Angkasa Pura 2

Dwelling Time Tinggi di Tanjung Priok Untungkan Pengelola Pelabuhan

DermagaKamis, 11 Juli 2013
pelabuhan tanjung priok

JAKARTA (beritatrans.com) – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mensinyalir ada kesan sengaja dibiarkan waktu bongkar muat (dwelling time) hingga belasan hari

Syafrizal BK, Wakil Ketua Kadin DKI Bidang Transportasi, Logistik dan Kepelabuhanan mengkhawatirkan kondisi dweeling time bahkan tingkat isian lapangan penumpukan (YOR) yang tidak efisien seakan-akan dibiarkan.

“Sebab, kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama, terutama sejak tiga tahun terakhir yang semakin parah, tetapi belum ada perubahan bahkan dweeling time dan YOR di Priok semakin parah,” katanya, kemarin.

Hal senada dikemukakan Ketua Komite Tetap Pelaku dan Penyedia Jasa Logistik Kadin Indonesia Irwan A. Hasman. Irwan mengemukakan kondisi YOR di Priok tidak pernah normal dan selalu tinggi serta berakibat kepada dweeling time, akan bermuara kepada biaya transportasi dan logistik, baik laut maupun darat. Sekarang YOR di Priok sudah di atas 100 peersen, maka kondisi pelabuhan terjadi kongesti.

“Melihat fakta seperti ini, dapat dikatakan bahwa pengelolaan pelabuhan tidak berhasil dalam mengantisipasi pertumbuhan arus barang,” katanya.

Diakui, ada pihak yang diuntungkan akibat YOR dan Dweeling Time tinggi, terutama operator pelabuhan mengingat kepadatan yang terjadi saat ini justru mampu menghasilkan income tambahan dari tarif progresif yang diberlakukan sehingga muncul kesan selama tiga tahun terakhir, operator pelabuhan enggan memindahkan peti kemas dari YOR ke back up area.

Karenanya, dia menegaskan KADIN menagih janji pemerintah untuk menurunkan dweelling time hingga tiga hari di Pelabuhan Tanjung Priok, sebagaimana telah diInstruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Janji itu harusnya ditepati, agar ada kepastian bagi pelaku usaha di sektor transportasi. Kadin berharap, baik operator pelabuhan, otoritas pelabuhan, Bea dan Cukai maupun pihak-pihak lainnya agar dapat bersinerji untuk membereskan Pelabuhan Tanjung Priok yang sehari-hari makin kusut dan menjadi sumber inefisiensi logistik nasional karena pembenahannya sejauh ini masih berjalan lambat.

Sampai saat ini seluruh proses pengeluaran barang, baik melalui Jalur Merah, maupun Jalur Hijau dan Jalur Kuning belum berjalan sebagaimana yang menjadi harapan dunia usaha. “Belum aada kepastian,” cetus Irwan.

Sebagai catatan, katanya, Jalur Merah seharusnya bisa ditekan menjadi satu minggu, sekarang bahkan kadang bisa mencapai satu bulan. Sedangkan jalur hijau harusnya dapat ditekan menjadi dua hari dari kondisi sekarang tiga sampai empat hari, sedangkan jalur kuning bisa ditekan menjadi tiga hari dari kondisi sekarang mencapai tujuh hari.

TAK DIPERBAIKI
Ketua Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) Gemilang Tarigan mengingatkan pertumbuhan arus barang melalui pelabuhan Tanjung Priok selama ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi yang positif di Indonesia serta adanya pengalihan pasar perdagangan ke Indonesia.

“Sementara kondisi Pelabuhan Tanjung Priok selama tiga tahun terakhir tidak mengalami perbaikan secara signifikan. Seharusnya PT Pelindo II lebih konsen membehani pelabuhan, bukan ke yang lain,” katanya.(aw)