Angkasa Pura 2

Pasar Terapung Banjarmasin, Wisata Ekobahari Sarat Tradisi

DestinasiSelasa, 16 Juli 2013
pasar-terapung-4

BERKUNJUNG ke Banjarmasin terasa tak lengkap jika belum singgah ke pasar tradisional yang berada di aliran Sungai Barito di Muara Sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. ‘Pasar Terapung’ itulah pasar tradisional yang entah sejak kapan berada.

Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar yang menjual beragam hasil produksi pertanian dan perkebunan ini mulai beroperasi setelah shalat Subuh sampai matahari mulai beranjak.

Untuk mencapai Pasar Terapung tidak sulit, banyak akses yang bisa ditempuh tergantung dari mana kita menginap. Kalau sekitar wilayah Jalan Pangeran Antasari atau Jalan Achmad Yani, bisa naik dari dekat Pasar Sudi Mampir.

Bisa juga naik dari depan siring atau bantalan Sungai Martapura sekitar Masjid Sabilal Muhtaddin atau depan Kantor Gubernur. Perjalanan menuju Pasar Terapung Kuin sekitar 45 menit dengan perahu mesin atau klotok biayanya antara Rp100.000-Rp300.000/perahu. Sementara kalau sendiri sekitar Rp70.000-Rp100.000.

Namun bila Anda membawa motor atau mobil dari penginapan, lebih baik Anda berangkat dari dermaga Kuin Utara di depan Masjid Sutan Suriansyah atau bisa juga di dermana Kuin Selatan, dekat dengan Depo Pertamina. Kedua dermaga ini lokasi terdekat ke Pasar Terapung, sekitar 15-20 menit perjalanan. Biayanya pun bisa lebih murah antara Rp100.000-Rp150.000/perahu.

Pasar Terapung salah satu tujuan wisata para turis domestik dan mancanegara. Wisata ini menarik dan berbeda dengan jenis wisata lainnya. Selain jenisnya yang memang sangat khas karena pasar ini berada di atas air yang mungkin tidak bisa ditemui di daerah lain.

seorang pedagang di Pasar Terapung Kuin Banjarmasin

seorang pedagang di Pasar Terapung Kuin Banjarmasin

Di sisi lain, pemandangan yang bisa dinikmati pelancong tidak lain pemandangan kesibukan para pedagang produk pertanian dan perkebunan, tidak hanya berupa sayur mayur, buah-buahan yang mungkin tidak ada di daerah lain, seperti buah Kasturi – sejenis mangga bentuknya kecil, tapi juga disini banyak juga pedagang makanan untuk sarapan pagi, seperti soto Banjar, penganan khas Banjarmasin.

Dimulai dari perjalanan dari anak sungai Barito pelancong dapat menikmati pemandangan rumah-rumah yang berjajaran tepi sungai. Tidak hanya itu, kesibukan dipinggir sungai pun tampak alami, seperti mencuci pakaian, mencuci pering bahkan mandi di sungai ini. Sekitar 20 menit kemudian  sungai Barito yang lebar itu menyambut pagi hari kami.

Perahu klotok membawa kami menelusuri Barito dengan pemandangan matahari terbit. Perjalanan selama 20 menit itu membawa kami hingga ke titik pasar terapung yang terkenal itu. Kesibukan para pegadang, wisatawan pun terlihat ramai. Seakan tidak mau kalah dengan turis bule entah dari mana, kami pun mengabadikan berbagai kesibukan di Pasar Terapung.

Terlihat beberapa klotok dikemudikan oleh ibu-ibu paruh baya dan nenek-nenek membawa dagangan. Pisang, makanan kecil, jajanan dan sayur-mayur untuk dijual dengan sesama dan juga untuk wisatawan, termasuk ke klotok kami. Suasana begitu penuh dengan lalu lalang para wisatawan yang menikmati pemandangan para pedagang berperahu itu.

Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas Sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan Perahu dalam Bahasa Banjar.

Pasar ini mulai setelah  shalat Subuh sampai selepas pukul 08:00 pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya.

Dengan menyaksikan panoramanya, wisatawan seakan-akan sedang tamasya. Jukung-jukung dengan sarat muatan barang dagangan sayur mayur, buah-buahan, segala jenis ikan dan berbagai kebutuhan rumah tangga tersedia di pasar terapung.

Ketika matahari mulai muncul berangsur-angsur pasar pun mulai menyepi, sang pedagang pun mulai beranjak meninggalkan pasar terapung membawa hasil yang diperoleh dengan kepuasan.

Suasana pasar terapung yang unik dan khas adalah berdesak-desakan antara perahu besar dan kecil saling mencari pembeli dan penjual yang selalu berseliweran kian kemari dan selalu oleng dimainkan gelombang sungai barito.

Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antarpara pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, sesuatu yang unik dan langka.

Barang-barang yang dijual selain bahan-bahan kebutuhan pokok sehari-hari juga dijual makanan siap saji seperti soto banjar, nasi kuning dan kue-kue, selain itu ada juga warung diatas kapal dimana didalamnya tersedia meja dan kursi untuk makan layaknya seperti sebuah warung kopi dipinggir jalan. Ciri khas dari Pasar Terapung ini adalah banyaknya perahu besar dan kecil yang saling berdesak-desakkan mencari pembeli dan penjual yang mondar-mandir kesana kemari.

Pasar Terapung ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan dunia untuk berkunjung ke Indonesia karena memiliki nilai jual tinggi. Untuk melestarikan dan mempertahankan Pasar Terapung ini, maka diadakanlah perayaan Festival Pasar Terapung di tepi sungai Martapura. Berbagai macam atraksi digelar di festival ini seperti tari-tarian, banyanyi, bagasing, balogo, mahidin dan beraneka adat dan budaya.

Saling barter dagangan di Pasar Terapung sudah menjadi hal biasa

Saling barter dagangan di Pasar Terapung sudah menjadi hal biasa

Bertarung di Tengah Modernisasi

Modernisasi perdagangan di darat, seperti Pasar Kalindo, Pasar Pasir Mas, yang tak jauh dari Pasar Terapung, tidak menyurutkan para pegadang di Pasar Terapung. Mereka tetap bertahan entah sampai kapan. Apalagi, di pasar satu ini selain terjadi transaksi jual beli antara barang dengan uang, tetapi hingga saat ini masih terjadi perdagangan barter antar pegadang.

Boleh jadi bagi sebagian orang berpikir untuk apa susah-susah turun ke sungai buat belanja. Toh sudah ada pasar yang menjual produk serupa di darat. Namun ibu-ibu paruh baya, dan nenek dan bapak d an kakek-kakek para pedagang itu tetap bertahan perjualan di Pasar Terapung, padahal mereka juga tinggal di darat, bukan di atas air. Lagi-lagi karena ada hukum ekonomi, ada pembeli pasti ada penjual atau sebaliknya. Toh hingga saat ini pertarungan perekonomian di Pasar Terapung tetap berjalan.

Di sisi lain, pemda setempat pun merasa diuntungkan dengan keberadaan Pasar Terapung, karena wilayah tersebut menjadi tempat wisata tersendiri bagi turis domenstik dan mancanegara. Pasar Terapung menjadi tontonan tersendiri bagi para wisatawan. Entah apa yang dirasakan para pedagang suku Banjar itu, mungkin mereka senang karena mereka bisa mendatangkan wisatawan untuk mampir ke Banjar.

Satu sisi mungkin mereka miris melihat tak mampunya mereka melawan jaman, kini mereka nyaris di singkirkan dengan adanya pasar-pasar modern dan akses menuju sungai semakin sulit dibandingkan akses jalan darat.

Susah memang, dengan kondisi saat ini untuk tetap mempertahankan eksistensi pasar terapung. Gaya hidup orang Banjar modern yang lebih memilih untuk berbelanja di pasar modern. Namun bagamanapun Pasar Terapung adalah suatu khas budaya suku Banjar yang harus dipertahankan. Pasar Terapung masih bisa menjadi objek menarik yang mengundang wisatawan untuk mampir ke Banjarmasin.(machda)