Angkasa Pura 2

Double Track KA Cirebon – Brebes Diuji Coba

EmplasemenSenin, 17 Juni 2013
Arief Heryanto, Dirjen KA dan Wamenhub

JAKARTA (beritatrans.com) – Jalur ganda (double track) kereta api (KA) lintas utara Jawa segmen Cirebon-Berebes diuji coba, Senin (17/6/2013). Di segmen itu melewati Stasiun Waru Duwur- Babakan dan Losari sepanjang 24 kilometer. Uji coba ditandai dengan melintasnya KA Argo Muria dari Jakarta tujuan Semarang.

Penyelesaian secara parsial ini, menurut Direktur Prasarana Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Arief Heryanto, ditargetkan selesai pada akhir akhir Juli 2013. Setidaknya, pada H-7 angkutan Lebaran, sudah bisa dioperasikan sampai ke Semarang. “Minggu depan, kita operasikan koridor double track Pekalongan-Bojonegoro,” ungkap Arief kepada beritatrans.com, Senin (17/6/2013).

Uji coba double track itu ditandai dengan pengalihan jalur lama ke jalur lintasan baru. Dengan demikian, kereta barang yang melintas dapat langsung melewati kereta penumpang yanbg sedang lansir atau behenti di stasiun.

“Kami lakukan secara parsial, dan Waru Duwur ke Losari adalah pertama dan akan dilakukan pada empat stasiun berikutnya sampai ke Berebes,”kata Arief, Senen (17/6).
Proyek double track lintas Utara Jawa yang menghabiskan anggaran Rp.9,8 triliun itu, akan mempercepat aktivitas pelayanan angkutan penumpang dan barang. Khusus angkutan barang, PT KAI teah meembeli 2.400 unit kereta baranbg, yaitu 1.200 kereta KKBW (gerbong tertutup) dan 1.200 PPCW (gerbong terbuka).

Dia mengemukakan rel ganda lintas utara Jawa (Cirebob-Semarang-Surabaya) sepanjang 727 km ditargetkan selesai pada tahun 2015. Fokus penyelesaian saat ini berada pada sekmen Cirebon-Brebes sepanjang 63 km yang menelan dana Rp450 miliar. Strategi penyelesaian proyek dikerjakan secara bertahap.

Wakil Menteri Perhubungan, Babang Susantono sebelumnya menjelaskan, lintas utara Jawa merupakan salah satu dari enam koridor ekonomi yang sedang dikembangkan pemerintah melalui Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3I).

Pengoperasian rel ganda lintas utara Jawa itu, akan mengurangi beban jalan. Karena sampai saat ini tingkat kerusakan jalan cukup tinggi, dimana pemerintah harus mengalokasikan anggaran sekitar 600 Miliar per tahun untuk perbaikan jalan pantura Jawa.

Pada sisi lain, Arief Heryanto menjelaskan kendala utama penyelesaian proyek rel ganda lintas utara Jawa, adalah pembebasan lahan. Pimpinan proyek, bukan hanya berhadapan dengan warga, tapi juga aset milik BUMN.

“Di antaranya lintas Bojonegoro-Surabaya, terbentur pipa air milik PT Petrokimia Gresik. Pemindahan pipa sepanjang 5,05 kilometer ini ternyata belum dianggarkan oleh pihak Petrokimia Gresik. Di jalur ini juga terdapat pipa gas milik PT Pertamina serta PT PGN yang harus dipindahkan,” ungkapnya.

Selain itu, di Semarang terdapat bangunan tua di lahan yang rencananya digunakan sebagai jalur ganda KA. Apalagi bangunan tua milik PGN ini juga merupakan bangunan bersejarah. Belum lagi masalah kontur tanah yang labil, terutama di wilayah Jawa Timur.

BIAYA LOGISTIK
Pengoperasian rel ganda lintas utara Jawa ini akan memangkas biaya logistik (distribusi dan pemasaran produk industri) hingga 40 persen. Di wilayah Jawa, biaya logistik rata-rata 27 persen dari total biaya produksi yang harus dikeluarkan perusahaan.

Tingginya biaya logistik dan distribusi barang selama ini disebabkan kondisi infrastruktur jalan yang berpengaruh langsung terhadap waktu tempuh. Pemicu biaya tinggi, selain bahan bakar minyak (BBM) juga kondisi infrastruktur yang minim dan banyak rusak mempercepat penurunan kondisi kelaikan kendaraan. Waktu tempuh Jakarta-Surabaya 40 jam atau bahkan dua hari waktu tempuh. Belum lagi banyaknya pungutan liar di sepanjang pantai utara Jawa.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Natsir Mansyur mengatakan biaya logistik yang dikeluarkan pengusaha Indonesia tergolong tinggi jika dibandingkan dengan di Malaysia yang rata-rata 8 persen dari biaya produksi serta Singapura yang hanya 6 persen dan Filipina 7 persen.

Dia mengungkapkan, inefisiensi sistem logistik nasional akan memperlemah daya saing industri serta dunia usaha nasional. Apalagi pada saat bersamaan kalangan industri nasional juga masih dibelit berbagai persoalan terkait ekonomi biaya tinggi. Padahal biaya logistik yang tinggi tidak hanya merugikan pengusaha maupun produsen, tapi juga konsumen karena harus membeli produk dengan harga yang lebih mahal.

Jika pembangunan jalur ganda KA tersebut selesai, lanjutnya, maka moda transportasi untuk angkutan barang bisa dibagi rata antara jalan raya dan jalur kereta api. Dengan jalur ganda, kapasitas angkut barang KA bertambah dari saat ini sekitar 5.000 Teus per pekan menjadi 10.000-15.000 Teus per pekan. Dengan ini, diharapkan biaya logistik dapat diturunkan dari 27 persen menjadi 17 persen.(aw).