Angkasa Pura 2

Aerospace, Impian BJ Habibie Yang Kandas

Another NewsJumat, 14 Juni 2013
IPTN-N2130S

JAKARTA (beritatrans.com) – Impian BJ Habibie membangun industri kedirgantaraan di tanah air kandas sudah. Padahal, sejumlah produk pesawat terbang pernah ditelorkan dari teknologi yang digondolnya dari Jerman. Harus diakui, Habibie-lah yang membawa Indonesia satu-satunya negara Asean yang membangun industri pesawat terbang kala itu.

Diawali dengan membuat pesawat N235 atau Gatot Kaca alias Tetuko. Pesawat ini pun laris manis dipesan. Tidak hanya di dalam negeri, khususnya oleh Merpati Nusantara Airlines, tapi juga negara-negara Asean lainnya, seperti Malaysia.

Jauh sebelum Rusia membuat pesawat Sukhoi Super Jet 100  yang dilengkapi sistem navigasi canggih fly-by-wire, Indonesia sudah membuat pesawat N250  yang memasang sistem  fly-by-wire.  Pesawat N250 pun sempat banyak dipesan dan ini generasi kedua setelah N235.

Pesawat itu diberi nama N250. N adalah singkatan dari Nusantara, 2 singkatan dari dua mesin, 50 singkatan dari 50 penumpang. Pesawat N250 menggunakan 2 mesin baling-baling atau turbo propeller. Kenapa yang yang dibuat pesawat kecil dan menggunakan baling-baling?

Hal ini disesuaikan dengan kondisi Indonesia sebagai Negara maritime yang membutuhkan pesawat kecil antar pulau atau antar kota. Pesawat N250 ini ditujukan untuk transportasi antar pulau atau antar kota. Supaya pulau-pulau kecil dan kota-kota kecil bisa dilayani pesawat, maka yang dibutuhkan adalah pesawat kecil bermesin baling-baling.

Habibie memilih pesawat kecil bermesin baling-baling ini karena pesawat ini hanya memerlukan landasan pendek, tidak seperti yang dibutuhkan pesawat jenis jet yang membutuhkan landasan yang panjang. Pesawat N250 terbang perdana tanggal 10 November 1995. Ya, waktu itu, kita belum lahir. Cerita ayah-ibu, semua bangga karena bangsa Indonesia mampu bikin pesawat terbang.

Meskipun pesawat N250 menggunakan baling-baling, pesawat ini konon cukup canggih karena sudah dikendalikan dengan sistem  fly-by-wire.  Sistem ini merupakan teknologi penerbangan yang menggunakan komputer.

Presiden Soeharto (waktu itu) pada pidato peluncuran menyambut N250, mengemukakan, ke depan, Indonesia juga akan membuat pesawat super jet N2130  yang akan menerapkan teknologi yang lebih canggih lagi, yaitu sistem navigasi advanced fly-by -wire.

Itu artinya, teknologi pesawat  Sukhoi Super Jet 100 yang tergolong canggih akan kalah dengan teknologi yang digunakan pesawat Super Jet N 2130 buatan Indonesia ini. Sayangnya, akibat krisis keuangan negara tahun 1997, Industri Pesawat Terbang Nusantara yang didirikan oleh ahli pesawat BJ Habibie, terpaksa ditutup. Proyek-royek pembuatan pesawat pun terpaksa dihentikan karena pemerintah tidak punya biaya lagi.

Namun kondisi membuat semua impian yang puluhan tahun dikembangkan BJ Habibie sebagai orang nomor satu ahli rancang bangun teknologi pesawat saat itu, berubah total yang berimbas terhadap nasib kelanjutan generasi N250 dan N2130 ini. Andai saja tidak terjadi krisis keuangan negara, tentu kita sudah bisa menikmati pesawat-pesawat terbang buatan Indonesia ini sekarang.

Meskipun industri pesawat terbang di Indonesia sekarang ini sedang mati suri,  suatu saat bangsa kita pasti mampu bangkit kembali. Semua ini tergantung kepada komitmen para pemimpin negeri kelak.

 

Produk IPTN antara lain CN 235, N245, N219, NC212, N250. N250 Gatot koco merupakan pesawat yang diluncurkan dan dilpu sacara masif diadalam negeri, pesawat buatan putra putri Indonesia itu tak mengalami dutch roll (Oleng) berlebihan saat lepas landas yang pertama.

Pesawat ini juga yang pertama dikelas “Subsonic Speed” yang memakai teknologi fly by wire. Saat pertama kali lepas landas, N250 diawaki oleh pilot capt (alm) Erwin Danuwinarta dan Co-pilot Sumarwoto. Hal Ini menjadi tonggak bersejarah di Indonesia dan dunia penerbangan Asia Tenggara.

Menjelang krisis ekonomi IPTN kala itu sedang mengembangkan pesawat terbang berbadan lebar N2130. Jika proyek ini berhasil maka akan mengurangi ketergantungan impor dari Airbus dan Boeing. Dengan jenis Jet twins engine narrows body maka persaingan didunia peswat berbadan lebar akan dijelajah IPTN bersama Airbus dan Boeing.

Sayang krisis moneter berkata lain, Soeharto yang meminta IMF untuk menalangi dana bantuan untuk pengembangan N2130 tak dikabulkan, malah IMF meminta kepada pemerintah Indonesia melalui klausul pinjaman untuk menutup IPTN. IPTN tutup dan dinyatakan bangkrut kemudian berganti nama menjadi PT DI pada tahun 2000.

Perkembangan PTDI praktis hanya menjadi pemasok komponen untuk Airbus dan Boeing, namun PT mampu memproduksi pesawat yang dibeli Korea Selatan, Malaysia, Thailand, dan Pakistan. bahkan negara seperti Malaysia dan Korea Selatan memeakai pesawat PTDI untuk jenis pesawat kepresidenan.  Sekarang PTDI telah mampu mengembangkan helikopter jenis super puma pesanan TNI AU.(machda)