Angkasa Pura 2

Pemerintah Tambah Subsidi, Tarif KRL Jabodetabek Turun

EmplasemenMonday, 1 July 2013

JAKARTA (beritatrans.com) – Mulai hari ini, 1 Juli 2013, jutaan penumpang KRL Jabodetabek menikmati tarif baru naik kereta. Lebih murah namun pelayanan mesti lebih baik. Berkah berupa penurunan tarif di saat harga BBM naik tersebut, jangan lantas dipahami sebagai PT Kereta Api Indonesia (KAI) bermurah hati untuk bersedia menelan kerugian.

Sebagai badan usaha walaupun milik negara, PT KAI dapat dijamin memiliki orientasi bisnis, yang tentu saja mencari laba gede. Contoh paling menyolok adalah mahalnya kereta jarak jauh untuk kelas bisnis dan eksekutif yang dioperasikan BUMN tersebut.

Saat peak season alias padat penumpang, tarif kereta sampai menguras dompet. Tarif kereta bahkan nyaris sama dengan tarif pesawat terbang, yang jelas lebih cepat waktu tempuhnya dan lebih nyaman pelayanannya.

Dalam konteks itu, maka sekali lagi jangan berpikir apalagi berharap PT KAI menjadi stabilisator dan dinamisator transportasi publik, yang murah, mudah dan nyaman. Kita mesti cerdas melihat realita bahwa dalam beberapa tahun terakhir, perkeretaapian kita berpotensi memiliki posisi sama dengan perusahaan swasta milik tauke-tauke di tanah air, yang hanya mengejar keuntungan.

Lalu dalam perkara tarif KA Jabodetabek bisa murah dan mulai 1 Juli 2013 turun tarif sehingga semakin di bawah dari perhitungan harga pokok, siapa yang menjadi sinterklas? Yang jelas dan pasti adalah pemerintah. Jadi terasa aneh bila iklan di televisi dan berita yang dibuat PT KAI dan PT KCJ soal penurunan tarif tersebut tidak menonjolkan subsidi dari pemerintah.

Data memperlihatkan, karena intervensi pemerintah, dalam hal ini melalui Ditjen Perkeretaapiaan Perhubungan (Kemenhub), tarif kereta Jabodetabek yang selama bertahun-tahun ini disubsidi dari APBN, mendapat subsidi tambahan karena adanya kenaikan harga BBM.

Itulah subsidi pertama dampak BBM, yang dirasakan rakyat secara permanen bisa dinikmati secara permanen setiap hari sepanjang tahun. Jauh lebih bermanfaat dan produktif ketimbang subsidi lewat BLSM (bantuan langsung sementara masyarakat), yang hanya selama tiga bulan diberikan secara tunai dan jumlah penerimanya jauh lebih kecil ketimbang penerima subsidi KRL Jabodetabek.

TARIF TURUN
Subsidi kepada penumpang KRL Jabodetabek itu melalui skema PSO (passenger service obligation) antara Rp989 hingga Rp10.129 per penumpang KA Commuter Line (AC), dan mulai Rp684 hingga Rp8.038 per penumpang KA Ekonomi non AC.

Sebetulnya, subsidi itu tidak hanya diberikan kepada kereta ekonomi di wilayah perkotaan seperti Jadobetabek ini, tetapi juga diberikan kepada suluruh kereta ekonomi di Indonesia, baik jarak dekat, menengah, maupun jaraka jauh. Termasuk kereta ekonomi yang tidak menggunakan penyejuk udara (AC) maupun kereta ekonomi yang menggunakan penyejuk udara.

Dengan subsidi tersebut, maka PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberlakukan tarif baru kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek, termasuk menyesuaikan tarif KRL Commuter Line.
Tarif yang sekarang berlaku adalah Bogor – Jakarta Rp9.000 dan untuk jarak dekat sebesar Rp6.000. Sedangkan tarif baru yang berlaku mulai 1 Juli ini adalah Rp2.000 untuk lima stasiun pertama dan Rp500 rupiah untuk setiap tiga stasiun selanjutnya.

Meskipun dari sisi perhitungan PT KAI harga tiket yang harus dibayarkan setiap penumpang KRL Commuter Line mengalami kenaikan, yakni dari Rp9.000 menjadi Rp12.129 untuk Bogor – Jatinegarta, tetapi yang dirasakan oleh masyarakat justru mengalami penurunan.
Begitu juga tarif KRL Ekonomi non AC Bogor – Jatinegara seharusnya Rp10.038 per penumpang, tetapi tetap hanya Rp2.000 per penumpang.(aliy/agus wahyudin).