Angkasa Pura 2

Komisi V DPR Desak Stop Uber-uber Deviden Gede Pengelola Bandara

BandaraSenin, 10 Desember 2012
rinaldo-edit

MEDAN (beritatrans.com) – Komisi V DPR melihat Bandara Kuala Namu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, berpotensi menjadi hub dan mampu mengalahkan Bandara Changi, Singapura.

“Kita optimis Kuala Namu bisa menggeser posisi Changi sebagai hub untuk penerbangan ke seluruh penjuru dunia. Kami Komisi V DPR amat mendukung upaya menempatkan Kuala Namu menjadi bandara world class di atas Changi,” cetus Nusyirwan Soejono, ketua rombongan Komisi V DPR, saat meninjau Bandara Kuala Namu.

Karena keinginan mulia itu, politisi PDIP tersebut mengimbau kepada seluruh pihak, termasuk warga dan pemda, untuk ikut bahu-membahu mempercepat penyelesaian Bandara Kuala Namu, serta ikut menjaga bandara tersebut saat beroperasi nanti.

Dia mengingatkan keberadaan bandara di suatu wilayah hendaknya dinilai dari dua persepktif yakni lokal dan nasional. “Secara lokal, keberadaan bandara tentu ikut mendorong perekenomian daerah dan kemakmuran warganya. Secara nasional, bandara menjadi salah satu mesin penggerak perekenomian,” ujarnya.

Dalam konteks itu, Nusyirwan meminta agar semua pihak menempatkan posisi strategis bandara sebagai pemacu perekenomian, bukannya sumber pendapatan. “Jangan malah menempatkan bandara sebagai sumber pendapatan dan keuntungan secara material. Jangan (PT Angkasa Purea II, red) diuber-uber untuk deviden besar kepada negara,” tegasnya.

BUKAN INVESTASI
Direktur Komersial Kebandarudaraan PT Angkasa Pura II Rinaldo J Aziz mengamini pernyataan Nusyirwan. “Bandara ini dibangun pemerintah bersama PT Angkasa Pura II bukan dalam perspektif investasi, tetapi berorientasi kepada peningkatan pelayanan, sekaligus pemacu perekenomian” jelasnya.

Kalau dalam perspektif investasi, Rinaldo menegaskan maka semestinya berbasis kepada kalkulasi berapa lama waktu uang kembali serta margin atau laba dari dana yang ditanam untuk investasi.

Proyek pembangunan Bandara Kuala Namu, dia mengingatkan berbicara tentang infrastruktur karena yang diharapkan adalah peningkatan pelayanan, juga perkembangan daerah dan negara. Terutama mengembangkan industri dan pariwisata.

Rinaldo mengemukakan PT Angkasa Pura II mengucurkan dana sekitar Rp2 triliun untuk membangun Bandara Kuala Namu. Dengan biaya sebesar itu, bila dihitung dari persepektif bisnis (investasi), maka bisa berpuluh-puluh tahun uang kembali dan belum tentu kembali.

“Kalau didepreasiasi 20 tahun saja maka Rp100 miliar/tahun. Padahal selama ini dari Bandara Polonia, Medan, saja labanya tidak sampai Rp100 miliar,” ungkapnya sambil menambahkan untuk bayar listrik 25 MPA, Bandara Kuala Namu menghabiskan biaya Rp5-7 miliar/bulan.

Biaya akan membengkak lagi karena dibutuhkan biaya untuk operasional, perawatan dan tenaga kerja pengelola bandara. “Bandara belum beroperasi saja, kami mesti harus mengeluarkan uang miliaran rupiah setiap bulan untuk bayar listrik, perawatan dan tenaga kerja,” cetusnya.

PROGRES
Mengenai progres pembangunan Bandara Kuala Namu, Kepala Project Implementation Unit (PIU) Bandara Kuala Namu PT Angkasa Pura II, Djoko Waskito, mengutarakan sejauh ini untuk pembangunan terminal, appron dan lahan parkir masih di atas target.

“Dari sisi kewajiban PT Angkasa Pura II dalam pembangunan Bandara Kuala Namu, siap sebelum dimulainya shadow operation pada Maret 2013,” tegasnya.
(agus wahyudin).

loading...