Angkasa Pura 2

Memperbaiki Kinerja Logistik

Rubrik Iskandar AbubakarSenin, 14 Januari 2013
beritatranslogistik3

Penekanan biaya produksi merupakan sasaran utama industri agar bisa bersaing dipasar dunia, termasuk didalamnya biaya logistik. Biaya logistik di Indonesia termasuk sangat mahal kalau dibanding dengan negara-negara ASIA lainnya, di Indonesia sebesar 14,08 persen dan kalau dibanding dengan Jepang yang hanya 4,88 persen merupakan angka yang sangat tinggi yang perlu ditangani dengan baik untuk meningkatkan daya saing Produk Indonesia di pasar dunia.

Rendahnya Kinerja Logistik/ Logistic Performance Indeks
Angkutan barang di Indonesia di dominasi oleh Angkutan jalan dengan pangsa terbesar selebihnya di angkut oleh Angkutan Laut termasuk Penyeberangan dan Kereta Api serta sedikit melalui Angkutan Udara untuk barang-barang nilai tinggi, padahal Indonesia merupakan negara kepulauan yang 60 persen wilayah Indonesia merupakan perairan. Perlu dipertanyakan kenapa hal ini bisa terjadi? apa yang keliru dan bagaimana kita bisa memperbaiki keadaan ini agar kita mendapatkan sistem transportasi barang yang effisien hemat energi dan berwawasan lingkungan.

Kontribusi biaya logistik di Indonesia diatas 20% sedangkan negara lain 5 -10% hal ini mengakibatkan Logistic Performance Indeks/ LPI berada pada urutan ke 59, sedangkan Malaysia berada pada urutan ke 29 dan Singapura terbaik. Hal ini mengakibatkan disparitas harga barang di berbagai  kota di Indonesia menjadi tinggi, daya saing perdagangan menjadi rendah.

Tingginya angka ini karena adanya inefisiensi yang terjadi didalam penanganan logistik termasuk didalamnya:

  1. Jaringan jalan yang tidak memadai (kapasitas rendah dan kualitas yang buruk) yang berdampak pada lamanya waktu perjalanan, kecepatan kerusakan kendaraan yang pada gilirannya akan mengakibatkan peningkatan biaya angkutan jalan yang tinggi.
  2. Keterbatasan kapasitas infrastruktur dan lemahnya manajemen pelabuhan,
  3. Kebijakan pemerintah yang berlebihan yang mengakibatkan birokrasi yang panjang yang pada gilirannya akan mengakibatkan biaya logistik yang tinggi, serta
  4. Pungutan liar baik yang dilakukan oleh aparat, pihak pelabuhan maupun yang dilakukan oleh preman.

Langkah memperbaiki Kinerja Logistik

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memperbaiki peringkat  Logistic Performance Indeks diantaranya dengan:

    • Pengembangan tehnologi informasi untuk mempercepat pelayanan pelabuhan serta dukumentasi termasuk didalamnya mengurangi tahapan birokrasi yang harus dilakukan dalam mempercepat proses administrasi barang. Untuk itu harus dibicarakan antara Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dengan Direktorat Jenderal Bea Cukai, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.
    • Pengembangan pusat-pusat distribusi barang/logistik yang sekaligus dapat dijadikan Pelabuhan Darat/Dry Port dimana kegiatan CIQ (Custom, Imigration dan Qarantine) dapat dilakukan,
    • Kontainerisasi untuk angkutan barang perlu didorong khususnya untuk angkutan barang dalam negeri sehingga dapat tercipta suatu sistem angkutan multi moda yang lebih effisien karena alasan biaya transportasi, alasan penghematan biaya perawatan jalan, penghematan biaya bahan bakar.

  • Meningkatkan effisiensi pelabuhan melalui kecepatan penanganan peti kemas, peningkatan jaringan jalan dari dan ke pelabuhan, peningkatan kapasitas dan mobilitas kereta api barang sehingga dapat tercipta suatu sistem logistik yang effisien, diantaranya dengan mengembangkan konsep short sea shipping.
  • Short sea shipping kemudian dirangkai menghubungkan nusantara dari ujung Barat Ke Timur Indonesia dengan konsep yang disebut sebagai Pendulum Nusantara diawali dengan koridor yang padat pergerakan arus barang di Belawan, Batam, Tg Priok, Tg Perak, Makasar. Sedang hubungan ke Sorong ditangani secara feeder daer Makasar. Kapal yang digunakan tentunya disesuaikan dengan demand sehingga dapat mengoptimalkan infrastruktur dan kapal yang akan digunakan.
  • Menghilangkan/mengurangi pungutan liar yang terjadi di pelabuhan, di jalan baik yang dilakukan oleh aparat penegak hukum, petugas yang bertugas pelabuhan serta preman.
  • Organisasi angkutan barang perlu dirubah dari sistem yang sangat moda sentris menjadi suatu sistim yang berbasiskan fungsi, dimana logistik yang sifatnya multi moda perlu ditangani secara terpadu. Untuk itu perlu dipertimbangkan untuk membentuk organisasi fungsional berupa Direktorat Jenderal Angkutan Barang seperti yang dilakukan dibeberapa negara.

Iskandar Abubakar

@iskandarabu

loading...