Angkasa Pura 2

INSA: Pendulum Nusantara Belum Dibutuhkan

DermagaSunday, 10 March 2013

JAKARTA (beritatrans.com) – INSA menegaskan kegiatan angkutan laut domestik belum membutuhkan kapal berkapasitas 3000 TEUs ke atas atau 5000 TEUs sehingga proyek pembangunan jalur pelayaran Pendulum Nusantara belum dibutuhkan.

Saat ini, jalur tersibuk yakni Jakarta – Belawan dan Surabaya – Makassar baru bisa menggunakan kapal dibawah 2.000 TEUs. Masalah utamanya ada di muatan yang masih tidak berimbang dan kedalaman alur pelayaran, serta fasilitas pelabuhan yang terbatas.

Saat ini, rata-rata arus kontainer Jakarta–Belawan dan Surabaya–Makassar baru mencapai 3.000 TEUs per minggu sehingga cukup diangkut dengan kapal berkapasitas 1.700 TEUs, sementara dari arah sebaliknya cenderung kosong.

Rata-rata di dua rute itu, sudah dilayari kapal hampir setiap hari dengan tarif CY to CY rata-rata 5 juta–6 juta per TEUs. “Tapi perlu dicatat, 60% dari freight laut itu dibayar untuk tarif-tarif kepelabuhanan,” ujar Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto melalui siaran pers yang diterima beritatrans.com di Jakarta, Minggu (10/3).

Dia meminta operator pelabuhan BUMN di Indonesia lebih fokus untuk memperbaiki layanan di pelabuhan, terutama pelabuhan konvensional dan general cargo karena sumber inefisiensi logistik di sektor angkutan laut ada di dua sektor tersebut.

Selain itu, perlu dilakukan moratorium tarif di seluruh pelabuhan di Indonesia hingga waktunya untuk dinaikkan. “Sekarang belum waktunya. Tapi hampir semua pelabuhan menaikkan tarif sehingga biaya logistik bukan malah turun, tetapi masalah meningkat.”

Wakil Ketua Umum INSA Asmary Herry menyoroti penaikan tarif kepelabuhanan yang cukup signifikan. “Contohnya tarif pelabuhan Pontianak, terjadi penambahan crane, tapi tarif naik dari Rp275.000 per TEUS menjadi Rp550.000 per TEUs,” katanya.

Dia menilai target efisiensi pelayaran dari kegiatan operasional yang sebelumnya 2 kali sebulan menjadi 2,5 hari per bulan tidak tercapai.

“Yang justru menikmati efisiensi adalah Pelindo. Berbeda kalau Pelindo tidak menaikkan tarif, volume naik karena jumlah kapal bertambah sehingga Pelindo pun tetap untung tanpa penaikan tarif,” katanya. (Fauzi)

← Artikel Sebelumnya
Artikel Berikutnya →