Angkasa Pura 2

Tradisi Lebaran dan Mudik Ramah Anak

KoridorSenin, 5 Agustus 2013
giwo-rubianto-wiyogo-013

Ir. Dra. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd

MUDIK adalah kegiatan perantau/ pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik berasal dari bahasa jawa “Mulih Dhisik” yang artinya pulang dulu.

Mudik di  Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran.  Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Tradisi mudik hanya ada di Indonesia.

Antusiasme masyarakat dalam mudik lebaran cukup besar. Dengan berbagai macam persiapan, baik tenaga, finansial, kendaraan, pakaian dan oleh-oleh perkotaan. Ditambah lagi dengan gengsi bercampur pamer, mewarnai gaya mudik.

Kadang dengan terpaksa harus menguras kocek secara berlebihan, bahkan sampai harus berhutang. Faktanya, menjelang Hari Raya ‘Idul Fitri, kantor pegadaian menjadi sebuah tempat yang paling ramai dipadati pengunjung yang ingin berhutang.

Mudik Lebaran sudah menjadi tradis tahunan di Indonesia. Namun karena kurang memperhatikan faktor keselamatan, tradisi ini juga menimbulkan malapetaka di Jalanan. Dalam banyak kasus, anak-anaklah yang menjadi korban pertama, baik sebagai korban langsung maupun menjadi yatim/piatu karena orangtuanya meninggal atau cacat akibat kecelakaan.

Tahun 2012 lalu, angka kecelakaan selama arus mudik dan balik Lebaran mencapai 5.233 kasus. Dari jumlah ini, kecelakaan banyak menimpa mengendara sepeda motor hingga 72% kasus. Padahal, dalam banyak kasus anak juga menjadi bagian dari korban kecelakaan.

Karena anak-anak selalu menjadi korban maka, mewujudkan mudik ramah anak menjadi keharusan. Hak anak untuk mendapatkan keselamatan dan perlindungan harus diperhatikan.

Beberapa penyebab anak menjadi korban adalah sistem transportasi yang buruk, infrastruktur jalan rusak, rambu lalu lintas kurang, harga tiket mahal, alat transportasi mahal, layanan kesehatan gratis minim, tempat istirahat tidak memadai, dan kesadaran masyarakat kurang.

Karena itu, Pemerintah harus segera mengambil inisiatif terdepan dan langkah cepat guna menfasilitasi mudik yang ramah bagi anak. Beberapa tips mudik ramah anak yang perlu dikembangkan meliputi:

Tidak membawa anak mudik dengan sepeda motor, apalagi untuk perjalanan yang jauh, hal tersebut sangat melelahkan untuk anak. Anak akan terpapar debu sepanjang jalan dan membahayakan psikologinya.

Jika hendak membawa motor untuk mudik, sebaiknya titipkan motor pada tempat-tempat penitipan yang banyak disediakan oleh berbagai lembaga yang aman.

Apabila anak ikut dalam mudik dengan menggunakan angkutan umum, upayakan agar anak tidak ikut berdesak-desakan. Ingat, anak bukan barang yang bisa diselipkan di tengah kendaraan yang penuh penumpangnya. Perhatikan juga sirkulasi udara dalam bis, kenyamanan tempat duduk dan minta supir untuk tidak ugal-ugalan sepanjang perjalanan.

Siapkan mainan yang disukai anak-anak untuk menemaninya sepanjang perjalanan. Siapkan juga permainan sederhana yang bisa dimainkan anak-anak dengan orang tua sepanjang perjalanan.

Siapkan obat-obatan atau vitamin. Obat-obatan anti mabuk perjalanan, minyak angin, flu, gatal-gatal adalah beberapa obat yang dibutuhkan sepanjang perjalanan.

Jika anda menggunakan kendaraan pribadi, pastikan mobil anda sehat. Periksa kondisi mesin, oli mesin, serta ban cadangan. Periksa juga perlengkapan dalam mobil, seperti: senter, segitiga pengaman, dongkrak, payung, jas hujan dan kotak P3K.

Sebagai edukasi, jelaskanlah kepada anak ciri khas mengenai kota-kota yang dilalui. Selain bisa menambah pengetahuan anak, bercerita dengan menarik juga bisa membuang rasa jenuh sepanjang perjalanan.

Sering-seringlah beristirahat di tempat-tempat yang telah disediakan. Jangan paksakan mengemudi ketika kondisi badan sudah lelah. Jangan kebut-kebutan. (aw)

 

loading...