Angkasa Pura 2

Kemenhub Didesak Berikan Sanksi Berat pada Lion Air

KokpitSelasa, 23 April 2013
Lion Air Nyemplung

JAKARTA (beritatrans.com) – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) didesak segera memberikan sanksi berat kepada maskapai penerbangan Lion Air terkait kasus kecelakaan pesawat boeing 737-800 NG di Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali, 13 April 2013 lalu.

“Bahkan bila perlu Kemenhub membekukan kegiatan operasional maskapai penerbangan tersebut,” kata koordinator Komite Aksi Mahasiwa Reformasi dan Demokras (Kamred), Haris saat melakukan unjuk rasa di halaman kantor Kemenhub, Jakarta, Selasa (23/4).

Menurut Haris, sejak kasus kecelakaan di Solo yang menewaskan banyak penumpang hingga peristiwa terperosoknya pesawat Lion ke Laut di dekat bandara Ngurah Rai Bali, idealnya Kemenhub memberikan finalti, sesuai ketentuan hukum, dan kalau perlu dibekukan.

“Apakah kita harus terus membiarkan kondisi Lion Air yang kerapkali mengalami kecelakaan, tapi tidak ada tindakan konkret,” kata Haris.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Herry Bhakti S Gumay memahami apa yang menjadi keinginan para aktivis tersebut. Namun, harus dilakukan secara objektif, karena tidak semua kasus kecelakaan harus diberikan sanksi seperti yang diinginkan.

Penanganan kasus jecelakaan penerbangan, seperti yang dialami pesawat milik Lion Air di Denpasar Bali, kata Harry, harus sesuai mekanisme yang ada.

“Kita tunggu dong hasil kerja KNKT. Kalaupun ada temuan seperti yang dituduhkan para aktivis tersebut, tidak bisa langsung dibekukan, kita punya mekanisme, karena kecelakaan bisa terjadi dimana saja, termasuk luar negeri, dan bukan berarti maskapainya di bekukan,” kata Harry.

Terhadap tudingan penggunaan narkoba oleh pilot Lion Air, kata Harry, telah ditangani oleh instansi berwenang. “Kalau soal narkoba kan sudah ditangani,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan EE Mangindaan menegaskan pihaknya akan melakukan audit khusus secara menyeluruh di luar audit reguler yang dilakukan setiap dua tahun sekali.

“Audit ini kan sebenarnya rutin dilakukan setiap dua tahun sekali. Cuma karena ada kecelakaan, audit khusus akan dilakukan,” kata Mangindaan

Pemeriksaan secara tehnis itu juga dilakukan kepada seluruh pesawat, termasuk kesiapan kru yang ada. Sebab, untuk satu unit pesawat, pihak manajemen wajib menyiapkan empat set kru atau empat pilot dan empat co-pilot. (syam)