Angkasa Pura 2

Pesawat N219 Sudah Dilirik Banyak Negara

KokpitKamis, 5 September 2013
pesawat N219

JAKARTA (beritatrans.com) — PT Dirgantara Indonesia (PT DI) sedang mengembangkan pesawat berbadan ringan N219. Namun produksi pesawat N-219 harus mampu bersaing dengan rival beratnya tipe Twin Otter buatan Kanada. Sebab, tidak mudah untuk masuk pasar sejenis.

“Pesawat ini 100% dirancang dan dibuat putra-putri Indonesia di Bandung, Jawa Barat. Terus dikembangkan agar berbeda saat pembuatan pesawat baling-baling N250 pada tahun 1980-an akhir hingga dipamerkan ke publik pada tahun 1995. Saat itu, PTDI harus mendatangkan tenaga ahli dari asing untuk mengembangkan pesawat asli buatan Indonesia yang pertama,” tegas Direktur Utama PT DI Budi Santoso, Rabu (4/9/2013).

Diakui Budi, meski N219 tidak begitu besar. Mungkin perbedaannya N250 dulu yang dikembangkan belum punya ilmu. Jadi, kita datangkan orang bule untuk di adobsi atau ilmunya dicontek. Kalau sekarang yang tua-tua dikumpulin lalu ngajarin yang muda-muda. Sekarang nggak ada bulenya (pengembangan N219.

Menurut dia, pesawat N219 nantinya akan menjadi pesaing dari pesawat Twin Otter yang telah dirancang sejak tahun 1960-an. Menurutnya dengan desain dan teknologi terbaru, pesawat N219 mampu bersaing. Harus diakui pasar pesawat berbadan kecil terbesar datang dari Indonesia.

“Di Indonesia masih banyak tempat. Kenapa market Indonesia yang besar nggak dimaksimalkan. Market terbesar kedua Australia, kemudian di Afrika, dan lain-lain. Kita market terbesar jadi harus manfaatkan pasar besar ini,” katanya.

Disebutkan Budi, ada beberapa negara yang mulai melirik dan berminat membeli pesawat yang akan diluncurkan pada akhir 2014 ini. Namun karena barangnya belum ada saya belum bisa bilang.

Ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI) Persero, Budi Santoso mengaku dirinya bertemu Dahlan karena Menteri BUMN tersebut sudah melobi IDB di Mekkah, yang berbuah kredit ekspor buat PTDI.

“Kompetitor Twin Otter, desain pesawatnya sejak tahun 1960 tapi sampai sekarang masih tetap bisa bertahan seperti itu. Mereka masuk di pasar yang berat,” jelasnya.

Pesawat ringan N-219 sejatinya diproduksi untuk mengisi kebutuhan pasar dunia terhadap pesawat angkut sejenis. Sehingga perlu waktu untuk bisa merebut pasar yang selama ini dikuasai Twin Otter.

“Kalau bisa memproduksi dan menjual N-219 sebanyak 100 unit saja sudah hebat karena kami akan masuk ke pasarnya Twin Otter. Sedangkan Boeing atau Airbus bisa menjual ribuan dan pesawat ATR ratusan unit,” papar Budi.

Dia mengaku, pasar terbesar N-219 adalah di Indonesia mengingat negara ini mempunyai potensi pasar yang cukup besar dan dapat dimaksimalkan dengan baik.

“Pasar terbesar kedua, diantaranya negara Australia dan Afrika. Makanya beberapa negara sudah tertarik membeli (N-219) tapi saya belum bisa bilang karena produknya belum ada,” ujarnya.

Budi mengemukakan, kita sekadar berpikir teknologi. Sebab, hal itu akan sangat bergantung pada pemerintah. Kalau pemerintah dalam kondisi tidak baik, kami bisa ikut mati. “Jadi jangan lagi berpikir teknologi, tapi ke pasar,” tandas dia.

Sebelumnya, Budi berencana memperkenalkan pesawat terbang ringan N-219 ke hadapan publik pada tahun 2015. Pesawat tersebut didesain dengan kapasitas penumpang sekitar 19 orang serta diperlukan untuk menghubungkan daerah-daerah terpencil dengan landasan pacu pendek. (machda)

loading...