Angkasa Pura 2

Hingga 2016, Dividen Garuda Indonesia untuk Bayar Utang

KokpitJumat, 26 April 2013
Garuda Panjang

JAKARTA (beritatrans.com) – PT Garuda Indonesia memastikan tidak akan membagikan dividen atau keuntungan kepada para pemegang sahamnya hingga tahun 2016 mendatang. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar di Jakarta, Jumat (26/4), pemegang saham memutuskan seluruh hasil kinerja perusahaan bakal ditahan untuk melunasi berbagai kewajiban (utang) perusahaan.

“Hingga tahun 2016 mendatang, kami masih memiliki kewajiban yang harus dilunasi. Makanya soal dividen masih kami tahan hingga kewajiban itu selesai,” kata Direktur Keuangan Garuda Indonesia, Handrito Harjono.

Pada 2012, maskapai penerbangan milik pemerintah ini berhasil meraup laba bersih sebesar US$110,8 juta atau tumbuh sebesar 72,6 persen dibanding laba 2011 sebesar US$64,2 juta. Meskipun demikian, Garuda memiliki ikatan perjanjian dengan kreditur sejak tahun 2012 dengan nilai pembayaran utang pokok sekitar US$50 juta-US$60 juta.

Selain itu, perusahaan juga memiliki utang jangka pendek sekitar US$754,21 juta. Sedangkan, utang jangka panjangnya tercatat sebesar US$648,83 juta. Rencana manajemen yang akan mendatangkan 24 armada baru juga membuat perusahaan membutuhkan dana sekitar US$600 juta.

Selama tahun 2012, Garuda Indonesia berhasil mengangkut sebanyak 20.4 juta penumpang; meningkat 19.6 persen dibanding tahun 2011 sebesar 17.1 juta penumpang. Kapasitas produksi juga meningkat sebesar 10.9 persen menjadi 36 miliar dibanding tahun 2011 sebesar 32.5 miliar. Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan jumlah angkutan Cargo pada tahun ini sebesar 280.285 ton meningkat 22.2 persen dari tahun lalu yang sebesar 229.378 ton.

Selama tahun 2012 frekuensi penerbangan Garuda Indonesia (domestik dan internasional) juga mengalami peningkatan sebesar 17.9 persen menjadi 153.266 frekuensi penerbangan, dibanding periode tahun 2011 yang sebanyak 130.043 frekuensi penerbangan.

Selama 2012, Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan market share-nya di pasar internasional menjadi 24.1 persen dari sebelumnya 23.5 persen. Sementara market share penumpang domestik pada tahun 2012 ini sebesar 28.2 persen atau sama dengan tahun lalu.

Pergantian Direktur Komersial
RUPS juga memutuskan mantan petinggi PT Bakrie Telecom dan PT Indosat, Frederik Johannes Meijer atau akrab disapa Erik Meijer diangkat sebagai Direktur Komersial. Erik menggantikan peran Elisa Lumbantoruan yang sebelumnya menjabat posisi Direktur Marketing dan Pemasaran.

Masuknya Erik ke dalam jajaran direksi GIAA cukup mengejutkan banyak pihak. Terlebih, kehadirannya menggantikan posisi Elisa yang selama ini dinilai memiliki kinerjanya sangat memuaskan di Garuda. Salah satu yang cukup dipertanyakan dari sosok Erik, adalah catatan kariernya yang kerap berpindah haluan dari perusahaan satu ke perusahaan lain.

“Kami selaku manajemen (lama) memang belum mengetahui secara mendalam, belum mengenal lebih dekat dengan Pak Erik ini. Tapi tantangan perusahaan ke depan kan sangat menantang. Dengan mendapat tugas dari pemegang saham, tentu kami akan benar-benar bekerja sama,” kata Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar. (aliy)

loading...