Revitalisasi Terminal Baranangsiang

Rubrik Iskandar AbubakarMinggu, 21 April 2013
baranangsiang

Tanggapan negatip muncul terhadap rencana revitalisasi terminal Baranangsiang karena berbagai alasan diantaranya kenapa luas komersialnya terlalu dominan, sedangkan luas untuk terminalnya terlalu kecil dan berbagai kritik lainnya.

Namun kalau kita menyimak pada pendekatan modern dalam pengembangan terminal lebih diarahkan kepada suatu aktivitas terintegrasi dengan mengawinkan antara terminal dengan kegiatan bisnis retail, perhotelan perkantoran dan hunian yang biasa dikenal sebagai Transit Oriented Development.

Pengembangan pusat kegiatan di terminal juga berkembang sangat luas di moda transportasi lainnya seperti di Pelabuhan Laut yang dikembangkan menjadi waterfront city di kereta api yang dikembangkan menjadi Transit Oriented Stasion dan Bandar udara yang dikembangkan menjadi Aerocity.

Kembali kepada terminal Baranangsiang, mempunyai lokasi sangat strategis, sehingga sangat ideal untuk dijadikan suatu Transit Oriented Development Terminal. Tentu dengan beberapa catatan yang perlu menjadi perhatian Pemerintah Kota Bogor.

Hal yang perlu diperhatikan

Catatan yang perlu diperhatikan dalam pembangunan terminal terintegrasi diantaranya bahwa sisi jaringan angkutan umumnya harus mempunyai akses langsung ke jalan utama, jalan tol, tanpa melalui persimpangan sebidang, untuk itu perlu dibangun jalan layang dari terminal sehingga mengurangi peluang kendaraan umum ngetem menunggu penumpang pada akses masuk/keluar terminal.

Kedua terminal bukan tempat ngetem angkutan umum, untuk itu penjadwalan angkutan umum harus dilaksanakan dan dikendalikan secara konsisten. Waktu naik turun penumpang dibatasi hanya beberapa menit saja. Ketiga, arus kendaraan dan arus penumpang harus dipisah dengan tegas.

Terakhir yang perlu diperhatikan adalah integrasi yang baik antara angkutan kota dengan angkutan antar kota, untuk itu bisa dilakukan dengan pembangunan terminal dua lantai, lantai atas untuk angkutan kota dan dibawahnya untuk antar kota.

Iskandar Abubakar / @iskandarabu