Angkasa Pura 2

Presiden INSA Carmelita: Perkuat Rupiah

Ekspor Gunakan CIF Suntik Devisa Miliaran Dolar

FigurSelasa, 3 September 2013
carmelita

JAKARTA (beritatrans.com) – Dalam kondisi depresiasi nilai rupiah terhadap dolar AS seperti sekarang ini, Kementerian Perdagangan bisa berperan besar mengatasinya dengan mewajibkan transaksi perdagangan komoditas ekspor menggunakan mekanisme pembayaran CNF atau CIF.

“Terutama komoditas batubara, yang merupakan kekayaan alam dan tidak bisa diproduksi secara mekanis. Kalau ekspor batubara diubah dari FOB ke CNF atau CIF, Indonesia bisa mendapat minimal 2,1 miliar dolar setiap tahun,” tutur Presiden INSA (Indonesia National Shipowners Association) Carmelita Satoto kepada beritatrans.com, kemarin.

Devisa miliaran dolar itu didapat dari kalkulasi ekspor batubara 300 juta ton setahun dikalikan dengan asumsi biaya angkut dan asuransi dengan tarif minimal 7 dolar AS. “Walaupun negara tidak secara langsung menerima duitnya, tetapi sudah tercatat dalam neraca perdagangan nasional,” jelas pengurus KADIN tersebut.

Carmelita mengingatkan pendapatan segede itu baru dari satu komoditas, belum dari komoditas ekspor lainnya seperti nikel. “Kalau diakumulasi maka bisa puluhan miliar dolar AS. Ini tambahan devisa setiap tahun. dengan semakin tingginya angka devisa maka menguatkan secara fundamental nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Selain itu, pemilik gelar Master of Business Administration (MBA) Finace dari Webster University, AS, tersebut menyatakan perubahan dari FOB ke CNF atau CIF akan memberikan pasar tersendiri bagi perusahaan pelayaran dan perusahaan asuransi nasional. Berbeda dengan FOB, dengan CNF atau CIF, maka terbuka bagi perusahaan nasional untuk ikut menikmati pasar tersebut.

“Pada kelanjutannya memang industri dalam negeri menjadi bangkit. Kebangkitan industri dalam negeri ini multiefek, termasuk meningkatkan kesejahteraan penduduk,” tegasnya.

Sayanya, dia mengemukakan Kementerian Perdagangan sejauh ini masih belum bergeming untuk mengubah skema transaksi perdagangan ekspor dari FOb ke CNF atau CIF. Akibatnya, devisa malah melayang ke luar negeri.

Padahal INSA dan asosiasi lainnya sudah berulangkali diskusi dengan Kementerian Perdagangan dan Bappenas. Bahkan, sudah sepakat dengan Kementerian Perdagangan. Namun kementerian tersebut tak kunjung menerbitkan peraturan menteri (permen). “Kalau cuma kesepakatan, tidak mengikat sama sekali. Harus diwajibkan sehingga ada sanksinya,” tegas Carmelita Satoto.

Bos Andhika Lines tersebut menegaskan bila Kementerian Perdagangan masih belum juga menerbitkan permen, maka pemerintah didesak untuk menerbitkan instruksi presiden (inpres). “Biar lebih greget lagi, terutama dalam menggelembungkan devisa negara,” cetusnya.

Sekadar diketahui bahwa dalam perdagangan luar negeri dikenal mekanisme pembayaran FOB = Free On Board, artinya pihak eksportir hanya bertanggung jawab sampai barang berada di atas kapal (vessel).

DEFINISI
Selain itu, CNF= Cost and Freight biasa disebut juga CFR, artinya pihak eksportir bertanggung jawab juga terhadap biaya pengiriman sampai pelabuhan negara tujuan. Juga mekanisme CIF= Cost, Insurance, Freight, artinya CNF + Insurance (Asuransi) ditanggung oleh eksportir. Secara statistik penggunaan metode CIF dapat mengurangi defisit transaksi berjalan hingga delapan persen dari total ekspor.

Selama ini jasa pengiriman ekspor Indonesia menggunakan metode pembayaran jasa FOB yang berarti pembayaran jasa pengiriman ekspor diurus oleh negara importir. Ini berarti devisa yang dibayarkan untuk jasa-jasa itu masuk ke negara importir yang menyediakan jasa-jasa itu. Yang dimaksud dengan jasa pengiriman ekspor mulai dari jasa pengapalan, asuransi dan sejenisnya.

Sementara itu penggunaan metode CIF dinilai cukup efisien dalam arti dapat menghemat devisa hingga sampai delapan persen dari nilai ekspor. Metode CIF yang dimaksud adalah seluruh jasa pengiriman akan diurus oleh negara pengirim, yaitu eksportirnya.

Dengan begitu, devisa untuk pembayaran akan masuk ke kas negara yang menjadi mitra dagang. Penggunaan metode CIF dalam mengekspor, berarti seluruh penyediaan kapal, asuransi dan jasa lainnya akan diurus oleh Indonesia, sehingga devisa untuk itu dibayarkan kepada perusahaan Indonesia.(awe).