Angkasa Pura 2

Pengembangan Bandara Husein Terkendala Lahan

BandaraSenin, 22 April 2013
Bandara Husein 1

BANDUNG (beritatrans.com) – Bandung, Ibu Kota Provinsi Jawa Barat telah terkenal sebagai salah satu kota tujuan wisata dan bisnis. Tak heran, banyak maskapai penerbangan baik dari dari dalam maupun luar negeri yang terbang ke kota yang terkenal dengan sebutan Paris Van Java ini.

“Pertumbuhan penerbangan di Kota Kembang ini terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan tahun 2012 kemarin peningkatan jumlah penumpangnya mencapai 97,5 persen,” kata General Manager PT Angkasa Pura II (AP II) Cabang Bandara Husein Sastranegara, Eko Diantoro, di Bandung, kemarin.

Berdasarkan data AP II, jumlah pergerakan penumpang Bandara Husein Sastranegara tahun 2012 mencapai 1,872,985 orang. Meningkat sekitar 97,5 persen dari tahun 2011 sebesar 948,497 orang. Pertumbuhan kargo pun mengalami peningkatan hingga 162 persen, yakni dari 1,117,873 kilogram pada tahun 2011 menjadi 2,938,328 kilogram pada tahun 2012.

“Pertumbuhan pergerakan pesawat pada 2012 pun mengalami kenaikan hingga 70 persen. Dari 10,305 pergerakan tahun 2011 menjadi 17,529 pergerakan pada 2012,” kata Eko.

Area Check In

Dengan tingginya pertumbuhan penumpang, Eko berani memprediksi jumlah penumpang Bandara Husein Sastranegara akan mencapai 5,4 juta penumpang pada tahun 2020 mendatang.

Sayangnya, kata Eko, fasilitas bandara yang masih menumpang di lahan milik TNI AU ini sudah kurang memadai untuk memberikan pelayanan terbaik pada penumpang. Permasalahan utamanya adalah keterbatasan lahan. Panjang landasan (runway) yang hanya 2220 meter, sudah tidak bisa diperpanjang lagi karena kedua ujung landasannya masing-masing sudah berbatasan dengan kota Bandung dan Gunung Bohong.

Fasilitas apron juga terlalu sempit untuk pergerakan pesawat. Bahkan jarak antar ujung sayap pesawat (wingtip) sudah tidak standar regulasi.

“Daya tampung terminal juga sudah over capacity. Dengan luas 1.922 meter persegi, terminal hanya untuk menampung penumpang 903 orang. Sementara sekarang telah mencapai 1,8 juta orang,” katanya.

Kondisi seperti itu diperparah oleh kondisi lahan parkir kendaraan penumpang yang tidak lagi sanggup menampung jumlah kendaraan. Sehingga tidak sedikit kendaraan yang akhirnya parkir di pinggir-pinggir jalan.

Area parkir sudah tak mampu menampung jumlah kendaraan.

Karenanya, AP II selaku pengelola Bandara Husein Sastranegara, menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan pelayanannya. Satu di antaranya bersiap melakukan perluasan terminal hingga mampu menampung sekitar 5,4 juta pada 2020 nanti.

“Rencananya perluasan terminal tersebut dimulai tahun ini. Lahannya kita menggunakan bekas milik PT DI (Dirgantara Indonesia),” ujar Eko.

Manajer Teknik PT AP II Cabang Bandara Husein Sastranegara, Antoni, menambahkan, tahun ini juga pihaknya akan memperluas apron sekaligus menggunakan sistem parkir nose in. Sehingga jarak parkir pesawat dan jarang antar wingtip lebih aman.

“Untuk tahap awal dana yang dibutuhkan sekitar Rp162 miliar,” kata Antoni.

Menurutnya, AP II sudah merencanakan pengembanagan fasilitas bandara sejak lama, tetapi terkendala keterbatasan lahan karena memang semuanya masih milik TNI AU.

“Selain itu ada pengalihan fokus bisnis ke rencana pembangunan Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat,” ujarnya. (aliy)

  • R. Haerulloh

    Kawasan BHS saat ini memiliki aksesibilitas yang cukup baik menuju pusat kota, waktu yang singkat, jarak yang dekat dan ongkos yang murah. Perlu kajian selanjutnya mengenai Ability To Pay penduduk asli Bandung terhadap pilihan moda dan mobilitas.