Angkasa Pura 2

Hari Pertama Tarif Turun, Ratusan Ribu Calon Penumpang KRL Jabodetabek Antre Panjang di Stasiun

EmplasemenSenin, 1 Juli 2013
stasiun bekasi

JAKARTA (beritatrans.com) – Hari pertama penurunan tarif, ratusan ribu calon penumpang KRL Jabodetabek antre panjang di sejumlah stasiun, Senin (1/7/2013) pagi. Mereka mesti berlama-lama untuk mendfapatkan tiket dan naik kereta ke Jakarta.

Contohnya di Stasiun Bekasi dan Stasiun Kranji, Kota Bekasi, Jawa Barat. Tak seperti biasanya, calon penumpang mengular hingga ke luar stasiun. Mereka melewati waktu sekitar 15-30 menit dari posisi antrean ke dalam kereta.

“Wah kayaknya banyak yang beralih dari kendaraan pribadi ke kereta setelah adanya penurunan tarif. Nggak biasanya begini,” ujar Resi, yang hendak bekerja di satu kantor perusahaan minyak di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat.

Ternyata antrean panjang juga mesti dihadapi kaum komuter saat tiba di stasiun tujuan. “Walaaah…ke luar stasiun juga mesti antre. Bisa terlambat neh sampai kantor,” ungkap Resi saat tiba di Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat.

Deputy EVP Daerah Operasi I PT KAI Dwiyana mengemukakan hampir di seluruh stasiun kereta di Bodetabek memang terjadi antrean luar biasa calon penumpang KRL Jabodetabek. “Kami perkirakan penumpang naik sekitar 10-20 persen akibat tarif baru yang mendapat subsidi tambahan dari PSO,” ungkapnya kepada beritatrans.com, Senin pagi.

Dia menuturkan sebelumnya jumlah penumpang sekitar 500.000-600.000 orang. Dengan demikian kenaikan jumlah penumpang sekitar 50.000-100.000 orang. Tahun 2018, jumlah penumpang diperkirakan mencapai 1.2 juta orang.

Antrean penumpang, Dwiyana menjelaskan karena sebagian besar penumpang menggunakan tiket single trip e-ticketing dan masih digunakannya tiket manual untuk kereta kelas ekonomi. “Kami akan meningkatkan jumlah tiket multitrip, yang saat ini baru sekitar 100.000. Dengan memakai multitrip maka tidak perlu lagi santre di stasiun,” ujarnya.

SUBSIDI PEMERINTAH
Senin, 1 Juli 2013 ini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberlakukan tarif baru kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek, termasuk menyesuaikan tarif KRL Commuter Line. Tarif baru yang berlaku mulai 1 Juli ini adalah Rp2.000 untuk lima stasiun pertama dan Rp500 rupiah untuk setiap tiga stasiun selanjutnya.

Meskipun dari sisi perhitungan PT KAI harga tiket yang harus dibayarkan setiap penumpang KRL Commuter Line mengalami kenaikan, yakni dari Rp9.000 menjadi Rp12.129 untuk Bogor – Jatinegarta, tetapi yang dirasakan oleh masyarakat justru mengalami penurunan. Begitu juga tarif KRL Ekonomi non AC Bogor – Jatinegara seharusnya Rp10.038 per penumpang, tetapi tetap hanya Rp2.000 per penumpang.

Kondisi seperti ini tidak lain dan tidak bukan karena adanya campur tangan pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Demi membantu masyarakat yang saat ini terbebani oleh kenaikan harga BBM, pemerintah memberikan subsidi kepada mereka melalui PSO antara Rp989 hingga Rp10.129 per penumpang KA Commuter Line (AC), dan mulai Rp684 hingga Rp8.038 per penumpang KA Ekonomi non AC.

Sebetulnya, subsidi itu tidak hanya diberikan kepada kereta ekonomi di wilayah perkotaan seperti Jadobetabek ini, tetapi juga diberikan kepada suluruh kereta ekonomi di Indonesia, baik jarak dekat, menengah, maupun jaraka jauh. Termasuk kereta ekonomi yang tidak menggunakan penyejuk udara (AC) maupun kereta ekonomi yang menggunakan penyejuk udara.

“Saya sangat salut dan berterima kasih atas perhatian pemerintah kepada para pengguna kereta api ekonomi, khususnya KRL ini. Sehingga meski pemerintah menaikan harga BBM, biaya transportasi saya tidak naik, malah berkurang,” kata Dedy G Anas, seorang pelanggan KRL, warga Cilebut, Bogor, Jawa Barat.

Bagaimana tidak senang, dengan akan diberlakukannya tarif baru per 1 Juli 2013 ini, dia yang biasa mengeluarkan membeli tiket KRL Commuter Line dari Cilebut ke tempat kerjanya di Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat Rp9.000, bakal berkurang separonya. Dengan pemberlakuan tarif baru yang disubsidi pemerintah tersebut, Dedy G Anas cukup merogoh koceknya Rp4.500 untuk sekali jalan ke kantor.

“Jadi pulang-pergi saya hanya akan mengeluarkan Rp9.000. Kebetulan kantor dan rumah saya dekat stasiun kereta api. Sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk angkot atau ojek,” katanya sumringah.

Dedy yakin bagi masyarakat yang harus menyambung transportasinya pakai angkot atau pun ojek akan merasa sangat terbantu dengan adanya subsidi dari pemerintah terhadap pengguna KRL Ekonomi dan Commuter Line ini. Bahkan mungkin akan banyak orang yang beralih menggunakan angkutan kereta api ketimbang harus menggunakan angkutan pribadi seperti sepeda motor ataupun mobil.

Bayangkan saja, harga BBM sekarang Rp6.500 per liter. Setidaknya mobil akan menghabiskan 12 liter premium untuk jarak Bogor-Jakarta, berarti sekitar Rp78.000. Sedangkan sepeda motor bisa menghabiskan sekitar tiga liter, berarti sekitar Rp19.500.

“Jadi masih mending naik kereta api, Rp9.000 PP dan gak capek, bisa sambil tidur,” tuturnya.(agus wahyudin).

loading...
Terbaru
Terpopuler
Terkomentari