Angkasa Pura 2

Pengembangan Multi Moda

Rubrik Iskandar AbubakarSelasa, 15 Januari 2013
Jakarta-Int-container-terminal (1)

Untuk mendorong angkutan multimoda perlu didukung dengan perangkat prasarana yang tepat. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai 17.508 pulau dengan luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya yang jauh lebih besar lagi yaitu 3.257.483 km² dimana perairan laut Indonesia belum dimanfaatkan sebagai infrastruktur transportasi secara maksimal, masih banyak angkutan barang jarak jauh termasuk angkutan barang antar pulau yang menggunakan angkutan jalan raya, padahal kalau , dan ini menjadi lebih baik lagi bila menggunakan peti kemas.

Mark Levinson dalam bukunya The Box mengatakan: the container made shipping cheap, and by doing so changed the shape of world economy atau kalau diterjemahkan bahwa penggunaan peti kemas mengakibatkan pengangkutan menjadi murah dan mendorong pertumbuhan ekonomi dunia. Pandangan ini juga harus dimanfaatkan di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan angkutan barang dalam peti kemas dalam negeri sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Keunggulan peti kemas dalam sistem transportasi adalah intermodalitasnya yang sangat baik, karena bisa diangkut melalui jalan, kereta api maupun laut, karena memiliki dimensi yang baku, berat maksimal yang baku pula sehingga overloading seperti yang sering terjadi dijalan raya bisa dihindari, tidak memerlukan gudang karena bisa ditumpuk (sampai 7 lapis peti kemas) di  lapangan terbuka, waktu bongkar muat yang singkat.

Angkutan barang dengan peti kemas dapat diangkut dengan berbagai moda dalam rangkaian pelayanan dari pintu ke pintu. Ini pulalah yang mengakibatkan tren angkutan peti kemas domestik sudah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun, di Pelindo III sebagai contoh mengalami pertumbuhan sebesar rata-rata 10,5 persen per tahun dalam 3 tahun belakangan ini. Tingginya pertumbuhan ini diakibatkan waktu yang lebih cepat serta biaya yang lebih rendah.

Peralihan ke peti kemas akan mendorong turunnya harga barang, seperti yang bisa kita saksikan terjadi di Maumere, NTB daerah yang baru saja mengubah sebagian dari angkutan kargo umum (general cargo) ke angkutan peti kemas, hal ini menjadi perhatian para pedagang dan produsen barang untuk wilayah-wilayah lainnya yang mengharapkan kesiapan pelabuhan dalam menerima dan mengirim barang melalui peti kemas.

Ada dua pertimbangan utama dalam pemilihan moda angkutan yaitu yang pertama adalah waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan perjalanan dan yang kedua adalah biaya. Kedua hal ini saling berpengaruh, untuk barang yang nilainya murah maka pertimbangan kedua yang lebih mendominasi, sedang untuk barang yang mahal pertimbangan pertama yang lebih mendominasi. Pendulum Nusantara merupakan salah satu solusi untuk mengatasi hambatan transportasai barang di Indonesia sehingga dapat menciptakan angkutan yang cepat namun tetap murah.

Terminal Petikemas Indonesia

Konsep Pendulum Nusantara nantinya dapat menjadi penghubung antara wilayah Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur, dengan pelabuhan sebagai pintu gerbangnya.

Enam pelabuhan disiapkan oleh empat Pelindo untuk mendukung konsep tersebut. Pelabuhan-pelabuhan itu adalah Pelabuhan Belawan Medan, Pelabuhan Batu Ampar Batam, Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Makassar, dan Pelabuhan Sorong di Papua.

Untuk mewujudkan Pemdulum Nusantara akan dibentuk suatu perusahaan PT Terminal Petikemas Indonesia  sebagai anak perusahaan bentukan keempat Pelindo yang berfungsi menyatukan sistem angkutan petikemas Indonesia.  Terminal Petikemas Indonesia direncanakan beroperasi pada 2014 mendatang, dan diharapkan dapat menekan biaya logistik nasional.

Iskandar Abubakar/@iskandarabu

loading...