Angkasa Pura 2

Dengan Palang Bambu, Bergiliran Jaga Perlintasan KA di Kampung Harapan Mulya

EmplasemenSelasa, 14 Mei 2013
ari-penjaga pintu KA

BEKASI (beritatrans.com) – Warga Kampung Harapan Mulya, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi, seringkali khawatir. Pasalnya, di kampung itu terdapat lintasan kereta api yang 6 tahun tidak dipasang palang pintu.

Padahal, tidak jauh dari sana, terdapat lintasan kereta api yang memiliki palang pintu otomatis, hal itu karena lintasannya dekat dengan Stasiun Kota Bekasi. Sebelumnya, 1 orang korban tertabrak kereta api di kampung itu hanya karena tidak ada penjaga.

Fitri, seorang warga yang rumahnya dekat dengan lintasan, mengaku sering merasa khawatir jika tidak ada relawan yang berjaga. “Saya takut ada yang nyelonong lewat rel, sementara kereta api sedang melintas,” tutur perempuan berperas cantik itu, kemarin.

Sementara itu, Ketua RW setempat, Agus, mengatakan pihaknya sering mengeluhkan soal itu ke aparat kecamatan, PT KAI, bahkan anggota DPRD. “Saya usul agar dibuat palang pintu otomatis. Tapi sampai saat ini belum ada realisasi,” ujarnya

Adapun untuk penjagaan, pemuda setempat dengan sukarela menjaga lintasan. Palang pintu dari bambu itu seringkali rusak bahkan dirusak oleh pemuda dari kampung lain yang sedang mabuk saat tengah malam.

JAGA BERGILIRAN
Pemuda relawan itu di antaranya Dedi. Dia mengatakan jaga bergiliran. Mulai subuh hingga magrib. “Sistemnya isyarat langsung, menggunakan bambu, jadi saya duduk dekat rel, jika ada kendaraan, dan kereta api sedang melintas, saya beritahu pengendara agar berhenti karena umumnya mereka tidak tahu ada kereta” ucapnya.

HAMPIR TERTABRAK
Sejak tahun 2007, Dedi sudah menjaga lintasan ini. Awalnya hal itu dilakukan berdasarkan pengalaman dia saat seorang pengendara terjatuh dan hampir tertabrak kereta api di lintasan ini, beruntung dia bisa menyelamatkan pria tersebut.

Sejak itu, dia memutuskan untuk menjadi relawan menjaga lintasan kereta api.
Dia mengakui, palang bambu yang digunakannya dibuat sendiri dengan uang sendiri. Dia pernah mengajukan ke PT KAI, tapi belum ada tanggapan.

“Saya ini cuma mau mengusulkan tiga hal, pertama, saya mengajukan dipasang semboyan 35, artinya pemberitahuan ke masinis bahwa kereta akan melewati perlintasan. Kedua, memperbanyak papan pemberitahuan karena rambu yang sekarang sudah rusak,” cetusnya.

Ketiga, dia mengutarakan pemasangan kasintel yang berfungsi sebagai alarm pemberitahuan, bahwa sebentar lagi kereta melintasi perlintasan. “Ketiga usulan itu pernah diajukan ke PT KAI, tapi sampai saat ini belum ada realisasi,” ujarnya.(Ari)

loading...