Angkasa Pura 2

Bertarif Rp200.000, Kereta Supercepat Melayang Jakarta – Cirebon Lewat Bandung

EmplasemenSelasa, 17 September 2013
kereta supercepat

JAKARTA (beritatrans.com) – Jalur kereta api (KA) supercepat di koridor Jakarta – Surabaya akan dibangun dengan seluruh konstruksi melayang (elevated). Untuk rute Jakarta-Cirebon, melintasi jalur selatan yakni lewat Bandung, dengan waktu tempuh sekitar 70 menit.

Direktur Lalu Lintas dan Angkatan Kereta Api Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Hanggoro Budi Wiryawan menuturkan sudah ada dua negara yakni Jepang dan Cina menyatakan amat berminat untuk investasi sekaligus mengoperasikan kereta supercepat yang mampu melaju hingga 300 kilometer/jam tersebut.

Jepang, dia menjelaskan bahkan sudah menggelar feasibility study, yang antara lain merekomendasikan jalur dibangun elevated, dan untuk koridor Jakarta – Cirebon tidak melewati jalur pantura, tetapi melintas ke selatan yakni melewati Bandung, Sumedang dan Majalengka.

Pilihan kepada jalur selatan itu, Hanggoro menuturkan karena bisa terintegrasi dengan Bandara Kertajati, Majalengka, sehingga terjadi integrasi moda, yang berpotensi kepada saling memberikan manfaat terutama dalam hal penumpang.

Pertimbangan demand juga diperkuat oleh tingginya mobilitas masyarakat. Data menunjukkan kawasan Karawang, Purwakarta, Bandung, Sumedang dan Majalengka memberikan kontribusi 18 persen penumpnag pesawat di Bandara Soekarno – Hatta.

“Dengan lewat selatan, diperkirakan ada 57.000 penumpang per hari pada tahun 2020. Sedangkan bila lewat pantura, Jakarta – Cirebon hanya 17.000 penumpang per hari pada tahun 2020. Jauh sekali bedanya. Karena itu, secara ekonomis, jauh lebih menguntungkan lewat jalur selatan,” jelasnya kepada beritatrans.com, Selasa (17/9/2013).

Dana yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur kereta Jakarta – Cirebon melewati Bandung sepanjang 256 kilometer tersebut, dia mengungkapkan Rp83,5 triliun. Sedangkan bila melewati jalur pantura dengan panjang 207,3 kilometer, dibutuhkan dana Rp67,2 triliun.

Hanggoro Budi Wiryawan mengemukakan investor mengajukan tarif Rp200.000/penumpang untuk koridor Jakarta – Bandung – Cirebon. “Tarif ini diajukan tahun 2012. Artinya sebelum kurs dolar naik dan harga BBM disesuaikan,” ungkapnya.

DARI DUKU ATAS
Mengenai stasiun kereta api supercepat di Jakarta, Hanggoro mengungkapkan direncanakan di kawasan Duku Atas. “Sejak awal, kami memang mem-planning kawasan Duku Atas menjadi stasiun sentral untuk seluruh kereta, termasuk monorail, MRT, commuter line, kereta bandara, kereta jarak jauh dan kereta supercepat. Stasiun ini juga terkoneksi dengan busway,” ungkapnya.

Kalangan investor bersedia membangun infrastruktur kereta supercepat dengan sistem paket. “Paket ini dimaksudkan yakni investor membangun stasiun terpadu, membangun jaringan jalur dan pengadaan kereta, termasuk juga pembebasan lahan,” ujarnya.

Investor diberi kompensasi untuk mengelola kawasan terpadu tersebut dalam waktu tertentu. “Skemanya terserah saja, karena proyek ini diharapkan b to b (business to business). Kepentingan pemerintah hanya infrastuktur itu bisa segera dibangun dan melayani rakyat dengan tarif terjangkau,” ujarnya.

Untuk investor dari Jepang bahkan memprogramkan pembangunan bisa dimulai tahun 2014. Dalam tempo lima tahun bisa diselesaikan, lalu dioperasikan. “Rencana pembangunan infrastuktur tersebut, sudah dibahas dengan Pemprov DKI Jakarta dan Bappenas. “Insya Allah, tinggal finalisasinya saja,” jelasnya.(aw).