan MRT adalah bahwa harga tanah disekitar lintasan akan meningkat dengan drastis berdasarkan berbagai pengalaman di negara-negara yang menerapkan system angkutan massal, hal ini biasanya di capture oleh pengembang (dalam hal ini pemerintah dan pemilik lahan disekitar lintasan) untuk meningkatkan nilai termasuk meningkatkan non core income, yang bisa diartikan bahwa perbaikankan akses akan meningkatkan nilai.

Berdasarkan kajian yang dibuat oleh Pan dan Zhang dikatakan bahwa pembangunan lintas MRT baru akan berdampak besar terhadap perubahan tata ruang disekitar lintas yang dibangun termasuk akan terjadi peningkatan nilai tanah yang terkait dengan jarak stasiun, semakin dekat dengan stasiun metro semakin mahal harga tanahnya. Hal yang sama juga terjadi di Manila seperti yang dapat dilihat perubahan tata ruang yang sangat besar.

Gambar atas menunjukkan tata ruang sebelum lintas kereta dibangun dan dibawah setelah lintas kereta api massal cepat dibangun.

Dengan demikian kekawatiran masyakat disekitar lintas MRT layang tidaklah beralasan, sebab sebenarnya mereka memperoleh berkah yang luar biasa akibat peningkatan nilai harga tanah dikawasan tersebut.

Saran Kepada Pemda DKI Jakarta
Langkah yang perlu dilakukan adalah sosialisasi kepada masyarakat dengan menonjolkan manfaat dan peningkatan peluang bisnis bagi masyarakat disekitar lintasan MRT.

Peningkatan nilai tanah ini harus di tangkap oleh pemerintah Daerah melalui instrument peningkatan Pajak Bumi dan Bangunan dan pajak-pajak lain yang diperoleh karena adanya peningkatan kegiatan di kawasan pengaruh lintasan MRT.

Untuk menghindari kecurigaan masyarakat, terhadap projek itu sediri maka proses pengadaannya dan pembangunannya harus dilakukan secara transparan, akuntabel, partisipasi dan diawasi secara seksama. (*)

loading...