Angkasa Pura 2

Kemenhub Aktifkan Kembali Jalur Kereta Api Kedungjati-Tuntang

EmplasemenSenin, 14 Januari 2013
Ambarawa 2

SEMARANG (beritatrans.com) – Setelah 42 tahun berhenti beroperasi, yakni sejak 1 Juni 1970, jalur kereta api antara Stasiun Kedungjati, Grobogan dengan Stasiun Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengan (Jateng), akhirnya diaktifkan kembali.

Pengaktifan jalur ini ditandai dengan Memorandum of Understanding (Mou) atau Penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) di Stasiun Ambarawa, Senin (14/1/2013).

Kesepakatan bersama ini masing-masing ditandatangani oleh Dirjen Perkeretaapian Tundjung Inderawan, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, dan Sekretaris Perusahaan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Yayat Rustandi, mewakili Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan yang datang terlambat. Acara penandatangan itu pun disaksikan Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Bambang Susantono.

Penandatangan MoU Reaktivasi Jalur KA Kedungjati-Tuntang

“Reaktivasi ini untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap layanan transportasi kereta api,” kata Tundjung Inderawan.

Menurut Tundjung, untuk menghidupkan kembali jalur KA lintas tersebut, Ditjen Perkeretaapian pada tahun 2010 telah merehabilitasi 5 unit jembatan KA lintas Kedungjati – Ambarawa dan penggantian bantalan kayu menjadi bantalan besi lintas Tuntang – Ambarawa.

Tundjung juga mengatakan tidak hanya jalur Tuntang-Kedungjati yang akan dihidupkan kembali. Ada dua jalur lain yang akan dihidupkan dalam rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPnas).

Jalur yang akan direaktivasi lainnya adalah lintas Purwokerto-Wonosobo, dan lintas Semarang-Demak-Juana-Rembang. Proyek itu akan dilakukan secara bertahap hingga 2030.

Komitmen

Khusus untuk jalur Kedungjati-Tuntang sepanjang 30 kilometer tersebut diperkirakan akan membutuhkan dana sekitar Rp600 miliar. Dana tersebut untuk mengganti rel dan bangunan, serta persinyalan. Sedangkan untuk penertiban lahan diserahkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng, khususnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang.

“Begitu lahan berhasil ditertibkan, kami siap melakukan perbaikan track dan bangunan. Kami yakin dalam satu tahun bisa selesai,” kata Tundjung.

Wamenhub Bambang Susantono juga mengharapkan dukungan penuh dari Pemprov Jateng dan Pemkab Semarang. Pasalnya, jalur tersebut diyakini akan mampu mengurangi beban jalan raya dan mampu menghidupkan sektor perekonomian masyarakat setempat.

“Jalur ini sangat berpotensi bagi perkembangan perekonomian masyarakat Jawa Tengah. Juga sangat berpotensi bagi perkembangan sektor parawisata. Sebab di sini ada Stasiun Ambarawa yang memiliki nilai sejarah tinggi,” kata Bambang.

Stasiun Toentang

Setelah jalur Kedungjati-Tuntang diaktifkan kembali, nantinya akan terhubung denan jalur Tuntang-Ambarawa sepanjang 7 kilometer dan Ambarawa-Bedono sepanjang 10 kilometer yang saat ini telah akatif untuk wisata kereta uap. Kereta uap Ambarawan-Bendono merupakan wisata kereta api uap yang memiliki keunikan tersendiri karena separo dari jalur ini (antara stasiun Jambu-Bendono) sepanjang 5 kilometer merupakan jalur rel bergerigi.

Gubernur Jateng Bibit Waluyo mengaku siap mendukung sepenuhnya rencana reaktivasi jalur tersebut. Bahkan Bibit merasa bersyukur karena Kemenhub dan PT KAI memiliki kepedulian yang tinggi terhadap ketersediaan transportasi kereta api di Jawa Tengah.

“Komitmen pemerintah pusat di bidang transportasi untuk Jawa Tengah sangat tinggi. Terbukti dengan dibangunnya pelabuhan, bandara, jalur ganda antara Brebes dan Cepu sepanjang 400 kilometer lebih. Kemudian kereta wisata dan menghidupkan kembali jalur Kedungjati-Tuntang ini,” katanya.

Bibit meyakini, ketersediaan kereta api dan prasarana transportasi lainnya itu akan menjadi pondasi bagi pembangunan ekonomi Jawa Tengah, khususnya di Semarang. “Untuk itu saya meminta bupati masyarakat Semarang pada sengkuyung (mendukung, red) rencana yang sangat baik ini,” ujar Bibit.

Stasiun Bersejarah

Menurutnya, jalur Kedungjati-Tuntang yang disambung dengan Tuntang-Ambarawa-Bendono bisa menghidupkan perekonomian masyarakat setempat, khususnya masyarakat desa dengan mengembangkan wisata desa.

“Orang kota itu sudah bosan dengan hiruk pikuk perkotaan. Mereka butuh plesiran ke tempat-tempat yang tenang di pedesaan. Masyarakat desa nanti bisa menjual pecel, peyek, dan makanan desa lainnya. Sehingga mereka bisa hidup dari situ,” katanya.

Tonggak Perkeretaapian
Keterangan pers Humas Ditjen Perkeretaapian Kemenhub menyebutkan, Jawa Tengah Khususnya wilayah Semarang merupakan wilayah tonggak sejarah perkeretaapian nasional, karena Jawa Tengah tepatnya antara Stasiun Kemijen (Semarang) – Tanggung (Kabupaten Grobogan) sepanjang 26 km merupakan lintasan jalur kereta api pertama di Indonesia yang dibangun oleh Pemerintahan Hindia Belanda, tepatnya pada Jumat, 17 Juni 1864. Selama tiga tahun dua bulan tepatnya pada hari Sabtu, 18 Agustus 1867 jalur kereta api antara Stasiun Kemijen – Tanggung selesai dibangun dan dioperasikan.

Kereta Uap

Namun sangat disayangkan saat ini Stasiun Kemijen yang berada kurang lebih satu kilometer dari stasiun Tawang Semarang telah hilang karena terendam rob. Sedangkan untuk lintas antara Kedungjati-Tuntang-Ambarawa sepanjang 37 km mulai dibangun pada tahun 1871 dan pada tanggal 21 Mei 1873 dioperasikan jalur dari Semarang-Kedungjati, namun seiring jalannya waktu jalur kereta api Kedungjati-Tuntang tepatnya pada sejak 1 Juni 1970 sudah tidak dioperasikan. (aliy)

  • Esutisna26

    Semoga jalur KA yang tidak aktif di Jawa Barat dapat beroperasi kembali!!!!