Angkasa Pura 2

Menjelajah Objek Wisata di Cigugur-Kuningan

DestinasiSabtu, 17 Agustus 2013
cigugur_terapi ikan kancrabodas

OBJEK wisata Cigugur, Kabupaten Kuningan, sejak lama dikunjungi wisatawan untuk refreshing sambil berenang di antara ikan kancra bodas yang dianggap keramat oleh warga sekitar. Kawasan wisata tersebut juga diramaikan oleh penjual kacang yang menawarkan dagangannya kepada wisatawan yang tertarik untuk memberi makan ikan keramat tersebut.

Selain kolam ikan kancra yang terkenal itu, di Kecamatan Cigugur juga tedapat objek wisata lain seperti taman purbakala Cipari, peseban tri panca tunggal, dan kegiatan tahunan yang diberi nama upacara Seren Taun.

Kolam Cigugur merupakan Kolam Keramat peninggalan Raja Sunda Galuh Pakuan Prabu Resi Guru Darmasiksa Sanghyang Wisnu yang memerintah (1175-1297 M). Prabu Darmasiksa berhasil membawa Kerajaan Sunda ke Puncak Keemasan dan berhasil menyatukan kembali Galuh dan Pakuan kedalam satu pemerintahan, Wilayah Kerajaan Sunda waktu itu meliputi Lampung, Banten, Jawa Barat sampai ke Sungai Cipamali atau Kali Pemali Brebes Jawa Tengah.

Prabu Darmasiksa selain seorang raja juga merupakan seorang resi yang arif dan bijaksana dan berhasil melahirkan ajaran Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Kundangeun Urang Reya (berisi ajaran budi pekerti yang luhur) yang beberapa abad kemudian dilaksanakan oleh keturunannya yaitu Sribaduga Maharaja Jaya Dewata (Prabu Siliwangi), Raja Pakuan Pajajaran.

Pada masa Prabu Darmasiksa memerintah pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Tatar Sunda berkembang pesat hal itu ditandai dengan didirikannya Mandala/ Kabuyutan (Pusat Ilmu Pengetahuan, Pengobatan, dan Kebudayaan) di hampir seluruh wilayah Kerajaan Sunda. Masing- masing Mandala dipimpin oleh seorang Wiku/ Resi sehingga sering juga disebut Desa Kawikuan.

Salah satu Mandala/Kabuyutan tersebut adalah Mandala/Kabuyutan Cigugur Kuningan yang dipimpin oleh seorang Resi bernama Ki Gede Padara. Mandala/Kabuyutan yang dikeramatkan (disakralkan) umumnya ditempatkan pada tempat-tempat kritis yang dilindungai diantaranya Sumber Mata Air, Gunung, Bukit, Pinggir Sungai, dan tempat- tempat kritis lainnya. Tujuan penempatannya adalah untuk melindungi tempat- tempat tersebut agar tetap terjaga kelestariannya.

Prabu Resi Guru Darmasiksa memerintah kerajaan Sunda Galuh Pakuan selama 122 tahun dimana 12 tahun pertama dilakukan di Saunggalah (Kabupaten Kuningan saat ini) dan kemudian setelah itu pindah ke Pakuan (Bogor saat ini). Salah satu Mandala yang bertahan sama persis seperti aslinya sampai sekarang adalah Kabuyutan Kanekes (Desa Kawikuan “Baduy” Banten).

Beberapa Mandala/Kabuyutan yang ada di Kabupaten Kuningan yang sekarang sudah berubah fungsi menjadi Obyek Wisata diantaranya Obyek Wisata Cigugur, Obyek Wisata Talaga Remis, Obyek Wisata Paniis, Obyek Wisata Balong Dalem, Obyek Wisata Cibeureum, Obyek Wisata Cibulan, Obyek Wisata Balong Darmaloka, dan Situs Kebon Balong Sangkanhurip.

Prabu Resi Guru Darmasiksa sangat panjang umur karena beliau menganut prinsip hidup yang sangat luhung yaitu Ajaran Kasundaan. Sunda sendiri artinya putih bersih/cemerlang, ajaran Kasundaan yang dianut oleh Prabu Darmasiksa adalah bagaimana menjaga hati dan pikiran selalu putih bersih/cemerlang terbebas dari iri dengki dan sifat- sifat negatif yang akan membawa keburukan kepada umat manusia.

Sanghyang Siksa Kandang Ng Karesian Kundangeun Urang Reya mengajarkan manusia untuk memahami tentang Ethos Kasundaan yaitu keluhungan budi pekerti yang baik dan secara prinsip dapat dipahami sebagai 5 ethos kebudayaan Sunda yaitu Cageur (Sehat Jasmani dan Rohani), Bageur (Baik dan Luhung Budi Pekertinya, senantiasa menjaga nilai-nilai integritas dan kemanusiaan), Bener (Menjaga nilai-nilai kebenaran universal dan selalu bertindak jujur), Singer (Mawas diri dan tidak sombong), dan Pinter (Pandai/Cerdas memiliki pikiran yang panjang dan selalu berfikir positif).

Menurut cerita apabila mengamalkan ajaran tersebut maka tidak akan kena penyakit dan tidak akan mati, secara prinsip dapat dipahami bahwa orang yang memiliki hati bersih tentunya tidak akan terkena penyakit hati seperti iri, dengki, syirik, dan lain sebagainya serta tidak akan mati dalam artian karena kebaikannya namanya akan selalu hidup dan dikenang sepanjang jaman (tidak akan mati).

***

Terapi Ikan Alami Cigugur Kuningan

Kolam Terapi Ikan Alami Cigugur merupakan Pusat Terapi Ikan Alami Pertama di Indonesia. Terapi ikan alami Cigugur merupakan sarana terapi medis alami yang telah diyakini masyarakat Kabupaten Kuningan, Cirebon, dan sekitarnya dapat membantu menyembuhkan berbagai macam penyakit degeneratif seperti Stroke, Jantung, Kanker, Hipertensi, Diabetes, Rematik, Ginjal, dan lainnya.

Sensasi Terapi Ikan Alami Cigugur secara medis hampir mirip dengan Terapi Tusuk Jarum/ Akupuntur atau Accupressure dimana sensasi yang dirasakan serasa ditusuk- tusuk jarum dan apabila mengenai titik- titik syaraf akupuntur maka Terapi Ikan ini dapat membantu melancarkan peredaran darah, mengurangi stres, dan membantu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kejutan- kejutan akibat gigitan ikan memiliki sensasi yang sama dengan Accupressure yang dapat membantu menyembuhkan berbagai penyakit degeneratif. Terapi ikan umumnya dilakukan pada daerah sekitar kaki dan seperti diketahui kaki merupakan sumber titik- titik syaraf yang seringkali digunakan oleh para terapis untuk melakukan terapi akupuntur ataupun pijat refleksi.

Melakukan secara rutin terapi ikan alami minimal 2 kali dalam seminggu selama 30 menit diyakini dapat membantu mencegah berbagai macam penyakit degeneratif seperti Stroke, Rematik, Serangan Jantung, Ginjal, dan berbagai penyakit lainnya. Selain untuk mencegah berbagai macam penyakit Terapi Ikan Alami diyakini berkhasiat untuk membantu mengobati berbagai macam penyakit degeneratif seperti Stroke, Kanker, Ginjal, Hipertensi, dan lainnya.

***

Paseban Tri Panca Tunggal

Paseban Tri Panca Tunggal adalah sebuah cagar budaya nasional di daerah Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, yang menyerupai sebuah padepokan dan tempat menimba ilmu budi dan kebatinan serta seni budaya, yang didirikan oleh Pangeran Sadewa Madrais Alibasa, pewaris tahta Kepangeranan Gebang, Cirebon Timur, pada tahun 1840.

Adalah karena berkali-kali melawan kehendak VOC, maka pada awal abad ke-18 Kepangeranan Gebang diserbu dan dibumihanguskan oleh VOC, gelar kepangeranan pun dicabut, dan wilayah Gebang yang mencakup daerah Ciawi sampai ke perbatasan Cilacap akhirnya dibagi-bagi untuk Keraton Kanoman, Kacirebonan dan Kasepuhan.

Bangunan gedung Paseban Tri Panca Tunggal, dengan atap bertingkat dan di puncaknya terdapat tonggak ulir berujung kelopak dan bulir bunga berbentuk bulat gemuk lonjong yang menyerupai roket terbalik. Bangunan Paseban Tri Panca Tunggal ini telah mengalami renovasi pada 1971 dan 2007.

Tidak lama setelah kami masuk ke dalam gedung Paseban Tri Panca Tunggal, seorang wanita muda berparas ayu menemui kami, dan memperkenalkan diri bernama Juwita Jati, dengan nama panggilan Tati. Pangeran atau Kyai Madrais, adalah kakek buyut Tati. Ayah Tati, Pangeran Jati Kusumah, adalah yang sekarang memimpin Paseban Tri Panca Tunggal.

Menurut penuturan Tati, Pendopo menggambarkan keadaan ketika manusia sudah lahir di alam dunia. Karenanya tangga pada pendopo Paseban Tri Panca Tunggal ini aslinya ada 5 buah, melambangkan panca indera yang harus menjadi saringan bagi manusia, baik yang bersumber dari dalam ke luar atau pun dari luar ke dalam.

Ruang pendopo Paseban Tri Panca Tunggal ini ditopang oleh 11 pilar, dengan dasar tiang berbentuk lingkaran. Ruangan lain di Paseban Tri Panca Tunggal adalah Ruang Jinem, Pasengetan, Pagelaran, Sri Manganti, Mega Mendung (ruang kerja Pangeran Jatikusumah), dan Dapur Ageng. Di Dapur Ageng yang saat itu masih direnovasi, terdapat tungku perapian berhias naga di keempat sudutnya dan di atasnya terdapat hiasan mahkota.

Di sebelah belakang pendopo Paseban Tri Panca Tunggal terdapat ruang Sri Manganti yang digunakan sebagai tempat pertemuan, seperti persiapan upacara Seren Taun yang diselenggarakan setahun sekali. Ruang Sri Manganti Paseban Tri Panca Tunggal juga dipergunakan sebagai tempat untuk menerima tamu, dan upacara pernikahan. Tati bertutur bahwa ruang Sri Manganti di Paseban Tri Panca Tunggal adalah ruang rasa di mana manusia harus menemukan sebuah kebijakan dalam hidup.

Relief Resi Wisesa Sukmana Tunggal yang berada di ruang Jinem. Setelah Kepangeranan Gebang dibumihanguskan oleh VOC, satu-satunya putra mahkota yang masih hidup adalah Pangeran Sadewa Madrais Alibasa, yang ketika itu masih kanak-kanak.

Pangeran Madrais kemudian dititipkan pada Ki Sastrawardhana yang tinggal di Cigugur, dengan pertimbangan keamanan dan karena Cigugur pernah pula digunakan oleh Tentara Mataram sebagai basis ketika menyerang VOC di Batavia. Di usia 18 tahun, di tahun 1840, Pangeran Madrais membangun gedung Paseban ini.

Dua gadis remaja yang masih menggunakan seragam sekolah menengah pertama tampak tengah belajar menari, dibimbing oleh seorang pelatih di Ruang Jinem. Ruang Jinem, menurut Tati, menggambarkan proses penciptaan, dimana ada karakter dan pengaruh 4 unsur, yaitu tanah, air, angin, dan api. Ruangan Jinem ini cukup luas dengan empat buah soko guru berukuran besar terbuat dari beton dengan umpak berukir, dan beberapa pilar kayu yang juga berukir halus di beberapa bagiannya.

Seperangkat gamelan yang berada di ruang Jinem Paseban Tri Panca Tunggal. Pada tahun 1978, Paseban Tri Panca Tunggal ditetapkan oleh pemerintah sebagai Cadar Budaya Nasional, dan uniknya Paseban Tri Panca Tunggal mendapatkan dana renovasi dari Dinas Pekerjaan Umum, bukan dari dinas yang lain.

Sebuah ukiran kayu unik yang berada di bagian sebelah kanan ruang Jinem Paseban Tri Panca Tunggal. Menurut penuturan Tati, nama Paseban Tri Panca Tunggal berasal dari kata Paseban yang berarti tempat pertemuan, Tri yang terdiri rasa – budi – pikir, Panca adalah panca indera, dan Tunggal adalah yg Maha Tunggal.

Arti filosofisnya, ketika manusia bisa mengharmoniskan, menyelaraskan atau menyeimbangkan rasa – budi – pikir, lalu menerjemahkannnya melalui panca indera ketika mendengar, melihat, berbicara, bersikap, bertindak, melangkah, maka itulah yg akan memanunggalkan manusia dengan Yang Maha Tunggal.

Sisi pandang lain dari ruang Jinem. Semasa hidupnya Pangeran yang lebih dikenal sebagai Kyai Madrais itu memberi ajar kerohanian dan agama, namun sempat bermasalah karena adanya perbedaan dengan ajaran baku, dan setelah identitasnya diketahui oleh Belanda ia pun difitnah dan diasingkan ke Merauke pada tahun 1901-1908.

***

Taman Purbakala Cipari

Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur adalah salah satu tempat ditemukannya peninggalan kebudayaan prasejarah di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Selain Cipari, ada paling sedikit delapan tempat di sekitar kaki gunung Ciremai yang terdapat peninggalan bercorak Megalitik, Klasik, Hindu-Buddha, dan kolonial Belanda.

Di Cipari sendiri ditemukan tiga peti kubur batu yang di dalamnya terdapat bekal kubur berupa kapak batu, gelang batu, dan gerabah. Bekal kubur ini masih tersimpan dalam bangunan museum.

Di dalam peti tidak ditemukan kerangka manusia, karena tingkat keasaman dan kelembapan tanah yang terletak 661 meter dpl itu terbilang tinggi, sehingga tulang yang dikubur mudah hancur.

Area ditemukannya artefak-artefak batu dan gerabah masih tertata baik, juga tingkat kedalaman benda-benda itu terkubur masih orisinal. Peti kubur yang terbuat dari batu indesit besar berbentuk sirap masih tersusun di tempatnya semula. Mengarah ke timur laut barat daya yang menggambarkan konsep-konsep kekuasaan alam, seperti matahari dan bulan yang menjadi pedoman hidup dari lahir sampai meninggal.

Peti kubur batu yang ada situs purbakala Cipari ini memiliki kesamaan dengan fungsi peti-peti kubur batu di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Masyarakat Sulawesi Utara menyebut peti kubur batu sebagai waruga, masyarakat Bondowoso menyebutnya pandusa, dan masyarakat Samosir menyebutnya tundrum baho.

Luas Situs Taman Purbakala Prasejarah Cipari 6.364 meter persegi. Artefak-artefak, yakni peti kubur batu, gerabah, gelang batu, beliung persegi, kapak perunggu, dan manik-manik ditemukan pada beberapa kali penggalian.Berdasar temuan itulah situs ini diduga berasal dari masa perundagian (paleometalik atau perunggu-besi) yang masih melanjutkan tradisi megalitik, sekitar tahun 1.000—500 SM. Saat itu masyarakat sudah mengenal cocok tanam dan organisasi yang baik.

Situs Museum Taman Purbakala Cipari berada di lingkungan Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Terletak di daerah berbukit dengan ketinggian 661 meter dpl, di kaki gunung Ciremai bagian timur dan bagian barat kota Kuningan. Cipari berjarak 4 kilometer dari ibukota Kuningan dan 35 kilometer dari kota Cirebon.

Area ini sebelumnya adalah tanah milik Bapak Wijaya serta milik beberapa warga lainnya. Pada tahun 1971, Bapak Wijaya menemukan batuan yang setelah diteliti ternyata peti kubur batu, kapak batu, gelang batu, dan gerabah.

Setelah diadakan penggalian percobaan dengan tujuan penyelamatan artefak tahun 1972, tiga tahun kemudian diadakan penggalian total. Setahun kemudian dibangun Situs Museum Taman Purbakala Cipari. Pada 23 Februari 1978 museum diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. DR. Syarif Thayeb. (machda)