Angkasa Pura 2

Malioboro Antara Cuci Mata dan Surga Cinderamata

DestinasiJumat, 30 Agustus 2013
malioboro

YOGYAKARTA (beritatrans.com) – Matahari bersinar terik saat ribuan orang berdesak-desakan di sepanjang Jalan Malioboro. Mereka tidak hanya berdiri di trotoar namun meluber hingga badan jalan. Suasana begitu gaduh dan riuh. Teriak tawa, jerit klakson mobil, alunan gamelan kaset, hingga teriakan pedagang yang menjajakan makanan dan mainan anak-anak berbaur menjadi satu.

Dalam bahasa Sansekerta, Malioboro berarti jalan karangan bunga karena pada zaman dulu ketika Keraton mengadakan acara, jalan sepanjang 1 km ini akan dipenuhi karangan bunga. Meski waktu terus bergulir dan jaman telah berubah, posisi Malioboro sebagai jalan utama tempat dilangsungkannya aneka kirab dan perayaan tidak pernah berubah.

Hingga saat ini Malioboro, Benteng Vredeburg, dan Titik Nol masih menjadi tempat dilangsungkannya beragam karnaval mulai dari gelaran Jogja Java Carnival, Pekan Budaya Tionghoa, Festival Kesenian Yogyakarta, Karnaval Malioboro, dan masih banyak lainnya.

Sebelum berubah menjadi jalanan yang ramai, Malioboro hanyalah ruas jalan yang sepi dengan pohon asam tumbuh di kanan dan kirinya. Jalan ini hanya dilewati oleh masyarakat yang hendak ke Keraton atau kompleks kawasan Indische pertama di Jogja seperti Loji Besar (Benteng Vredeburg), Loji Kecil (kawasan di sebelah Gedung Agung), Loji Kebon (Gedung Agung), maupun Loji Setan (Kantor DPRD).

Namun keberadaan Pasar Gede atau Pasar Beringharjo di sisi selatan serta adanya permukiman etnis Tionghoa di daerah Ketandan lambat laun mendongkrak perekonomian di kawasan tersebut. Kelompok Tionghoa menjadikan Malioboro sebagai kanal bisnisnya, sehingga kawasan perdagangan yang awalnya berpusat di Beringharjo dan Pecinan akhirnya meluas ke arah utara hingga Stasiun Tugu.

Melihat Malioboro yang berkembang pesat menjadi denyut nadi perdagangan dan pusat belanja, seorang kawan berujar bahwa Malioboro merupakan baby talk dari “mari yok borong”. Di Malioboro Anda bisa memborong aneka barang yang diinginkan mulai dari pernik cantik, cinderamata unik, batik klasik, emas dan permata hingga peralatan rumah tangga.

Bagi penggemar cinderamata, Malioboro menjadi surga perburuan yang asyik. Berjalan kaki di bahu jalan sambil menawar aneka barang yang dijual oleh pedagang kaki lima akan menjadi pengalaman tersendiri.

Aneka cinderamata buatan lokal seperti batik, hiasan rotan, perak, kerajinan bambu, wayang kulit, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, asesoris, hingga gantungan kunci semua bisa ditemukan dengan mudah. Jika pandai menawar, barang-barang tersebut bisa dibawa pulang dengan harga yang terbilang murah.

Selain menjadi pusat perdagangan, jalan yang merupakan bagian dari sumbu imajiner yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Kraton Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi ini pernah menjadi sarang serta panggung pertunjukan para seniman Malioboro pimpinan Umbu Landu Paranggi.

Dari mereka pulalah budaya duduk lesehan di trotoar dipopulerkan yang akhirnya mengakar dan sangat identik dengan Malioboro. Menikmati makan malam yang romantis di warung lesehan sembari mendengarkan pengamen jalanan mendendangkan lagu “Yogyakarta” milik Kla Project akan menjadi pengalaman yang sangat membekas di hati.

Malioboro adalah rangkaian sejarah, kisah, dan kenangan yang saling berkelindan di tiap benak orang yang pernah menyambanginya. Pesona jalan ini tak pernah pudar oleh jaman. Eksotisme Malioboro terus berpendar hingga kini dan menginspirasi banyak orang, serta memaksa mereka untuk terus kembali ke Yogyakarta.

Seperti kalimat awal yang ada dalam sajak Melodia karya Umbu Landu Paranggi “Cintalah yang membuat diriku betah sesekali bertahan”, kenangan dan kecintaan banyak orang terhadap Malioboro lah yang membuat ruas jalan ini terus bertahan hingga kini.

Wisatawan lokal, Dedi contohnya ia hanya sekedar jalan-jalan untuk mengisi liburan kuliah bersama beberapa teman-temannya di sini. “Saya sudah lama ingin ke tempat ini (Jogja) di karnakan tempatnya enak buat liburan dan banyak tempat buat nongkrong di karenakan Jakarta sudah sumpek sama kemacetan dan polusi udara,” katanya.

Begitu pun turis asing yang berasal dari Belanda, Van Joberg yang lancar berbahasa Indonesia ia sudah beberapa kali ke tempat ini di karenakan sangat terkenal di negaranya dan banyak sekali kraton-kraton yang bagus untuk di foto dan story kraton yang menarik, saya hanya liburan untuk mengajak anak dan istri untuk sekedar mengetahui daerah DIY ini, ujarnya.

Pedagang asesoris dan baju Sugianti (30) di Jalan Malioboro setiap hari sampai kebanjiran pengunjung untuk sekedar melihat-lihat dan membeli, omset perhari ia mendapatkan 500-700 ribu rupiah, “apa lagi musim liburan bisa lebih, ujar wanita berkulit hitam itu.

Kota pelajar Yogyakarta (DIY) memang sangat yaman untuk di kunjungi berlibur atau sekedar ingin tau di karnakan tempat yang yaman dan aman dari premanisme ini memang tiada habisnya memberikan servis kepada para pengunjung dari berbelanja, nongkrong sampai tempat tinggal. (machda/ridwan)