Angkasa Pura 2

Wamenhub Optimistis Rel Ganda Cirebon – Surabaya Selesai Akhir Tahun

EmplasemenSelasa, 3 September 2013
Bambang Soesantono

Cirebon (beritatrans.com) – Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Bambang Soesantono mengaku optimistis pembangunan jalur ganda rel kereta api Cirebon – Surabaya sepanjang 436 km selesai pada Desember 2013. Hingga akhir Agustus 2013 ini, progres pekerjaan kontruksi rel telah mencapai 90 persen.

“Tinggal beberapa spot yang masih terhambat oleh pembebasan lahan,” kata Wamenhub saat meninjau proses pembangunan jalur ganda Cirebon – Surabaya, di Cirebon, Jawa Barat, Selasa (3/9).

Jalur ganda Cirebon – Surabaya sepanjang 436 km ini dibangun dengan dana APBN dengan pagu tahun anggaran 2013 sebesar Rp6,2 triliun. Sedangkan total anggarannya mencapai Rp9,3 triliun. Proses pembangunan dilakukan dengan beberapa segmen, yakni segmen Cirebon – Brebes Jawa Tengah, Pekalongan – Semarang, Semarang – Bojonegoro, dan Bojonegoro – Surabaya.

Bambang mengatakan, meskipun proses pengerjaan belum selesai secara keseluruhan, tetapi di beberapa segmen sudah ada yang dioperasikan. Totalnya mencapai 71 km. Diantaranya Segmen Cirebon – Brebes yaitu jalur Stasiun Cirebon Prujakan – Stasiun Waruduwur sepanjang 9 km.

“Jalur ini dioperasikan pada 4 Juli 2013 kemarin,” kata Wamenhub.

Sebelumnya, lanjut Wamenhub, jalur ganda antara Stasiun Waruduwur, Cirebon, Jawa Barat hingga Stasiun Losari, Brebes, Jawa Tengah sepanjang 24 dioperasikan pada 17 Juni 2013.

“Sayang pembangunannya terputus sekitar 400 meter di daerah Losari. Masih ada sekitar 22 kepala keluarga yang belum bersedia pindah,” kata Bambang yang didampingi Plt Dirjen Perkeretaapian Budi M Suyitno, Direktur Prasarana Perkeretaapian Arief Heryanto, dan Direktur Sarana Perkeretaapian Sugiadi Waluyo.

Pada segmen Pekalongan – Semarang Jawa Tengah, yakni jalur ganda antara Stasiun Pekalongan hingga Stasiun Ujungnegoro sepanjang 14 km mulai dioperasikan pada 3 Juli. Kemudian pada 28 Agustus lalu, jalur antara Stasiun Alastua hingga Stasiun Gubug sepanjang 24 km resmi beroperasi.

“Sehingga dari total 436 km rencana pembangunan double track, kini tinggal 365 km yang belum bisa dioperasikan. Sisanya tinggal menunggu elektrifikasi dan penyelesaian pembebasan tanah di beberapa spot tadi,” ujar Bambang.

Menurut Bambang ke 22 KK warga Losari yang belum bersedia pindah karena mereka meminta dibayar sekitar Rp1,5 juta per meter persegi. Sedangkan harga pasaran di wilayah tersebut Rp500 ribu per meter persegi.
“Jadi mereka minta jauh di atas harga pasaran. Padahal sesuai hasil penilaian tim apraisal, kita bersedia membayar tanah mereka dengan harga Rp800 ribu per meter persegi,” ujarnya.

Selain di Losari, masih ada beberapa spot yang warganya belum bersedia pindah. Tetapi yang paling banyak adalah di Losari. Di spot-spot lain hanya ada sekitar satu atau dua KK yang masih bertahan.

“Makanya dalam setiap kunjungan lapangan, kami selalu mengajak pihak-pihak terkait seperti BPN (Badan Pertanahan Nasional, red), pejabat pemerintahan setempat, LSM dan yang lainnya,” tutur Bambang.

Ia berharap kepada semua pihak, termasuk masyarakat yang terkena pembebasan lahan untuk turut mendukung program nasional tersebut. Sebab, dengan beroperasinya jalur ganda Jakarta – Surabaya sepanjang 727 km itu, banyak manfaat yang akan dirasakan.

“Termasuk manfaat yang dirasakan oleh masyarakat di daerah-daerah yang dilalui jalur ganda ini. Tinggkat perekonomian di daerah-daerah itu akan turut berkembang,” kata Bambang.

Menurut Bambang, bila proyek ini selesai dan dioperasikan, sebagian beban jalan raya pantura bisa dialihkan ke moda kereta api, terutama angkutan truk logistik yang selama ini memadati pantura. Kapasitas angkutan kereta penumpang pun bisa ditambah antara dua hingga tiga kali lipat dari sekarang. PT KAI saat ini sedang memesan sekitar 100 lokomotif dan gerbong kereta untuk penumpang.

“Dampak lainnya, bisa menurunkan tingkat kecelakaan, penghematan energi, penurunan polusi, dan tentu saja efisiensi,” ujarnya. (aliy)