Angkasa Pura 2

Lion Air Pesan 100 Pesawat dari PT DI

KokpitSabtu, 17 Agustus 2013
lion air-banyak parkir di bandara soetta

JAKARTA (beritatrans.com) – Maskapai penerbangan swasta nasional, Lion Air memesan 100 pesawat jenis N219 produksi PT Dirgantara Indonesia (DI).  Setelah sebelumnya, memesan 50 unit pesawat jenis N219 pada pekan lalu, kali ini Lion Air kembali memesan 50 unit pesawat.

“Pemesanan yang dilakukan pihak Lion Air terjadi pada saat liburan Hari Raya Lebaran tahun ini. Dimana, Direktur Utama PT DI, Budi Santoso yang didampingi Direktur Teknologi PT DI, Andi Alisjahbana telah bertemu dengan CEO Lion Air, Rusdi Kirana,” jelas Manajer Komunikasi PT DI, Sonny Saleh Ibrahim di Jakarta, Jumat (16/8/2013).

Menurut dia, Lion Air merencanakan akan memiliki 1.000 pesawat berbagai jenis, di mana 100 unit di antaranya adalah N219 pesawat multiguna 19 penumpang. PT DI sudah merintis pengembangannya sejak 2007.

Sonny menyebutkan, pada 2015, PT DI akan segera merampungkan dua unit pesawat sebagai prototype. Begitu pula proses sertifikasi dua pesawat prototype yang akan diselesaikan pada 2015. Sedangkan, produksi serial pertama empat unit akan diselesaikan PT DI pada 2016.

Selain itu, jelas dia, kapasitas produksi PT DI terkait pesawat perintis tersebut 12 unit per tahun. Yang otomatis unit ke 100 akan selesai pada tahun 2024. “Pesawat N219 dirancang untuk daerah perintis dengan landasan pendek dan bukan aspal serta harga terjangkau,” tambahnya.

 

Harga USD4,5 juta-USD5 juta

Ibrahim menjelaskan, PT Dirgantara Indonesia (DI) akan menjual pesawat perintis pada Lion Air. PT DI dipilih karena terjangkau dan mampu bersaing dengan pesawat sekelasnya. Harga dari pesawat perintis buatan PT DI sangat murah. PT DI membandrol pesawat perintis itu berkisar seharga USD4,5 juta-USD5 juta.

Tidak hanya itu, pesawat perintis milik PT DI ini memiliki kandungan lokal pada awal produksi sekitar 40 persen, yang secara bertahap dinaikkan sehingga pada produksi yang ke 30, kandungan lokalnya sudah 60 persen.

“Artinya pekerjaan dan biaya pembuatan 100 unit N219 lebih banyak diserap di dalam negeri dan N219 memberikan kandungan lokal lebih banyak dari pada pesawat-pesawat produksi PTDI yang lain,” ujarnya.

Ibrahim meyakini, N219 bisa menjadi produk PTDI yang bisa mengangkat industri dalam negeri. Kandungan impor-nya 40 persen terdiri dari mesin, avionics, radio dan elektronika.

Dengan begitu, tambah Sonny, kerjasama yang dilakukan PT DI dengan Lion Air akan diresmikan pada Hari Teknologi Nasional (Harteknas) yang sekaligus melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua belah pihak. (machda)

loading...