Angkasa Pura 2

Tahun 2015 Kereta Commuter Line Layani Jakarta – Cikarang

EmplasemenJumat, 30 Agustus 2013
ariief heryantro-edit

JAKARTA (beritatrans.com) – Double-double track (rel dwiganda) Manggarai – Cikarang, di segmen Bekasi – Cikarang sepanjang 17 kilometer mulai dikerjakan. Saat ini, tim masih survey dan pengukuran untuk pembangunan persinyalan.

Direktur Prasarana Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Arief Heryanto mengemukakan setelah survey dan pengukuran, terutama posisi stasiun, maka kontraktor bisa segera menggelar pekerjaan konstruksi elektrifikasi.

“Program DDT Manggarai – Cikarang tersebut terbagi dalam beberapa paket pekerjaan. Paket A1 (modernisasi Stasiun Manggarai dan pekerjaan jalur jarak jauh menuju Matraman), Paket A2 (modernisasi St. Jatinegara dan pembangunan St. Matraman), Paket B1 (elektrifikasi Bekasi-Cikarang) dan B2 (pembangunan DDT Jatinegara-Bekasi). Pembangunan DDT ini akan meningkatkan dua kali lipat operasional kereta,” jelas Arief Heryanto kepada beritatrans.com, Jumat (30/8/2013).

Dengan demikian, pembangunan jalur baru hanya di koridor Manggarai – Bekasi, sedangkan Bekasi- Cikarang hanya berupa pembangunan elektrifikasi. “Pembangunan jalur baru tersebut mengingat begitu tinggi arus penumpang KA commuter line di koridor Bekasi – Manggarai. Jadi kita pisahkan kereta komuter dengan kereta jarak jauh,” ungkapnya.

Sedangkan pembangunan eletrifikasi hingga Cikarang, Arief Heryanto menjelaskan karena kereta komuter akan ditembuskan operasionalnya hingga Cikarang. “Pembangunan elektrifikasi untuk Cikarang – Bekasi diharapkan selesai sekitar November 2015. Begitu selesai maka kereta komuter dari Jakarta beroperasi sampai Cikarang,” tuturnya.

Sejauh ini, dia mengemukakan pembebasan lahan proyek itu masih terus diproses untuk dituntaskan di sejumlah lokasi. Proyek itu diharapkan selesai pada 2016 mendatang setelah pengerjaan selama 45 bulan tersebut.

TERBITKAN SUKUK
Sebelumnya, Dirjen Perkeretaapian Tundjung Inderawan mengemukakan pembiayaan proyek tersebut ditutupi melalui sukuk (pinjaman lunak melalui perbankan). Penggunaan Sukuk dikarenakan pinjaman lunak yang diberikan pemerintah Jepang melalui JICA Rp8,3 tgriliun dan dana APBN yang dimiliki pemerintah tidak mencukupi lagi untuk menyelesaikan proyek pembangunan tersebut.

“Pada dasarnya Sukuk sama seperti APBN. Penggunaannya dilakukan dalam penyelesaian proyek pembangunan DDT dan Stasiun antara Manggarai – Jatinegara yang disebut sebagai paket A, dan pembangunan DDT antara Jatinegara – Bekasi yang disebut sebagai paket B2-2,” jelasnya.

Dia menjabarkan perkembangannya saat ini, untuk pembangunan DDT Manggarai – Jatinegara (paket A), pengadaan lahan telah selesai 99 persen. Sementara pembangunan DDT paket B2-2 atau Jatinegara – Bekasi yang dimulai sejak 2012 sudah memasuki pembangunan badan jalan dan jembatan KA.

“Dari total Rp1,5 Triliun, pencairan Sukuk bagi kedua paket tersebut, dibagi dalam dua periode. Periode pertama, yakni 2013 pinjaman lunak yang dicairkan sebesar Rp800miliar, dan sisanya Rp700miliar diturunkan pada 2014,” katanya.(aw).

loading...