Penerbangan Terganggu Layang-Layang, Antena, dan Frekuensi Radio

BandaraRabu, 20 Maret 2013
kepala litbang

JAKARTA (beritatrans.com)  – Berbagai kegiatan masyarakat masih mengganggu keamanan dan keselamatan penerbangan. Gangguan dari sekitar bandara itu antara lain, menjamurnya pembuatan atau penempatan antena BTS (Base Transceiver System), berdirinya bangunan tinggi, frekuensi radio, festival layang-layang, dan lainnya.

Soal gangguan itu  terungkap dalam Roundtable Discussion “Peran Serta Masyarakat dalam Upaya Peningkatan Penyelenggaraan Penerbangan di Indonesia” yang diselenggarakan Badan Litbang Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

“Keberadaan beberapa antena yang tinggi di Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KSOP) di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, sering dikeluhkan pilot. Pasalnya antena itu mengganggu pergerakan (manuver) pesawat udara ketika hendak lepas landas dan saat mau mendarat,”  ungkap  Pelaksana Tugas Kepala Badan Litbang Kemenhub Ir Denny L Siahaan MsTr kepada pers di Jakarta, Rabu (20/3).

Diskusi menampilkan pembicara Ir Djoko Murjatmodjo dari Ditjen Perhubungan Udara, Suryadi JW (PT Angkasa Pura I), Prof Dr K Martono SH (pakar penerbangan), dan Salahuddin dari PT Angkasa Pura II. Tampil sebagai pembahas antara lain Dr Ruth Hanna Simatupang, pemerhati Bidang Angkutan Udara, Sudaryanto Ketua YLKI, dan Ketua Federasi Pilot Indonesia, Capt Hasfriansyah.

Suryadi mengemukakan, sejumlah kegiatan masyarakat di sejumlah bandara binaan PT Angkasa Pura  I sudah mengganggu. Contohnya, di Bandara Juanda Surabaya,  keberadaan kubah masjid yang sangat tinggi dapat mengganggu posisi pesawat saat melakukan pendaratan. Petugas ATC terpaksa membelokkan posisi pendekatan menuju bandara (approach).

Selain itu, keberadaan antena yang terdapat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar juga sangat mengganggu. Penggunaan frekuensi radio/FM seperti di Bandara Samsudin Noor, Banjarmasin, yang masuk pada sistem radio di dalam pesawat sampai 7,0 NM. Pesawat tidak dapat menerima instrumen karena gangguan frekuensi.

Selain di makassar, dia mengungkapkan  gangguan juga menerpa di Bandara Ngurah Rai Bali. Festival layang-layang dan lampion oleh masyarakat  mengganggu kegiatan penerbangan.

KEPEDULIAN

Itulah sebabnya, peserta diskusi menyarakan perlunya terus-menerus digelar sosialisasi untuk meningkatkan  kesadaran dan pengetahuan serta kepedulian masyarakat terhadap pentingnya keselamatan penerbangan. Selain itu, masyarakat harus disadarkan bahwa kegiatan tersebut sangat membahayakan penerbangan.

“Pemerintah pusat dan daerah perlu meningkatkan perhatiannya terhadap pembangunan disekitar bandara yang dapat menggangu keselamatan operasi penerbangan,” kata Capt Hasfrinsyah HS, ketua Federasi Pilot Indonesia.

Sedangkan Dr Ruth Hanna dalam forum diskusi mengatakan, regulator perlu melakukan sosialisasi di bidang penerbangan  secara reguler dan berkesinambungan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat di bidang penerbangan.(aw).