Berkunjung ke Makam Soekarno di Blitar

DestinasiRabu, 26 Juni 2013
makam bung karno dipadati pengunjung

BULAN Juni bagi bangsa Indonesia, khususnya Surabaya, Jawa Timur memiliki arti penting. Karena di bulan ini menandai sejarah besar tidak hanya lahirnya Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa ini. Namun disisi lain, di bulan ini lahirnya Soekarno, Presiden RI pertama. Pancasila lahir 1 Juni 1945, sedangkan Soekarno, 6 Juni 1901.

Ironisnya, kelahiran Pancasila sebagai Dasar Negara RI, tidak mendapat sambutan seperti hari lahirnya hari-hari besar nasional atau keagamaan. Terbukti tidak ada acara khusus yang digelar pemerintah. Di sisi lain, pencetus Pancasila yaitu Soekarno mendapat tanggapan luar biasa dari masyarakat luas. Bahkan, di Blitar makam alm orang presiden pertama itu ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai wilayah di Jawa Timur, khususnya.

Seperti terlihat pada 20 Juni 2013 lalu, makam-bung-karno-300×199.jpg” alt=”" title=”makam bung karno” width=”300″ height=”199″ class=”aligncenter size-medium wp-image-2537″ />. Namun tidak sedikit yang datang hanya sekadar untuk berwisata, ingin mengetahui seperti apa makam mantan orang pertama di Indonesia itu.

Saat berkunjung ke makam Soekarno, pengunjung tidak hanya dapat melihat dari dekat ke pusaranya karena sejak Presiden Gus Dur, bangunan makam yang semula dikelilingi dinding kaca, dilepas sehingg pengunjung bisa duduk diantara pelataran makam. Di sisi lain, pengunjung juga dapat menikmati ratusan lukisan Soekarno, pakaian dan senjata, tongkat yang pernah digunakan Soekarno.

Selain itu, pengunjung juga dapat mampir ke perpustakaan yang berada di kompleks makam. Di perpustakaan ini, tersedia buku-buku mengenai Soekarno. Mulai dari buku hasil karya Soekarno, kumpulan tulisannya, bahkan buku-buku yang mengisahkan Soekarno yang ditulis para pengarang terkemuka. Pengunjung juga bisa membaca sebelum meninggalkan kompleks makam.

Saat penulis berkunjung, akhir pekan lalu sejumlah jalan sepanjang hamper 2 kilometer menuju ke lokasi kompleks makam Soekarno, hingga tampak harus memotong sejumlah perempatan jalan terhampar karpet merah yang teduh dengan tenda. Karpet merah itu penuh dengan berbagai makanan dan minuman siap saji, termauk buah-buah yang secara sukarela diberikan masyarakat di sekitarnya.

“Ini pas waktunya haul Bung Karno, dan setiap tahun masyarakat Blitar merayakan haul ini. Masyarakat juga dengan sukarela memberikan penganan yang siap disantap masyarakat yang mengikuti prosesi haul Bung Karno. Biasanya, keluarga Bung Karno dating,” kata ibu Indri, staf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Blitar.

Di sepanjang jalan pun sejumlah pedagang dadakan mencoba mengais rizeki dengan menjual pernak pernik dan pakaian yang ‘berbau’ Soekarno dan Blitar. Tentu saja, berbagai ornamen warna merah muda pun menyeruak menambah suasana ‘Marhaen’ sebagaimana jiwanya Soekarno.

Soekarno terlahir dari rahim Ida Ayu Nyoman Rai, istri dari Raden Soekemi Sastrodihardjo. Soekarno terlahir dengan nama Koesno Sosrodihardjo. Karena sering sakit, saat umur lima tahun oleh ayahnya diganti menjadi Soekarno. Tanggal 21 Juni 1970, Soekarno yang pada akhirnya lebih dikenal sebagai Bung Karno wafat di Jakarta pada usia 69 tahun. Tak berlebihan kiranya dengan tiga peristiwa besar itu, Bulan Juni disepakati sebagai Bulan Bung Karno!

Banyak kegiatan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat untuk mengenang Soekarno dan perjuangannya. Ada yang upacara, pidato dan doa bersama maupun pawai. Namun, ada baiknya di bulan Juni – Bulan Bung Karno ini, menyempatkan ziarah di Makam Bung Karno. Untuk mengenang jasa beliau yang demikian luar biasa untuk bangsa ini sekaligus mendoakan beliau agar mendapatkan tempat yang layak sesuai jasa dan amal ibadahnya.

Makam Bung Karno
Berbeda dengan pahlawan lainnya (bahkan Soekarno adalah Proklamato) Soekarno tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Makam Soekarno ada pemakaman biasa. Letaknya di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Tidak sulit untuk mencapainya. Dari arah Malang, saat masuk Garum, belok kanan ikuti petunjuk jalan. Langsung menuju ke Kompleks Makam Bung Karno. Jalur ini searah dengan jalur menuju Kompleks Candi Penataran, candi terbesar di Jawa Timur.

Sesampai di lokasi, bus rombongan dan mobil pribadi harus parkir di ”terminal” yang telah disediakan. Untuk menuju makam tersedia angkutan Becak Shuttle yang siap antar jemput dari ”terminal” ke makam dan sebaliknya. Jaraknya tidak jauh, tapi cukup lelah juga berpanas ria jika berjalan kaki. Tapi pada saat tertentu mobil pribadi dan motor bisa lebih mendekat ke lokasi makam. Mobil dan motor bisa dititipkan di parkir umum di sepanjang jalan yang melingkari kompleks makam dikelola warga. Lumayan, tidak terlalu jauh bila jalan kaki. Dan jangan lupa cari tempat parkir yang menyediakan kamar mandi.

Makam Bung Karno dibangun di atas tanah seluas 1,8 ha. Di areal yang tidak terlalu luas ini, selain makam terdapat Museum Bung Karno dan Perpustakaan. Boleh jadi, saat ini, Makam Bung Karno termasuk ikon wisata religi Kota Blitar yang cukup diandalkan.

Saya memasuki kompleks Makam Bung Karno dari arah Selatan. Turun tangga dan memasuki kawasan Museum. Tidak melalui pintu masuk utama. Ada beberapa tiang besar bulat menjulang di tengah koridor bangunan. Jumlahnya kalau tidak salah tujuh belas. Sebelum masuk Museum maka kita akan disambut dengan patung perunggu Soekarno yang sedang duduk memegang buku. Pesannya: banyak-banyaklah membaca untuk menguasai dunia.

Sesaat memasuki Museum, Anda diminta untuk menuliskan nama dan alamat buku tamu. Gratis. Lalu segeralah untuk eskplorasi di dalamnya. Yang sering jadi perbincangan adalah Lukisan Bung Karno yang ”hidup”. Jika dilihat dari samping, bagian dada (jantung) di lukisan itu seperti bergetar/ berdenyut. Fenomena yang cukup aneh. Namun. ada beberapa orang yang menjelaskan bahwa itu efek dari hembusan angin saja ke bagian lukisan yang lentur di tengah-tengah.

Di Museum ini kita akan mendapatkan informasi lengkap tentang sosok Soekarno dan perjalanan hidupnya. Sungguh menarik menikmati peninggalan-peninggalan yang ada di sana termasuk foto-foto kuno yang seakan-akan membawa kita ke masa lalu. Sebelum keluar dari Museum, ada sebuah fenomena lagi. Di sebuah etalase pajangan ada beberapa uang kertas. Konon, ada satu uang kertas yang konon bisa menggulung sendiri. Ajaib.

Keluar dari Museum, kita berjalan menuju arah Utara menyusuri koridor yang di tengahnya terdapat kolam dan tiang-tiang bulat yang menjulang. Di tembok kanan kiri terdapat pahatan relief yang menggambarkan diorama sepak terjang Soekarno saat di jaman pra dan jaman pasca proklamasi. Setelah melalui jalan di pinggir kolam kita naik tangga akan sampai di sebuh pelataran beraspal. Di arah sebelah kiri pelataran ini ada gerbang masuk. Itulah sebenarnya Pintu Masuk Utama ke Kompleks makam.

Nah, untuk masuk makam kita harus melewati sebuah gapura lagi. Sebuah Gapura Paduraksa yang mengingatkan pada pintu masuk keraton Majapahit. Tapi, sebelum masuk, wakil rombongan akan diminta untuk mengisi Buku Tamu lagi di sebuah ruangan. Dan jangan lupa, bagi yang ingin ”nyekar” (tabur bunga), bisa membeli bunga pada ibu-ibu yang setia menjajakan dagangannya. Tidak mahal, antara 3 ribu- 5 ribu rupiah saja.

Begitu memasuki Gapura Paduraksa, maka kita akan tiba di pelataran makam. Di depan kita ada sebuah bangunan Cungkup berarsitektur Jawa. Bentuknya Joglo. Diberi sebutan Asono Mulyo. Cungkup itulah bangunan utama di Makam Bung Karno ini. Di kanan kiri pelataran ada bangunan terbuka untuk istirahat dan mushola.(machda)