Angkasa Pura 2

Dirjen Hubla Jamin Eksistensi Dunia Usaha Logistik

DermagaJumat, 10 Mei 2013
bobby2-edit

JAKARTA (beritatrans.com): Eksistensi usaha logistik nasional dan forwarder nasional menjadi tanggungjawab bersama. Diantaranya memodernisasi kegiatan usaha tersebut yang selama ini masih banyak dilakukan secara konvensional.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla), Kementerian Perhubungan Capt. Boby R Mamahit mengingatkan, modernisasi usaha itu perlu dilakukan untuk menghadapi kompetisi komunitas masyarakat ekonomi ASEAN (AEC) 2015. Kerjasama regulator,operator dan pelaku usaha akan memperkuat jaminan eksistensi.

“Kebijakan strategis dari pemerintah bisa berupa mengamankan dampak liberalisasi ekonomi ASEAN tersebut bagi pelaku usaha nasional,” kata Boby, saat membuka acara Pertemuan Tahunan dan Diskusi Panel, yang diselenggarakan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI, kemarin.

Dalam diskusi bertema ‘Ancaman dan dan Peluang Bisnis Forwarder Dalam Era Integrasi Logistik Untuk Komunitas Ekonomi Asean 2015’ itu, Bobby mengemukakan sampai saat ini kegiatan itu masih banyak dilakukan secara konvensional, dan untuk menghadapi persaingan perlu mebngadopsi teknologi inforamasi modern.

“Persaingan logistik itu sangat ketat, selain menguasai market/jaringan lokal maupun global juga mesti mengupdate kegiatannya memakai IT,” ujarnya.

Dia juga menyinggung soal adanya keluhan dari pelaku usaha di pelabuhan Tanjung Priok yang mulai tergusur akibat ekspansi besar-besaran PT Pelindo II yang mendirikan anak usaha baru, termasuk pada sektor logistik di pelabuhan tersebut.

“Kami sudah mendengar keluhan itu, Pemerintah mengharapkan semua pelaku usaha di pelabuhan bisa bersinergi bukan saling mematikan satu sama lain. Apalagi ini kan sama-sama pengusaha nasional,” paparnya.

Acara itu juga dibarengi dengan penandatanganan kerjasama pemanfaatan fasilitas pelabuhan Marunda antara Kepala Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Marunda, Casmiti dengan anggota ALFI DKI Jakarta.Selain itu, MoU ALFI DKI Jakarta dengan Sriwijaya Air.

PELUANG
Deputi Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,Edy Putra Irawady mengatakan, dorongan pemerintah itu dapat berupa pengembangan kerjasama dan partnership antara perusahaan logistik lokal dengan perusahaan global.

“Asean Community 2015 itu juga sebagai peluang bagi pelaku usaha nasional, apalagi demand terhadap tenaga ahli logistin nasional kini semakin tinggi,”kata Edy.

Menurut dia, Indonesia menjadi magnet di Asia Tenggara dengan penduduk lebih dari 247 juta jiwa dan kaya akan sumber daya alam. Potensi ini menjadi pasar yang sangat menarik untuk menjadi pasar ekspor Negara lain.

Tetapi, kata dia, untuk menghadapi AEC 2015 itu diperlukan langkah-langkah strategis dan kebijakan dari pemerintah, penguatan pasar domestik, pengembangan wirausaha, peningkatan ekspor, serta pengembangan investasi.

“Kebijakan strategis dari pemerintah bisa berupa mengamankan dampak liberalisasi ekonomi Asean tersebut bagi pelaku usaha nasional,” tuturnya.

Menurut Edy, untuk mendongkrak ekspor nasional, perlu dilakukan perluasan pasar itudan diversifikasi produksi ekspor sehingga tercapai daya saing ekspor nasional yang diharapkan.

Dalam road map integrasi jasa logistik Asean (2013-2015), ungkap Edy, bahwa ambang batas foreign equity participation (FEP) untuk sembilan sub sektor jasa logistik Asean harus mencapai 70 persen, dan tidak ada pembatasan dalam akses pasar.

Kesembilan subsektor logistik itu diantaranya, maritime cargo handling, layanan pergudangan, keagenan transportasi, layanan kurir, packaging services, international freight transportation,jasa angkutan kereta api, jasa angkutan darat, serta jasa terkait transportasi lainnya.

Ketua ALFI DKI Jakarta Sofian Pane, mengatakan biaya-biaya di pelabuhan di dalam negeri saat ini masih menyumbang lebih dari 45 persen terhadap komponen biaya logistik.

Dia menegaskan, pada prinsipnya perusahaan logistik dan forwarder di DKI terus mempersiapkan diri menghadapi AEC 2015.”Untuk itu kami melakukan pelatihan-pelatihan dan pembekalan bagi anggota untuk persaingan di AEC tersebut,” paparnya.

ANCAMAN SERIUS
Arman Yahya, Ketua ALFI Bandara Soekarno Hatta, mengatakan, justru AEC ini merupakan ancaman serius bagi pelaku usaha logistik/forwarder nasional. “Training yang sudah dilakukan oleh pemerintah maupun lembaga swasta soal logistik di Indonesia masih minim, ini yang saya katakan ancaman,” ujarnya.(uri)