Angkasa Pura 2

Perahu Eretan di Tambun Paceklik Penumpang

Another NewsSelasa, 14 Mei 2013
ari-eretan

BEKASI (beritatrans.com) — Kerutan lelah tampak jelas di wajah Ito (46). Matanya menyempit menahan terik sinar matahari. Dengan sekuat tenaga, Minggu (12/05/13), dia berdiri dan menggenggam kuat seutas tali tambang untuk menarik perahu kayu yang mengangkut seorang mahasiswa.

Perlahan perahu membelah air Sungai Kalimalang, yang berwarna kuning keemasan di wilayah Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Sudah lebih sebelas tahun, warga Jatimulya, Kecamtan Tambun Selatan, itu menjalani hari-hari sebagai tukang eretan alias penyedia jasa perahu tambangan.

Dengan perahu, untaian tali tambang, dan tenaganya, Ito membantu penumpang menyeberangi bentangan Kalimalang. Untuk menaiki perahunya dan menyeberangi kali malang dengan jasa tenaga tukang eretan, orang hanya perlu Rp 1.000. Jika membawa motor, dikenai biaya tambahan Rp 2.000.

Setiap hari, dari pagi sampai sore, Ito bisa puluhan kali melintasi Kalimalang. Dari pekerjaanya itu, dia sanggup mengupayakan hidup layak, mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya di kampung. “Ya lumayan, bisa buat makan dan menyekolahkan kedua anak saya,” kata Ito.

Dia tidak sendiri. Ada dua tukang eretan lainya yang juga menggantungkan hidup dari jasa perlintasan dengan perahu tambangan untuk menyebarangi Kalimalang.
Akan tetapi, pekerjaan mereka bukan tanpa risiko.

“Ketika air sedang naik seperti musim hujan, ya jangan memaksakan diri karena alirannya deras. Warga juga biasanya takut dan memilih melintasi jalan memutar yang jaraknya sekitar dua sampai tiga kilometer,” ujar Ito.

KONSUMEN MENURUN
Akan tetapi, keberadaan perahu tambangan Ito dan temannya itu di wilayah tersebut tampaknya akan segera menemui paceklik seiring dengan bangkrutnya PT Tongyang, yang sebagian karyawannya menggunakan jasa perahu eretan. Pelanggan Ito menjadi menurun dratis. (Ari)

loading...